Yamaha

3,39 Juta Warga Jabar Tergolong Miskin, Paling Banyak di Selatan

  Senin, 15 Juli 2019   Nur Khansa Ranawati
Deretan rumah padat penduduk berdiri di kawasan Tamansari, Kota Bandung. (Irfan Al-Faritsi/Ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM--Sebanyak 3,39 juta penduduk Jawa Barat masuk ke dalam kategori miskin. Jumlah tersebut dihitung per-Maret 2019, berdasarkan jumlah penduduk dengan pengeluaran per-kapita tiap bulannya yang berada di bawah garis kemiskinan.

Hal tersebut disampaikan Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat, Dody Herlando saat menyajikan rilis data tingkat kemiskinan di Jabar di gedung BPS Jabar, Jalan PH.H Mustofa Bandung, Senin (15/7/2019). Dia mengatakan, jumlah warga yang masuk ke dalam kategori miskin telah berkurang bila dibandingkan dengan periode sebelumnya.

Pada September 2018, jumlah penduduk Jabar yang miskin mencapai sekitar 3,53 juta jiwa.

AYO BACA : Jumlah Penduduk Miskin di Jabar 13% dari Skala Nasional

 Artinya ada penurunan. Sekitar 140 ribu penduduk yang miskin, jadi tidak miskin, ungkapnya.

Adapun bila dikategorisasi berdasarkan daerah tempat tinggal, pada periode September 2018 hingga Maret 2019, jumlah penduduk miskin di daerah perkotaan maupun pedesaan turun dibanding tahun sebelumnya.

Di perkotaan, jumlah penduduk miskin mencapai 67 ribu jiwa, sementara di desa 72,6 ribu jiwa. Presentase-nya turun dari 6,33% menjadi 6,03% untuk perkotaan, dan 10,07% menjadi 9,79% untuk pedesaan.

AYO BACA : Potret Kemiskinan di Jawa Barat

Meski demikian, presentase tingkat kemiskinan di Jabar juga sempat naik pada September 2015. Kala itu jumlah penduduk Jabar yang mengalami kemiskinan ada di pada angka 4,485 juta jiwa. Angka ini kemudian turun perlahan tiap tahunnya hingga mencapai 3,39 juta. 

Dody mengatakan, sejauh ini daerah yang paling banyak memiliki warga kategori miskin di Jabar adalah daerah-daerah di selatan, meliputi Kabupaten Tasikmalaya, Indramayu, dan Kuningan. Warga dengan profesi petani di kabupaten menjadi salah satu kelompok yang paling banyak mengalami kemiskinan.

Pasalnya, pendapatan mereka tidak menentu tiap bulannya, dan rata-rata berada di bawah pendapatan per-kapita. Data tersebut didasarkan pada perolehan per-2018. 

Ini kita berdasarkan data per 2018. Kalau data detail yang Maret sekarang baru bisa keluar nanti November, ujarnya.

Guna mengatasi hal tersebut, dia mengatakan, ketimpangan antara wilayah pedesaan dan perkotaan harus dibenahi. Pemerintah--dalam hal ini Pemprov Jabar--harus dapat mengembangkan perekonomian Jabar selatan agar lebih merata. 

Sekarang ada Patimban, Bandara Kertajati yang semua di sekitar utara Jawa Barat. Yang saya dengar kalau di selatan ini memang lebih ke pengembangan pariwisata, ungkapnya.

AYO BACA : Jawa Barat Kaya tapi Belum Merata

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar