Yamaha Mio S

Kesenian Meminta Hujan "Domyak" yang Kian Memudar

  Selasa, 16 Juli 2019   Dede Nurhasanudin
Ekstrakulikuler Kesenian Domyak di SMPN 4 Darangdan, Purwakarta. (Dede Nurhasanudin/Ayopurwakarta.com)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Setiap daerah di Indonesia memiliki kebudayaan yang menjadi ciri khasnya masing-masing, begitu pula Provinsi Jawa Barat. Provinsi Jawa Barat memiliki beragam kesenian dan kebudayaan yang jumlahnya cukup banyak.

Kesenian Jawa Barat yang paling melekat di kalangan masyarakat adalah Tari Jaipong dan Pencak Silat. Selain dari kedua kesenian itu masih banyak juga kesenian lain khas Jawa Barat. Tak terkecuali Kesenian Domyak di Purwakarta.

Dari masa ke masa Kesenian Domyak seolah dilupakan. Dulu kesenian ini sangat digemari sebagian masyarakat di Desa Pasir Angin Kecamatan Darangdan, Kabupaten Purwakarta.

Konon, Kesenian Domyak dilakukan masyarakat setempat sebagai sarana ritual meminta turun hujan di saat musim kemarau.

Salah satu penggiat dan pemerhati kesenian Domyak Desa Pasirangin Kecamatan Darangdan Yossi Agustiawan mengatakan, keberadaan Domyak pun belakangan mulai jarang sekali ditampilkan. Bahkan, saat ini hanya sedikit yang paham dan masih bisa memainkan kesenian tersebut.

"Bila pun ada pemain kesenian Domyak didominasi kalangan orang tua atau usia lanjut," ujar Yossi kepada Ayopurwakarta.com, tidak lama ini.

Dia menjelaskan, sebetulnya nama kesenian tersebut bukanlah Domyak melainkan bernama Buncis. Masyarakat mulai menyebut Domyak sekitar tahun 1980.

AYO BACA : Sejarah Dibalik Objek Wisata Hidden Valley

"Berdasarkan berbagai sumber kesenian Domyak bermula dari sebuah kesenian Buncis yang dipimpin Mama Nuria dan Abah Jumanta sekitar tahun 1980 di Pasirangin. Domyak adalah akronim atau kirata basa, artinya Ari Dur, Ari Rampayak," kata dia.

Abah Jumanta telah meninggal tiga tahun lalu diusia 128. Dia adalah salah satu sesepuh Kesenian Domyak. Namun sebelumnya Abah Jumanta sempat menceritakan soal arti Dur, Ari Rampayak.

Dur adalah bunyi bedug dari salah satu waditra musik pengiring kesenian. Rampayak artinya menari. Jadi, ketika ada suara dur dari bedug itu yang dimainkan, langsung ada yang menari.

Selain itu, lanjut Yosi, Kesenian Domyak berkaitan dengan meminta hujan atau mapag banyu. Ada ritual khusus dari kesenian ini yaitu ngibakan ucing atau memandikan kucing yang terlebih dahulu dimulai dengan arak-arakan mengelilingi kampung.

"Kucing dimasukkan ke dalam kurungan yang disebut dongdang ucing dan tandu oleh dua orang. Arak-arakan diiringi dengan tetabuhan seperti angklung, dogdog, bedug, kendang, goong, dan sebagainya. Mereka kemudian menuju ke suatu mata air dan kemudian melaksanakan ritual ngibakan ucing tadi," ucap dia.

Ritual mapag banyu dimulai dengan mupuhun yang dipimpin oleh seorang pemimpin upacara yang disebut pangasuh atau pengasuh. Mupuhun adalah semacam uluk salam atau dalam peribahasa Sunda diartikan sebagai mipit kudu amit, menta kudu bebeja, ngala kudu menta (meminta izin terlebih dahulu), yang bermakna bahwa jika sesuatu yang akan dilakukan itu haruslah diawali dengan meminta izin dan memohon berkah keselamatan dari yang maha kuasa.

Setelah mupuhun dilaksanakan, pangasuh menyuruh seseorang untuk melantunkan kidung beberapa bait, dan setelah selesai kidung, maka kucing yang ada di dalam sebuah kurungan itu diguyur air, yang disebut dengan ngibakan ucing.

AYO BACA : Wayang Golek di Purwakarta Terus Menggeliat

''Ngibakan ucing mempunyai makna, kucing tidak pernah mandi dan hal ini adalah sebuah ajaran, bahwa manusialah yang sebaiknya mandi, membersihkan diri'' tutur Yosi yang berkeseharian sebagai GTT di SMPN 4 Darangdan tersebut.

Namun, seperti tradisi meminta hujan yang menjadi cikal bakalnya, keberadaan Seni Domyak pun belakangan mulai jarang sekali ditampilkan, terlebih sepeninggal Abah Jumanta.

Saat ini selain tekun mempelajari Domyak, Yosi mengaku, aktif menularkan pengetahuannya pada orang lain termasuk pada para pelajar di sekolah tempat dirinya mengajar.

"Saya membuka ekstrakurikuler kesenian Domyak, sudah diikuti banyak siswa. Tujuannya supaya kesenian tradisional yang lahir dari peradaban panjang masyarakat Desa Pasir Angin tetap terjaga," ujar Yoasi.

Menurutnya, saat ini Seniman Domyak terdiri dari seniman yang dominan usia lanjut. Untuk latihan pun Seniman Domyak berpindah-pindah karena tidak memiliki tempat berlatih.

Padahal Domyak termasuk 37 seni tradisi di Jawa Barat yang direvitalisasi dan regenerasi tahun 2012 oleh Disparbud Jawa Barat dan Dinas kebudayaan Purwakarta.

''Tapi saat ini nasib Seni Domyak seperti mati suri, mati tidak hidup pun segan. Makanya itu perlu perhatian khusus dari semua pihak untuk tetap menjaga kelestarianya. Karena selain sebagai salah satu kesenian tradisional, Domyak menjadi khazanah warisan budaya leluhur khususnya di masyarakat setempat'' katanya.

Yosi berharap, Seni Domyak menjadi salah satu seni kebanggan masyarakat Purwakarta dan mendapat dukungan penuh dari pemerintah termasuk mengikutsertakan kesenian Domyak diacara resmi pemerintah, seperti HUT Purwakarta yang tak lama lagi di gelar.

''Jangan sampai hari HUT Purwakarta kita masyarakat Purwakarta hanya sebagai penonton saja. Pernah saya keluar masuk Pemda, mengajukan proposal untuk permohonan tempat dan peralatan tapi tidak ada realisasinya sampai sekarang. Sampai akhirnya saya menggadaikan pohon cengkeh dan menyisihkan honor di sekolah untuk membeli peralatan dan mendukung Domyak tersebut,'' ujar dia.

AYO BACA : Penemuan Telapak Kaki Sangkuriang di Darangdan Purwakarta

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar