Yamaha Mio S

PVMBG: Larangan Aktivitas 500 Meter dari Kawah Tangkuban Parahu Belum Dicabut

  Minggu, 28 Juli 2019   Mildan Abdalloh
Kondisi pascaerupsi di Kawah Ratu, Gunung Tangkuban Parahu, Subang, Sabtu (27/7/2019). (Kavin Faza/ayobandung.com)

LEMBANG, AYOBANDUNG.COM-- Pengelola Taman Wisata Alam Gunung Tangkuban Parahu berencana akan membuka aktivitas wisata, Senin (29/7/2019).

Direktur Utama PT Graha Rani Putra Persada (GRPP) Putra Kaban mengatakan rencana pembukaan aktivitas wisata tersebut karena berdasarkan rekomendasi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) yang menyebut bila status pada level 1 atau normal.

"Rekomendasinya kan normal. Insya Allah besok akan buka. Tapi waktunya belum kami tentukan, mungkin bertahap dari Jayagiri dulu," tutur Putra Kaban, Minggu (28/7/2019).

Saat ini pihaknya tengah melakukan pembersihan kawasan TWA Tangkuban Parahu dari debu yang diakibatkan erupsi pada Jumat (26/7/2019).

"Malam ini kami bersihkan, besok semua sudah bersih," katanya.

Sementara itu, Kepala Bidang Mitigasi Gunung Api PVMBG, Hendra Gunawan mengatakan rekomendasi yang dikeluarkannya memang menyatakan Gunung Tangkuban Parahu berstatus level 1 atau normal.

Namun dalam rekomendasi juga disebutkan ada larangan aktivitas manusia radius 500 meter dari pusat kawah. Artinya, tidak boleh ada aktivitas manusia di bibir kawah.

"Kami secara resmi menyampaikan rekomendasi dari kantor kami. Selama belum ada evaluasi, yang masih dipegang rekomendasi terakhir," ujarnya.

Dia mengatakan aktivitas vulkanik Gunung Tangkuban Parahu sudah terlihat menurun. Namun, kondisinya belum bisa dipastikan stabil.

"Ibarat orang habis dioperasi, kan dokter tidak langsung menyatakan sembuh. Harus dilihat dulu apa sudah stabil atau tidak," katanya.

Menurutnya, banyak hal yang harus dievaluasi untuk menentukan rekomendasi memperbolehkan aktivitas manusia di sekitar kawah. Salah satunya adalah data deformasi yang meliputi kandungan udara di sekitar kawah.

"Evaluasi baru dilakukan setelah data lengkap. Salah satunya data dari sekitar kawah," tegasnya.

Untuk melakukan pemeriksaan deformasi, diharuskan mengirimkan petugas ke kawah untuk mengambil data dari dua reflektor yang ada di dasar kawah. Untuk mengambil data dari masing-masing reflektor memang hanya membutuhkan waktu 30 menit. "Itu juga kalau Pak Ilham (petugas pemantau PVMBG) berani," imbuhnya.

Namun karena kondisi vulkanik Tangkuban Parahu masih belum stabil, pihaknya sampai Minggu (28/7/2019) sore belum melakukan pemantauan visual kawah.

Dia memaparkan, gunung api yang sedang aktif berpotensi mengeluarkan gas beracun yang berbahaya bagi manusia.

"Dengan ada rekomendasi, ituĀ untuk melindungi, makanya jangan mendekat. Banyak yang berbahaya, terutama gas beracun. Gas tertentu tidak berbau dan berwarna. Kami tidak tahu (apakah ada atau tidak gas beracun di Tangkuban Parahu), makanya tidak ke sana," paparnya.

Di dasar kawah memang tersimpan alat untuk mendeteksi adanya gas beracun yang dikeluarkan dari gunung api, namun harus diambil secara manual oleh petugas.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar