Yamaha Aerox

Brrrr Suhu Bandung Makin Dingin, Puncak Kemarau Agustus

  Rabu, 17 Juli 2019   Ananda Muhammad Firdaus
Ilustrasi cuaca Bandung. (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Suhu di Kabupaten Bandung semakin terasa dingin di musim kemarau, bahkan hingga mencapai 18 derajat celcius saat malam hari. Kepada Data dan Informasi BMKG Bandung Rasmid mengatakan, fenomena itu sudah biasa atau wajar sebagai penanda datangnya periode musim kemarau. 

Dia mengungkapkan, dari pantauan alat pengukur suhu udara di Stasiun Geofisika Bandung tercatat selama bulan Juli 2019, suhu udara terendah tercatat pada 12 Juli 2918 sebesar 16,4 derajat. Sedangkan di lokasi dengan elevasi yang semakin tinggi seperti di pos observai geofisika Lembang tercatat suhu sampai 13,0 derajat celcius pada tanggal 16 Juli 2019.

“BMKG memprediksi, kemarau sudah terjadi sejak bulan Juli lalu hingga September dengan puncaknya di bulan Agustus. Maka diimbau kepada masyarakat untuk bijak menggunakan air,” ucapnya dalam keterangan tertulis Humas Setda Kabupaten Bandung, Rabu (17/7/2019).

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung Akhmad Djohara menyatakan bahwa sebagian wilayah di Kabupaten Bandung sudah dinyatakan terdampak kekeringan. Sejak bulan Juni hingga Juli 2019, 10 Kecamatan telah menyampaikan laporan kejadian bencana kekeringan, dan krisis air bersih.

“Sejak Juni lalu hingga saat ini, berdasarkan laporan dari wilayah, tercatat Kecamatan Baleendah, Pacet, Margahayu, Ciwidey, Pasirjambu, Banjaran, Ibun, Cileunyi, Kutawaringin, dan Kecamatan Cangkuang. Kami sudah melakukan rapat bersama 31 Kecamatan untuk memetakan daerah terdampak kekeringan,” ungkapnya.

Dirinya menjelaskan, dari hasil rapat bersama pihak kewilayahan, dari 10 Kecamatan tadi, tercatat 40 desa, 50 kampung dengan 9.497 Kepala Keluarga (KK) dan 20. 856 jiwa terdampak kekeringan. Bahkan, tambahnya, sudah terlaporkan juga sebanyak 349 hektare sawah mengalami hal serupa.

Akhmad Dmengatakan, beberapa waktu lalu BPBD telah mengeluarkan surat edaran yang ditandatangani oleh sekretaris daerah mengenai imbauan kepada para camat agar melaporkan kondisi kekeringan di wilayah masing-masing.

“Sebelum penetapan status tanggap darurat kekeringan, kita buat surat edaran, agar para camat melaporkan kondisi di wilayah. Ini penting dilakukan, untuk mengetahui potensi kekeringan yang saat ini terjadi. Walau baru sebagian, kami tetap melakukan koordinasi dan minggu depan akan melakukan rakor untuk langkah selanjutnya,” tandasnya.

Menyikapi ini, Bupati Bandung Dadang Naser mengimbau kepada seluruh aparat wilayah di Kabupaten Bandung agar sigap dalam merespon apabila mengetahui atau menemukan adanya potensi terjadinya bencana di wilayah masing-masing.

“Seluruh pihak harus terus berkoordinasi dan berkomunikasi untuk cepat merespon laporan dari masyarakat. Apabila menemukan kondisi buruk dampak dari kemarau, aparat desa lalu kecamatan bisa langsung menyampaikan laporan ke BPBD Kabupaten Bandung, agar segera bisa disuplai air bersih,” katanya.

Lebih lanjut, Dadang Naser mengatakan bencana alam adalah tanggungjawab semua pihak, maka dalam penanganannya diperlukan kepeduliaan dan kerja bersama melalui sinergitas lintas sektor, baik itu untuk urusan mengurangi derita korban yang terdampak, mengurangi dampak lapangan, dan resiko korban yang berjatuhan.

“Dalam konteks perencanaan pembangunan, BPBD Kabupaten Bandung dituntut untuk mampu menggali dan memanfaatkan potensi yang ada, memecahkan berbagai permasalahan dan tantangan, melayani, memenuhi kebutuhan masyarakat. Di sisi lain, dalam era globalisasi, BPBD dituntut untuk siap dan sanggup membuat suatu perencanaan yang baik, melalui sinergitas semua pihak. BPBD sebagai komando dan koordinator, akan mengupayakan keberhasilan penyelenggaraan penanggulangan bencana, sehingga mampu meminimalisir resiko dari dampak bencana itu sendiri,” paparnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar