Yamaha Aerox

Kisah Lampau Toleransi Kampung Pecinan Cirebon

  Kamis, 25 Juli 2019   Erika Lia
Sesepuh warga Tionghoa Cirebon, Indrawati atau Gouw Yang Giok (kanan) bersama Filolog Cirebon, Rafan Hasyim (kiri) saat berbincang dengan Ayocirebom.com di kediaman Indrawati di Kampung Pecinan Cirebon, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. (Erika Lia/Ayocirebon.com)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Orde baru menjadi masa blackout bagi warga Tionghoa se-Indonesia. Warisannya berpotensi menjadi ancaman atas identitas kecarubanan (percampuran) di Cirebon.

Salah satu sesepuh warga Tionghoa di Kampung Pecinan, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Indrawati atau Gouw Yang Giok (75) mengingat, percampuran etnis yang telah ada sejak kampung pecinan berdiri membuat mereka hidup harmonis. Mereka bahkan melewati bersama masa-masa penjajahan Belanda maupun Jepang, hingga pasca kemerdekaan.

"Di Cirebon kan obrog (tradisi membangunkan orang untuk sahur dengan memainkan alat musik atau memutar rekaman musik seraya berkeliling kampung). Dulu kita (warga Tionghoa) juga ikutan, termasuk pas takbiran," ungkap perempuan yang akrab disapa Ibu Giok atau Ci Giok itu, belum lama ini ditemui ayocirebon.com.

Tak hanya obrog dan takbiran, kecarubanan atau percampuran juga berlaku saat Imlek ketika warga pribumi bersama-sama menyiapkan perayaannya. Begitu juga dengan kegiatan keagamaan lain, seperti doa di gereja.

Dengan kata lain, nyaris tiada perbedaan yang ditajamkan hingga membuat kehidupan di kampung pecinan senyaman rumah. Bahkan, kedamaian terus mereka rasakan ketika reformasi bergulir sekitar 1998.

Di saat warga Tionghoa di sejumlah daerah di Indonesia menerima tekanan sosial akibat perekonomian yang memburuk, kehidupan di kampung ini tidaklah terpengaruh. Indrawati meyakinkan, suasana harmonis tetap terjaga.

"(Di sini) tidak terpengaruh (konflik sosial 1998). Aman-aman saja, kami harmonis dan damai di sini," ujarnya.

Namun, selama 32 tahun pada masa orde baru mereka sempat kehilangan identitas. Eksistensi mereka nyaris tanpa kesadaran, ketika bentuk-bentuk kebudayaan Tionghoa tak diizinkan mencuat vulgar di hadapan publik.

Kondisi sosial selama 32 tahun, menurut Indrawati, menyebabkan generasi muda Tionghoa saat ini hampir buta terhadap kebiasaan-kebiasaan campuran yang pernah dilakukan sesepuh-sesepuh mereka dulu. Tiada lagi obrog atau takbiran bersama yang dilakukan generasi muda Tionghoa saat ini bersama warga lain, salah satunya pribumi.

"Tiga puluh dua tahun kami kehilangan identitas, sehingga sekarang generasi muda kita tak seperti dulu. Sulit menyatukan budaya campur seperti dulu," cetusnya.

Tak ingin kehilangan kehidupan harmonis nan nyaman, Indrawati mengaku, para senior warga Tionghoa pun berupaya merangkul seluruh generasi melalui kegiatan-kegiatan yang mereka lakukan. Salah satu upaya yang dilakukan Indrawati sendiri dengan membuka balai gamelan pada sebuah kafe di Kota Cirebon.

Selain itu, untuk menjaga hubungan baik dengan warga lain, mereka pun berupaya mengembangkan sikap toleransi dan saling menghargai antar sesama. Kunjungan silaturahmi atau sowan saat lebaran, misalnya, tak jarang mereka lakukan kepada warga lain.

"Saya suka sowan kalau mau lebaran, termasuk ke pesantren Buntet dan Kempek (di Kabupaten Cirebon)," bebernya.

Meski kehidupan sosial politik mereka pasang surut, satu yang tak berubah sejak dulu hingga kini adalah bagaimana mereka menghidupi diri. Secara umum, warga Tionghoa dikenal sebagai pedagang.

"Kami tak akan lari dari berdagang. Mulai dari dagang sembako sampai agen pengiriman barang," katanya.

AYO BACA : Lipkhas Kampung Pecinan Cirebon: Pendaratan Cheng Ho dan Warisan Masa Blackout Atas Kecarubanan

Aktivitas inilah yang dijumpai di kampung pecinan. Bersama warga lainnya, kampung pecinan menjadi salah satu pusat niaga teramai di Kota Cirebon. Kondisi ini tak lepas pula dari keberadaan Pasar Kanoman yang ada di Jalan Kanoman sebagai salah satu area kampung pecinan.

Mulai dari ikan asin hingga kain, aktivitas dagang yang dilakoni warga Tionghoa menjadi salah satu pendukung terbesar perekonomian di Kota Cirebon. Perdagangan menjadi salah satu bentuk hubungan harmonis yang tercipta hingga sekarang.

"Bahan bakunya kami ambil dari warga pribumi, misalnya ikan asin, beras, sampai batu bata," kata ibu tiga anak dan nenek bercucu satu orang ini.

Dia mengatakan, kegiatan perdagangan di kampung pecinan itu pernah mengalami masa jaya sekitar 1955. Ketika itu, bahan-bahan seperti sembako, kacang kedelai, dan lainnya melimpah, dengan harga yang bagus.

Tak hanya perdagangan, sebut Indrawati, perkawinan pun juga menjadi bentuk lain hubungan harmonis yang tercipta di sana. Bahkan, selain dengan warga pribumi dan lainnya, keserasian juga berlaku antara warga Tionghoa dengan keluarga Keraton Kanoman Cirebon yang berada di Jalan Kanoman.

Indrawati mengemukakan, generasi terdahulunya bahkan pernah menikah dengan kerabat Keraton Kanoman. Dengan kata lain, selain darah Tionghoa, mengalirlah pula darah keraton Cirebon dalam dirinya.

"Kami punya hubungan yang baik juga dengan keraton," tuturnya.

Saat ini, setidaknya 120 kepala keluarga tinggal di kampung pecinan Cirebon. Secara umum, sedikitnya 15% penduduk Kota Cirebon merupakan warga Tionghoa.

Dalam kesempatan yang sama, Filolog Cirebon, Rafan Hasyim mengungkapkan, fenomena nyaris kehilangan identitas di kalangan generasi muda Tionghoa, nyatanya tak hanya terjadi Cirebon. Dia menggarisbawahi hal semacam ini juga dialami secara umum sebagai imbas pengaturan pihak luar Cirebon, salah satunya kebijakan politik pemerintah saat itu.

"Ada setting dari pihak luar, kejadiannya tak hanya terjadi di Cirebon," sebutnya.

Pria yang akrab disapa Ofan ini tak menampik, masa blackout yang membuat generasi muda nyaris kehilangan identitasnya, berpotensi berpengaruh terhadap identitas kecarubanan yang bercampur harmonis.

Namun, menurutnya, pengaruh itu tak akan besar mengingat generasi tua Tionghoa sudah melakukan beragam upaya menggandeng generasi muda agar identitas kecarubanan tak hilang. Bahkan, tak sedikit generasi muda Tionghoa yang kini telah mulai berkumpul dan berkegiatan bersama warga lainnya, baik dari etnis lain maupun agama lain.

"Ada pengaruhnya, tapi nggak begitu besar sebab generasi muda sekarang sudah banyak yang sering kumpul, misalnya kelompok Pelita di Cirebon," ujarnya.

Dia mengingatkan, sejak dulu sampai sekarang, Cirebon dikenal dengan percampurannya. Percampuran inilah yang telah membentuk budaya Cirebon sendiri.

"Cirebon itu berasal dari kata Carbon yang diubah dari kata Caruban. Caruban sendiri berasal dari kata Carub yang diambil dari kata Sarumban dengan arti campuran. Maka, Cirebon atau Caruban berarti campuran," terangnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar