Yamaha NMax

Gerobakku, Istanaku

  Selasa, 16 Juli 2019   Andres Fatubun
Sekelompok manusia gerobak di Jl Sumatera Bandung melepas lelah, Selasa (16/7/2019) siang. (Andres/ayobandung)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Berlindung dengan atap beton di bawah Jembatan Layang Pasupati, Uhin (70) seorang manusia gerobak memilih menetap bersama tumpukan sampah. 

Aroma yang menyengat menjadi udara yang setiap hari harus ia hirup sejak 2004.

“Awalnya saya ikut adik ipar yang sudah mulai mulung duluan tetapi di daerah Ciroyom, lalu saya tinggal di kolong Jembatan Pasupati tapi dipindahin ke pinggir jembatan sama Pak RW,” jawab Uhin dengan logat sunda yang khas.

Dengan berbekal gerobak, Uhin mengarungi jalanan setiap malam hari mulai pukul 21.00 hingga azan subuh berkumandang. Ia biasanya berkeliling ke Taman Sari, Bina Wastu, dan sekitar Rumah Sakit Hasan Sadikin. 

Penghasilan yang didapatkan pun seadanya yaitu senilai Rp20.000 semalaman jalan. Uang tersebut Uhin gunakan untuk mengisi perut dan membeli kebutuhan sehari-hari sebisanya.

Bagi Uhin, bak motor sampah merupakan rumah ternyaman untuk bermalam. 

Ia menyimpan kebutuhannya di dalam bak yang berwarna hitam tersebut. Di dalam bak bekas tersebut terdapat bantal, kain sarung dan kasur yang sudah tipis dan usang.

Walaupun memiliki enam orang anak, Uhin memilih menjalani hidup yang seperti ini karena tidak ingin membebani keluarga dan anak anaknya. Menurutnya selama tidak mencuri, memulung bukanlah suatu hal yang hina.

Cerita yang sama datang dari Uding (54), pria paruh baya asal Sumedang ini terpaksa menjadi seorang pemulung, karena dirinya mengalami kecelakaan ketika bekerja sebagai penyerut kayu. Semenjak itulah, ia tidak lagi bisa bekerja karena kondisi kaki yang tidak lagi sempurna.

Uding bisa mendapatkan uang sebanyak Rp125.000 – Rp150.000 setelah mengumpulkan barang bekas dalam beberapa hari. Jumlah yang jelas tidak cukup untuk mengontrak sebuah rumah di kota sebesar Bandung. Maka Uding memutuskan memilih gerobak sebagai tempat tinggalnya selama di Bandung.

“Kalau gerobaknya kosong, suka tidur di dalam gerobak tapi cuma ada sarung. Walaupun di tepi jalan, atapnya dibiarkan terbuka dan kalau hujan tinggal ditutup pakai tudung,” ujarnya.

Biasanya Uding berkeliling saat pagi hari ke arah Gasibu sampai Dago ditemani dengan iringan suara radio yang tersimpan di dalam gerobak. Tak jarang kakinya sering terasa ngilu akibat kecelakaan yang pernah dialaminya.

“Untuk mengobati rasa sakitnya seminggu sekali minum racikan herbal dari daun mahoni, daun awi, daun pare, cecenet, dan belimbing,” tambahnya.

Kehadiran manusia gerobak di tengah kota besar tidak bisa dipungkiri. Berbagai permasalahan yang mereka hadapi sangatlah beragam. 

Faktor ekonomi menjadi salah satu penyebab utama mereka menjadi seorang pemungut barang bekas untuk mencari nafkah demi keluarga.

Selain Uhin dan Uding, nasib yang sama juga dirasakan oleh pasangan suami istri Muhammad Sendi Alfatih (39) dan Nurul (40) yang kesehariannya bekerja sebagai pemulung di Jalan Aria Jipang, Citarum, Kota Bandung.

Sendi dan istrinya memilih menggantungkan hidupnya dengan menjual barang bekas.

Dalam harinya, Sendi mendapatkan barang bekas sebanyak 10 kilogram, yang kemudian akan dijual ke pengepul yang berada di daerah Pager Gunung seharga Rp2.500/kilogram. 

Sendi hanya mengenyam pendidikan terakhir Sekolah Dasar (SD), karenanya sejak awal pekerjaannya mengandalkan otot seperti buruh panggilan proyek. Namun, karena jarang mendapatkan panggilan, maka ia memutuskan bantimng setir dan menjadi pemungut barang bekas.

Jalinan ikatan suami istri tersebut dimulai ketika Sendi yang bekerja sebagai pemulung dan Nurul sebagai pengamen. Keduanya sering bertemu, mengobrol dan kemudian tumbuhlah benih-benih cinta di antara mereka hingga akhirnya memutuskan untuk menikah. 

Dari pernikahan tersebut keduanya dikaruniai dua orang anak.

Mandi di Gasibu
Hidup dalam sebuah gerobak tentunya tidak memberikan fasilitas yang cukup untuk menjalani keseharian layaknya seperti manusia pada umumnya. Untuk mandi dan mencuci pakaian Sendi memanfaatkan toilet umum.

“Numpang mandi di Gasibu di sana ada toilet umum dan itu gratis. Cuma namanya nyuci ditempat umum enggak bisa banyak seperti di rumah sendiri dan untuk menjemur pakaian biasanya di gerobak,” ujarnya.

Meskipun dengan perekonomian yang sulit, Sendi menganggap pendidikan anaknya sangat penting. Ia juga memiliki keinginan untuk berhenti sebagai seorang pemulung dan berharap dapat membuka usaha jika ada modal di kemudian hari.

“Insya Allah kalau sayanya masih kuat cari uang, ada rezeki, pengennya menyekolahkan anak sampai kuliah. Saya pengen berhenti karena capek, kalau ada modal saya pengen buka usaha, engga muluk-muluk sih, jualan gorengan juga engga apa apa yang penting halal,” ungkapnya.

Menurut pemerhati sosial dan seorang akademisi, Wim Tohari Daniealdi, fenomena manusia gerobak ini merupakan sebuah  bentuk protes dari penggusuran, dari tata kelola pembangunan yang salah, dari tata ruang yang memaksakan, atau pembangunan yang memaksakan sehingga tidak memikirkan aspek kebudayaan masyarakat dan etnografi masyarakat.

“Mereka terpaksa dipisahkan dari mata pencaharian mereka sehingga mereka harus mengganti alat mata pencaharian mereka dengan gerobak, memungut, karena mereka engga bisa apa apa,” jelas Wim yang mengajar di Universitas Pasundan saat dihubungi Ayobandung.com melalui telepon, Minggu (14/07/2019).

Wim menambahkan, karena tidak memiliki tempat tinggal manusia gerobak ini akan berpindah pindah. Sehingga dari fenomena tersebut maka akan muncul sebuah ideologi yang disebut nomaden.

“Jika tetap dibiarkan manusia gerobak akan terus berkembang, nomaden bisa menjadi sebuah ideologi. Perkembangan modern ini tidak memiliki ruang bagi mereka yang tidak memiliki skil, peradaban itu tidak dikatakan maju sampai ia bisa menampung seluruh skil kemanusiaan,” tukas Wim. (Siti Julaeha dan Ulfah Dalilah)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar