Yamaha Aerox

Petani Cabai Tasik Rugi dengan Harga Pasar

  Senin, 22 Juli 2019   Irpan Wahab Muslim
Petani cabai rawit di Tasikmalaya. (Irpan Wahab/Ayotasik.com)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Sejumlah petani cabai rawit di Tasikmalaya, tidak mendapatkan keuntungan meskipun harga cabai rawit di pasaran cukup tinggi berkisar antara Rp90.000-Rp95.000 per kilogram. Petani justu dipusingkan dengan maraknya berbagai hama penyakit dan virus yang menyerang tanaman cabai rawit mereka.

Hal itu diakui Ahmad Yani, salah seorang petani warga Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Ahmad Yani menilai, tingginya harga cabai rawit di pasaran akibat banyaknya petani yang gagal panen. Tanaman cabai rawit mereka habis dan tidak berbuah akibat serangan hama dan virus.

"Ada yang baru tiga bulan tanam sudah habis dimakan hama. Harga tinggi dipasaran justru untuk kita itu bingung. Karena kita harus menjaga tanaman Cabai dengan baik dari serangan hama, "kata Ahmad Yani kepada ayotasik.com, Senin (22/7/2019).

Ditambahkan Ahmad Yani, berbagai upaya untuk membasmi hama dan virus itu sudah dilakukan oleh para petani. Namun sejauh ini hasilnya belum terbukti. Kebanyakan petani memanen lebih awal tanaman cabai mereka untuk mengurangi resiko rugi besar.

"Jangankan saya yang bodoh, penyuluh pertanian juga tidak tahu namanya penyakit atau virus itu. Kami mohon kepada pemerintah untuk membantu kami membasmi virus itu karena kalau tidak kami terus merugi," tambah Ahmad Yani.

Hal yang sama dikatakan petani cabai lainnya Dadan asal Rangjami, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Dadan menuturkan, di saat harga cabai tinggi di pasaran, ia harus menelan pil pahit karena tanaman cabai miliknya diserang hama. Akibatnya, pada musim tanam tahun ini terancam gagal panen.

Serangan hama tungo, trip, dan patek ditengarai sebagai penyebab membusuknya tanaman cabai milik petani. Biasanya dalam satu pohon bisa dipetik delapan hingga sepuluh kali panen. Namun dalam tiga bulan terakhir hanya bisa dilakukan empat sampai lima kali panen.

AYO BACA : Sempat Capai Rp80.000/kg, Harga Bawah Putih Mulai Turun

"Ditambah lagi kita dialas oleh bandar atau pengepul. Harga tinggi di pasaran juga tidak berpengaruh ke penghasilan kita. Justru kita malah sibuk membasmi hama," pungkas Dadan.

Hargai Cabai di Tasik Meroket

Selain rasanya yang pedas, harga cabai rawit di pasar tradisional di Tasikmalaya ikut-ikutan pedas. Asalnya harga per kilogram hanya Rp26.000, kini bisa mencapai Rp90.000-Rp95.000 per kilogram. Kenaikan harga yang cukup signifikan ini ditengarai akibat kurangnya pasokan dari petani.

Seperti yang terpantau di Pasar Tradisional Singaparna. Cabai rawit mengalami kenaikan sejak dua minggu lalu. Kenaikan ini juga dibarengi dengan pasokannya yang berkurang. Hal itu diakui oleh Imas (45), salah seorang pedagang cabai rawit. Biasanya ia mendapatkan pasokan 50 kilogram per hari, namun kini hanya dipasok sekitar 30 kilogram per harinya.

"Dua minggu lalu masih murah, kalau sekarang mah harganya saya jual Rp95.000 per kilo. Kalau bagi pedagang ini sangat berat, karena sepi pembeli, " kata Imas kepada ayotasik.com, Senin (22/7/2019).

Tingginya harga cabai rawit ini berdampak pada tingkat pembelian. Paling banyak pembeli hanya membeli cabai-cabai itu seperempat kilogram dengan harga Rp23.000. "Paling sering beli yang seperempat, itu juga yang beli warungan atau tukang sayur. Pasokan juga berkurang jadi akibatnya harga jadi mahal, " papar Imas.

Dihubungi terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Indag) Kabupaten Tasikmalaya Heri Sogiri mengakui ada kenaikan harga cabai rawit di pasaran. Namun pihaknya tidak bisa berbuat banyak atas kenaikan harga itu, mengingat cabai rawit tidak masuk dalam komoditas yang bisa diintervensi.

"Artinya bukan sembako, jadi tidak bisa kita operasi pasar cabai, berbeda dengan beras atau daging. Soal penyebabnya, ya, mungkin pasokan kurang dari petani, " pungkas Heri.

AYO BACA : Di Pasar Tasik, Harga Cabai Pedas Keterlaluan

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar