Yamaha NMax

Udara Bersih Kuningan yang Dirindukan

  Selasa, 16 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Salah satu area berkemah di Ipukan, Desa Cisantana, Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, yang menawarkan pengunjung menikmati alam pegunungan sekaligus lansekap kota di bawahnya. (Nono Rahmat/google maps)

Langit biru tak berawan. Gunung Ciremai terlihat seutuhnya. Semilir angin dingin menerpa tubuh. Matahari pagi bersinar cerah.

"Pagi yang nyaman", kata saya kepada pria yang bekerja membersihkan halaman hotel.

"Ya, tapi lama-lama biasa saja", jawabnya.

Saya kecewa mendengar jawabannya. Seolah-olah pagi yang nyaman ini datang dengan sendirinya. Seolah-olah dari hari ke hari, dari tahun ke tahun ke depan tak bakal berubah.

Bandung dulu sangat nyaman. Udaranya sejuk segar. Kalau berjalan di trotoar jalan Braga pada waktu malam, mengingatkan suasana di Eropa. Para pejalan kaki bergegas dengan tangan di dalam kantung jaket. Mereka lalu masuk ke kafe-kafe bertemu kerabat sambil minum bandrek.

Saya puluhan tahun tinggal di kota besar. Haus dengan udara yang bersih dan nyaman. Alangkah senang dapat mengatasi dahaga ini di Kuningan. Si mamang dan mungkin banyak lagi,  tak menyadari udara bersih yang dinikmatinya sesungguhnya merupakan ‘barang’ mewah dan mahal.

Seperti Pengemis

Petualangan menikmati udara bersih dimulai dengan menyusuri jalan Panawuan–Sangkanhurip, Kuningan. Supaya petualangan lebih komplet, perlu ditambah menikmati makanan lokal. "Kalau mau makan kupat tahu, itu dekat patung kuda," ujar seorang bapak tua.

Saya lebih suka duduk di bangku, mandi sinar matahari daripada makan di dalam warung. Separuh porsi lontong kari dengan sebutir telur bebek, lenyap dalam sekejap. Tapi saya masih suka berlama-lama sambil minum teh hangat. Ngobrol ke barat ke timur dengan penjual lontong.

Kurang lima menit berjalan dari patung kuda terdapat lapangan parkir. Di kiri-kanannya berjejer toko-toko yang menjual kaos dan celana bagi mereka yang ingin mandi di kolam air hangat beryodium Sangkanhurip. Celana dan kaos melambai-lambai ditiup angin. Mirip di jalan-jalan kecil kawasan Kuta.

Saya benar-benar menikmati udara bersih dengan melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan dimanapun. Duduk lesehan di teras toko yang kebetulan tutup. Ubin sejuk, hawanya sejuk.

Petualangan belum berakhir. Seperti pengemis, saya duduk bersandar ditembok warna biru di jalan Raya Sangkanhurip. Masih menikmati udara bersih dan sejuk. Ngobrol sebentar dengan pedagang lepet.

Para pengojek. Tukang sado. Boleh jadi heran dengan kelakuan saya. Duduk melamun. Menghirup udara bersih. Sesekali bersyukur atas nikmat yang diberikan Sang Pencipta.

Khawatir

Di tengah detoksifikasi itu, masih terselip rasa khawatir terhadap masa depan kenyamanan di Kabupaten Kuningan, bila keadaan sekarang dianggap tak akan berubah. Tanda-tandanya sudah nampak, seperti pola pikir yang menggampangkan dan kebiasaan membuang sampah ke sungai.

Menurut cerita ilmu pengetahuan, udara merupakan campuran gas yang terdapat pada permukaan bumi. Udara terdiri dari 3 unsur utama, yaitu udara kering, uap air dan aerosol. Udara kering mengandung 78,09% nitrogen, 20,95% oksigen, 0,93% argon, 0,04% karbon dioksida, dan gas-gas lain yang terdiri dari neon, helium, metana, kripton, hidrogen, xenon, ozon, radon. Uap air yang ada pada udara berasal dari penguapan pada laut, sungai, danau, dan tempat berair lainnya. Aerosol adalah benda berukuran kecil, seperti garam, karbon, sulfat, nitrat, kalium, kalsium, serta partikel dari gunung berapi.

Kehadiran udara bisa dirasakan bila ditiup angin. Udara disebut bersih antara lain, bila tak berbau, berasa dan tak berwarna. Udara disebut tercermar bila berbau tahu. Berasa dan berbau  jengkol. Berwarna hitam karena  pembakaran batubara, ban dan lain-lain.

Angin, sungai, situ dan pepohonan turut berperan mewujudkan udara bersih. Begitupun dengan sedikitnya kendaraan bermotor dan tiadanya pabrik. Letak geografis wilayah yang bersangkutan, juga berperan mewujudkan udara bersih. 

Kabupaten Kuningan, terutama di kawasan Panawuan-Sangkanhurip mempunyai udara bersih karena tidak berbau, berasa, atau berwarna. Bila dihirup terasa sejuk dan menyegarkan. Tak heran bila merasa nyaman.

Banyak pihak menjadikan udara bersih sebagai modal untuk mewujudkan gaya hidup sehat. Pemerintah negara bagian Tasmania, Australia sangat membanggakan soal itu. Saya pernah melihat seorang ‘bule’ dengan jerigennya menampung air yang keluar dari sisi bukit di pinggir jalan raya.

Untuk minum, kata Barry Johnstone, staf pariwisata Tasmania, seraya menambahkan lingkungan hidup kami sangat sehat karena pemerintah secara konsisten mengatur penebangan pohon, penangkapan ikan di sungai, membatasi jumlah kendaraan bermotor dan pembangunan properti.

“Setiap pelanggaran, sekecil apapun. Misal, membuang sampah sembarangan akan dijatuhi hukuman, lanjutnya tapi petugas pemerintah tak repot sebab rakyat sudah patuh dan disiplin.”

Ditilik dari aspek kesehatan, udara bersih bermanfaat untuk membersihkan tubuh agar tetap sehat. Buktinya, penduduk desa terlihat lebih segar, sehat dan panjang umur. 

Yang perlu dibangkitkan adalah kesadaran bahwa udara bersih merupakan  hasil proses yang berlangsung lama. Proses yang melibatkan berbagai komponen alam sampai  mencapai titik keseimbangan.

Suatu waktu keseimbangan itu bisa terganggu bila pohon-pohon ditebangi padahal ia menghasilkan oksigen (O2). Gedung-gedung didirikan tanpa memperhatikan kondisi lingkungan. Pabrik, kendaraan bermotor ramai-ramai mengeluarkan udara kotor. Sawah dijual dan berubah fungsi karena pemilik kesulitan uang.

Di mana-mana, lembaga pendidikan dan instansi pemerintah memegang peranan menjaga dan memelihara udara bersih atau lingkungan hidup.

Ah, saya ingin kembali ke Kuningan menikmati udara bersih, kupat tahu, tape, dan teh hangat. Tentu sambil mengingat Husein yang kehilangan sepasang sepatu di Mesjid Agung Cirebon.   

    

Farid Khalidi  

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar