Yamaha NMax

Mengulik Potensi Lumbung Bawang di Tanah Cimenyan

  Sabtu, 20 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Beberapa pekerja di Kelompok Tani Laskar Tani, tengah mengemas bawang yang akan didistribusikan ke Medan dan Padang. (Foto: Muthyarana)

Cimenyan adalah sebuah daerah pemasok sayur-sayuran di daerah Bandung Raya. Letak geografis Cimenyan yang berada di dataran tinggi, membuat Cimenyan menjadi daerah yang subur untuk lahan budidaya sayuran. Daerah subur ini dimanfaatkan masyarakat sekitar untuk membuka lahan pertanian, seperti lahan pertanian tomat, kubis, kentang, dan terutama bawang.

Produk pertanian yang menjadi unggulan Cimenyan adalah bawang merah dan bawang putih. Seperti salah satu lahan pertanian yang dimiliki oleh Ujang Sugana dengan luas sekitar 20 hektar, ia dapat menghasilkan 12 ton bawang per hektar dalam jangka 85 hari atau sekali panen.   Hasil pertanian tersebut dijual Ujang dengan harga Rp. 10.000,- per kilo.

Ujang mengaku harga cenderung fluktuatif. Jikalau harga turun, biasanya hal tersebut dikarenakan panen raya yang terjadi secara bersamaan di beberapa daerah. Namun, penurunan tersebut tidak akan merugikan petani. Karena dalam usaha ini, sangat jarang ada kerugian yang sampai membuat petani tidak balik modal.

        “Jarang sih petani kalau rugi, setidaknya bisa balik modal,” ungkap Ujang.

Tak sedikit petani yang bergabung dalam kelompok tani bawang yang ada di Cimenyan. Ujang yang juga menjadi ketua Kelompok Tani Putra Harapan, memaparkan terdapat sekitar 50 kelompok tani yang ada di Cimenyan. Dua diantaranya adalah Kelompok Tani Putra Harapan dan Kelompok Tani Laskar Tani. Kedua kelompok ini telah memasarkan produksi bawang mereka dari mulai daerah Bandung Raya, hingga ke luar pulau Jawa.

Ujang mengatakan bahwa bawang kelompok taninya distribusikan ke daerah Bandung, Cikampek, dan Purwakarta. Namun, pendistribusian ke daerah Cikampek dilakukan jika ada permintaan pasar saja. Sementara Deni, Ketua Kelompok Tani Laskar Tani mengatakan bahwa pendistribusiannya sudah mencapai wilayah Pulau Sumatera. Bawang ini nantinya didistribusikan ke pasar induk di daerah Jakarta, Cikampek, Cikopo, Cibitung, Tangerang, dan Bogor. Ada pula komoditas itu dikirim juga ke Padang dan Medan. “Ini saja 40 ton mau dikirim ke Padang,” ucap Deni sembari menunjuk tumpukkan karung bawang.

Bergabungnya para petani dengan kelompok tani yang ada di Cimenyan telah memberikan keuntungan bagi petani. Melalui kelompok tani, para petani lebih mudah dalam menyalurkan hasil produksi bawangnya. Ahmad, salah satu petani yang tergabung dalam kelompok tani Laskar Tani, mengakui hal tersebut.

Dia juga menambahkan dalam sekali panen, lahan pertanian bawangnya mampu menghasilkan sepuluh ton per satu hektare tanah. “Saya itu petani kecil, kalau kerjasama dengan kelompok tani Kang Deni jadi enak. Buktinya terbantu, lah,” jelasnya.

Meskipun begitu, beberapa kendala juga dirasakan oleh kedua kelompok tani ini. Kendala utamanya adalah berupa penurunan harga bawang. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, penurunan ini terjadi karena waktu panen bawang di Cimenyan bersamaan dengan waktu panen bawang di daerah lain, seperti Jawa Tengah dan daerah sekitarnya. Waktu panen yang bersamaan ini menyebabkan melimpahnya ketersediaan komoditas bawang di pasar.

Saat diwawancara di ruang dosen pada Jum’at (26/04), Ahli ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Padjadjaran, Jatinangor, Sumedang, Eva Ervani, membernarkan penyebab penurunan harga disebabkan oleh banyaknya pasokan bawang di pasaran. “Apabila jumlah suatu produksi barang meningkat, seperti Cimenyan yang sedang panen raya, maka penawaran akan meningkat juga. Hal ini akan berdampak pada penurunan harga”.

Menurut Eva, perlu adanya campur tangan pemerintah untuk mengatur mekanisme pasar melalui penetapan kebijakan harga. Eva menambahkan bahwa kebijakan harga ini nantinya digunakan untuk melindungi produsen dan konsumen, serta menstabilkan harga.

Selain kendala penurunan harga, Ujang mengungkapkan bahwa tingginya biaya operasional dalam mengelola lahan pertanian juga berpengaruh pada harga bawang. Hal ini menyebabkan lebih tingginya harga bawang lokal dibandingkan harga bawang impor. Menurut Ujang, bawang Cimenyan kalah dalam segi harga dan segi ukuran dibandingkan bawang impor. Meskipun itu, bawang produksi Cimenyan masih unggul dari produk impor dari segi rasa dan aroma.

 “Kalau dari rasa dan bau, sih, lebih unggul bawang lokal. Untuk kualitas, sih, nggak perlu diraguin,” ujar salah seorang konsumen bawang produksi Cimenyan.

Disamping banyaknya kelompok tani yang ada di Cimenyan, masih ada beberapa petani bawang yang tidak bergabung. Hal ini karena mereka lebih memilih untuk memasarkan hasil produksi lahan mereka sendiri.

Kurangnya penyebaran informasi yang diterima oleh petani merupakan salah satu faktor penyebab ketidakbergabungan mereka. Nunung, salah satu petani mengungkapkan bahwa ia tidak mengetahui dan tidak berencana untuk bergabung karena hasil panen yang belum mencukupi. Selain itu, tingginya biaya operasional menyebabkan sedikitnya Sumber Daya Manusia (SDM) untuk mengelola lahan yang berujung dalam pengelolaan pribadi masing-masing petani.

“Kebanyakan petani di Cimenyan lebih memilih untuk mengurus lahan mereka masing-masing ketimbang bekerja pada pemilik lahan lainnya.” ungkap Ujang.

Melihat potensi yang ada di Cimenyan, pemerintah membuat suatu Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) bernama PT Agro Jabar. Tujuan pendirian ini adalah untuk menjadikan Cimenyan sebagai swasembada bawang dan meningkatkan kesejahteraan perekonomian petani bawang di Cimenyan. Cimenyan dipilih karena letak daerahnya yang berada di atas 1000 mdpl.

“Secara agroklimat, lahan di sana itu biasa (ditanami) sayuran. Jadi sagat cocok ditanami bawang putih,” ujar Achmad Dimyati, Manejer Bidang Perkebunan PT Agro Jabar, saat diwawancarai pada hari kamis (25/04) di Jalan Sriwijaya No. 98, Kota Bandung.

Berdasarkan kesepakatan PT Agro Jabar dengan Kementerian Pertanian, PT Agro Jabar berkewajiban menanam bawang putih di daerah Cimenyan semenjak tahun 2018. Untuk memenuhi kewajiban ini, PT Agro Jabar memberikan berbagai bantuan yang menyokong kegiatan pertanian. Seperti alat semprotan, pupuk, dan benih.

“Bantuannya berupa alat-alat. Salah satunya, alat untuk mencangkul. Selain itu bentuk bantuannya juga berupa penyuluhan,” ungkap Achmad.

Bantuan juga diberikan dalam bentuk edukasi kepada para petani di Cimenyan. Edukasi tersebut berupa penyuluhan dan pelatihan mengenai teknik bertani. Bentuk nyata dari edukasi ini adalah dilakukannya studi banding petani-petani Cimenyan ke Temanggung untuk meningkatkan wawasan petani. PT Agro Jabar juga menginisiasi terbentuknya kelompok-kelompok tani guna optimalisasi hasil produksi.

Sebagai bentuk timbal baliknya, petani diwajibkan menjual hasil produksinya kepada pihak PT Agro Jabar. Harga yang ditentukan, yaitu setiap satu kilo bawang putih dihargai dengan Rp 5.000,- per kilo. Segala bantuan yang didapatkan, memberikan kemudahan bagi petani dalam pendistribusian hasil panennya.

“Sudah kontrak dengan petani, jadi petani tidak perlu pusing mendistribusikan karena PT Agro Jabar yang akan membeli kembali. Dibeli dengan harga lima ribu per kilogram,” ujar Ahcmad.

Penulis: Muthyarana Darosha dan Jessy Febriani

Mahasiswa Jurnalistik Fakultas Ilmu Komunikasi, Universitas Padjadjaran

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar