Yamaha Lexi

Antisipasi Kekeringan dan Banjir dengan Gerakan Bandung Memanen Hujan

  Kamis, 18 Juli 2019   Fira Nursyabani
Wali Kota Bandung Oded M Danial dan Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana saat melihat teknik drum pori di Kelurahan Pasir Endah, Kecamatan Ujungberung, Rabu (17/7/2019). (Dok. Humas Setda Kota Bandung)

UJUNGBERUNG, AYOBANDUNG.COM -- Wali Kota Bandung, Oded M. Danial bersama Wakil Wali Kota Bandung, Yana Mulyana meresmikan gerakan Bandung Memanen Hujan (Rain Water Harvesting), di Komplek Cijambe Indah, Jalan Vijayakusuma, RT 07, Kelurahan Pasir Endah, Kecamatan Ujungberung, Rabu (17/7/2019).

Gerakan tersebut merupakan upaya untuk menampung air hujan ketika musim kemarau dan juga mengantisipasi datangnya banjir. Bandung Memanen Hujan dilakukan dengan menggunakan teknik drum pori. Teknik ini dapat menampung dan menyalurkan air hujan ke dalam tanah agar air dapat memiliki waktu tinggal lebih lama.

Masuknya air hujan ke dalam tanah bisa membantu mengurangi risiko terjadinya luapan banjir. Semakin banyak air yang masuk dan meresap ke dalam tanah, berarti semakin banyak pula cadangan air. 

AYO BACA : Kendala Pemeliharaan GBLA, Pemkot Bandung Belum Miliki Seluruh Asetnya

"Gerakan ini dengan konsep drum pori. Rata-rata drum itu menampung sekitar 200 liter air. Bayangkan kalau warga Bandung rata-rata 50 KK (Kepala Keluarga) per satu RT dikalikan 200 liter. Sekali air turun bakal tertabung di sini (drum pori) untuk dimanfaatkan," jelasnya.

Oded pun mengintruksikan kepada seluruh aparatur sipil negara (ASN) untuk bisa membuat drum pori di tempat tinggalnya. Dimulai dari para ASN, maka masyarakat ikut membuatnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kota Bandung, Didi Ruswandi mengaku telah memprioritaskan drum pori karena bisa menggunakan drum bekas aspal. Pengerjaannya pun relatif murah dan mudah. 

AYO BACA : Yana: GBLA Tak Terawat Karena Anggaran Terbatas

"Kalau DPU yang bergerak itu sekitar 1.500 drum per tahun. Karena drum kita ada segitu. Bisa tambah kalau kita ada sumbangan drum. Kita pun membuat surat kepada ketua TJSL, jika ada CSR silahkan memberikan drum," ujarnya.

Ia menargetkan untuk 2019 program ini bisa memiliki 650 drum pori. Sampai saat ini terhitung baru ada 209 drum.

Sementara itu penggagas sumur resapan dengan metode drum pori, Rahim Asyik Budhi Santoso mengungkapkan, tidak semua wilayah bisa menerapkan drum pori. Wilayah dataran tinggi atas bisa menggunakan teknik ini. Namun di daratan rendah seperti wilayah selatan Bandung kurang cocok.

"Seperti daerah Buahbatu ke bawah itu airnya hanya 50 cm di permukaan tanah jadi tidak efektif. Tapi kalau di dataran Utara Bandung, 1 drum bisa menampung 220 liter dalam 10 menit sudah ilang, sehingga efektif penggunaannya," kata Rahim.

Selama lima tahun observasi, dengan pola ini iya yakin mampu mengetahui daerah mana saja potensi banjir yang belum terselesaikan. "Jadi terpetakan masalahnya. Sehingga kalau nanti ada problem di wilayah selatan seperti Gedebage kita bisa langsung mengantisipasinya," ujar Rahim.

AYO BACA : Penataan PKL Cicadas Dimulai Pertengahan Agustus

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar