Yamaha

Sungai Cileungsi Tercemar, Hantu Bagi Bekasi

  Senin, 22 Juli 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Kondisi permukaan Kali Bekasi pada tahun 2019 tertutupi busa akibat pencemaran limbah, Rabu (17/10/2018).

BEKASI, AYOBANDUNG.COM -- Setelah sekian lama, Sungai Cileungsi sebagai salah satu hulu pada aliran Kali Bekasi kembali terlihat berwarna hitam pekat dengan bau menyengat dan dikeluhkan warga sekitar bantaran sungai. Diduga kondisi itu akibat limbah industri dan domestik mengingat peristiwa yang sama pada 2018.

Kondisi pencemaran teranyar dilaporkan Ketua Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) Puarman Kahar. Puarman yang turun langsung meninjau lokasi pada Sabtu (20/7/2019) menggambarkan ironi pada aliran di Cileungsi.

"Hitam pekat dan baunya menyengat, sampai saya harus memakai masker," ujar Puarman, Minggu (21/7/2019).

Kelamnya Kondisi Kali Bekasi Tahun 2018

Kali Bekasi sendiri merupakan sumber penghidupan kebanyakan warga, baik itu di kota maupun Kabupaten Bekasi. Namun pada 2018, Kali Bekasi sempat mengalami persoalan pada kandungan airnya akibat pencemaran di Sungai Cileungsi. Akhirnya sumber baku air olahan PDAM ini tidak dapat digunakan untuk menggenapi kebutuhan rutin masyarakat. Namun tidak hanya itu, kondisi yang buruk juga ikut berdampak pada kesehatan warga yang terpapar dengan baunya.

1. Kali Hitam dan Bau, DLH Bekasi Tutup Pabrik Pencemar

Pada 16 Agustus 2018, Pemerintah Kota Bekasi melalui Dinas Lingkungan Hidup menyegel sebuah pabrik plastik di Jalan Vila Nusa Indah RT 01 RW 06, Kecamatan Bantargebang. Pabrik berinisial VP diduga sengaja membuang limbah ke aliran Kali Bekasi.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Bekasi, Jumhana Luthfi, mengatakan, sebelum menyegel, instansinya telah berulang kali memberikan surat teguran. Karena perusahaan VP diketahui membuang limbah tidak melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).

Ketika limbah yang dibuang ke Kali Bekasi tak melalui IPAL, maka kondisinya tak akan sesuai baku mutu lingkungan memasuki aliran kali. Karena itu, limbah yang dibuang berpotensi mencemari lingkungan terutama Kali Bekasi.

Penyegelan juga merupakan bentuk tindaklanjut pelaporan warga. Awalnya warga merasa resah, lantaran kondisi Kali Bekasi beberapa bulan kebelakang berada pada kondisi buruk. Tampak tercium bau dan warnanya mulai menghitam.

2. Kali Bekasi Berbusa Putih Bak Salju Padahal Tercemar

Satu bulan selepas penutupan pabrik, pada 3 September 2018, warga Bekasi lagi-lagi digemparkan dengan fenomena Kali Bekasi yang berbusa berwarna putih bak gumpalan salju. Peristiwa tersebut nampak jelas terlihat salah satunya pada aliran Kali Bekasi di diseberang Bendung Bekasi, Bekasi Timur.

Dinas Lingkungan Hidup memberi penjelasan, fenomena kali yang berbusa merupakan peristiwa kimiawi. Pasalnya aliran kali beberapa bulan sebelumnya sudah terkena pencemaran, diduga akibat pembuangan limbah industri pada aliran kali.

Gumpalan busa dapat muncul akibat benturan ion-ion air yang tercemar saat bergulir mengalir sepanjang Kali Bekasi. Busa bisa tampak lebih parah bila terjadi hujan. Kejadian ini pun tercatat pada 3 September, 28 September, dan terparah pada 17 Oktober. Manakala itu busa putih hampir menutupi seluruh permukaan Kali Bekasi.

3. Dua Pabrik Pencemar di Bekasi Kembali Disegel

Peristiwa pencemaran yang terus berlanjut membuat Pemerintah Kota Bekasi geram. Pada 4 Oktober 2018, dua pabrik inisial PK dan PBU terciduk membuang limbah. Kemudian pemerintah melakukan penyegelan yang dipimpin langsung Wali Kota Bekasi, Rahmat Effendi.

Pabrik ditemukan mengeluarkan limbah berupa batu bara dan diduga membuannya langsung ke Kali Bekasi. Selain itu terdapat pelanggaran dokumen garis sempadan sungai (GSS), tidak adanya AMDAL, tidak adanya izin untuk limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), tidak mengoperasikan IPAL dan sejumlah pelanggaran lain. Penyegelan sendiri dilakukan sampai pabrik-pabrik tersebut memperbaiki pelanggaran-pelanggarannya.

4. 14 Industri di Cileungsi Diduga Ikut Jadi Pencemar, Ribuan Ikan Sapu Mati, Warga Diimbau Jauhi Kali

Urusan pencemaran Kali Bekasi tidak hanya sampai penindakan pabrik-pabrik diduga pencemar di Bekasi. Pada 28 September 2018, Komunitas Peduli Sungai Cileungsi-Cikeas (KP2C) menyatakan terdapat 14 perusahaan yang patut diduga ikut mencemari Kali Bekasi, tepatnya di sepanjang bantaran Sungai Cikeas, Kabupaten Bogor.

Dugaan KP2C berdasarkan penelusuran langsung di sepanjang bantaran Sungai Cileungsi. Ditemukan dugaan pembuangan limbah langsung pada aliran, sehingga sungai berubah warna menjadi hitam, juga bau pekat menusuk hidung.

Ketua KP2C, Puarman, mengungkapkan persolan pencemaran aliran Kali Bekasi maupun Cileungsi sudah sangat kompleks. Bahkan hasil penelusuran pihaknya pula, ribuan ikan sapu-sapu yang notabene merupakan biota sungai yang masih bisa hidup pada aliran air kotor, malah mati. Kematian tersebut sangat juga terlihat terjelas di Curug Parigi, Bantargebang.

Yang miris, KP2C sempatĀ  mendata 40 lebih KK di wilayah Bantargebang Bekasi dan sejumlah wilayah bantaran Sungai Cileungsi Bogor mengalami gejala muntah-muntah, pusing, begitu juga gatal-gatal pada kulit tubuh. Diduga kuat warga terkena dampak dari pencemaran akibat dekatnya ia dengan lingkungan sungai. Puarman pun sempat memberi warning, agar warga dapat menjauhi aktivitas langsung dengan kali manakala itu.

5. Akibat Limbah Kali Bekasi, PDAM Dua Kali Hentikan Produksi Air

Akibat limbah yang mencemari aliran Kali Bekasi, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirta Patriot sudah dua kali menghentikan produksi air bersih untuk masyarakat. Hal ini lantaran limbah yang mengkontaminasi air susah untuk diolah.

Kasubag Humas PDAM Tirta Patriot, Uci Indrawijaya, mengatakan produksi harus dihentikan karena kandungan limbah yang tinggi. Lebih jauh karena instalasi pengolahan air milik PDAM bukan disediakan untuk dapat mengolah limbah.

Dia mengungkapkan, produksi sempat dihentikan sehingga menngangu pelayanan setidaknya terjadi dua kali, yakni pada 11 Agustus dan 27 September. Pasokan air akhirnya sempat dihentikan dan merugikan 51 ribu pelanggan PDAM. Sekitar 20 ribu di antaranya untuk para pelanggan PDAM Tirta Bhagasasi di wilayah kota yang sebelumnya mendapat penyaluran air dari PDAM Tirta Patriot.

6. Kali Bekasi Jadi Isu Nasional

Setelah pabrik-pabrik di Kota Bekasi yang disegel, lalu muncul dugaan industri-industri di bantaran Cileungsi ikut berkontribusi pada pencemaran, akhirnya pemerintah pusat memberi atensinya.

Pada awal September, Wakil Ketua DPR RI, Fadli Zon, melakukan peninjauan langsung pada aliran Sungai Cileungsi. Hasil peninjauan lalu dibawa menjadi pembahasan di DPR RI, maupun sampai pada Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Pemerintah lalu melakukan pendataan terhadap puluhan industri di sepanjang aliran Sungai Cileungsi, maupun Kali Bekasi. Puncaknya, pada 2 Oktober, empat pabrik diduga pencemar disegel. Beberapa waktu kemudian, dua pabrik lainnya ikut disegel.

Namun pencemaran masih saja terjadi. Dampak penutupan empat industri itu hanya terasa beberapa hari. Pada 17 Oktober, kali yang kembali menghitam lantas berbuih sehingga menutupi sebagian besar permukaan Kali Bekasi.

Ketua KP2C Puarman, mengatakan pencemaran Kali Bekasi maupun di hulunya Sungai Cileungsi mesti terus dipantau. Pihaknya meminta keseriusan dari DLH untuk mengawasi pabrik-pabrik, alih-alih diduga akan tetap melakukan pencemaran bagi yang belum tertindak apalagi memasuki musim penghujan sehingga upaya pencemaran tidak akan terlalu nampak akibat debit air yang meninggi.

7. Ombudsman RI Beri Rapot Merah DLH Bogor

Lembaga pengawasan Ombudsman RI ikut serta memeriksa kondisi pencemaran Sungai Cileungsi. Ketua Ombudsman RI, Perwakilan Jakarta Raya, Teguh Nugroho, menilai DLH Kabupaten Bogor tidak kompeten dalam melakukan pengawasan terhadap izin lingkungan yang telah diterbitkan, sehingga menyebabkan terjadinya pencemaran sungai Cileungsi.

Ketidakkompetenan tersebut lantaran DLH Kabupaten Bogor tidak memiliki Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup (PPLH). Padahal petugas tersebut, memiliki tugas pokok terkait pengawasan lingkungan hidup dan penyelidikan kejahatan lingkungan.

Berdasarkan penelusuran Ombudsman, selama ini, Kabupaten Bogor hanya memiliki Pejabat Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) dalam mengawasi lingkungan. Tehuh menilai PPNS sulit untuk optimal dalam mengawasi lingkungan karena bukan tenaga khusus pengawas lingkungan.

Menurutnya, PPNS sebenarnya telah melakukan upaya penindakan terhadap perusahaan-perusahaan pencemar sungai Cileungsi dengan memberikan segel namun kenyataannya berdasarkan pantauan Ombudsman perusahaan yang disegel masih bisa beroperasi.

"Dari 48 perusahan baru 6 yang disegel tapi begitu kami datang ke lapangan mereka yang enam perusahaan itu masih beroperasi karena yang menyegel bukan PPLH tapi PPNS dan untuk sampai sekarang tidak ada lagi penindakan yang dilakukan oleh DLH," kata Teguh, Kamis (6/12/2018).

Tidak kompetennya DLH Kabupaten dalam menangani pengawasan lingkungan membuat Ombudsman mendesak pihak terkait untuk segera merumuskan penyelesaian masalah pencemaran, karena dampak pencemaran begitu buruk.

Ombudsman kemudian memberikan sejumlah rekomendasi untuk dilaksanakan yang tercatat dalam LAHP.

"Kepada pihak terkait DLH kabupaten, provinsi dan KLHK mereka harus membuat perencanaan mereka terkait penyelesaian dalam pencemaran sungai Cileungsi dan melaporkan kepada kami dalam maksimal waktu 30 hari terhitung sejak Jumat (7/12/2018)," katanya.

"Jika tidak diindahkan kami naikkan rekomendasi ke ombudsman RI pusat. Kalau sudah naik rekomendasi sifatnya mengikat kalaupun sudah mengikat mereka tidak melakukan apa-apa kami akan memintakan sanksi kepada atasan bersangkutan supaya diberikan sanksi," tambahnya.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar