Yamaha NMax

Bandung Baheula : Secuil Sejarah Pahit di De Majestic

  Senin, 15 Juli 2019   Andres Fatubun
Tampak dari depan Gedung De Majestic yang masih berdiri kokoh. (Jaka Jamlludin Yusuf)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Kota Bandung memang terkenal menyimpan sejuta sejarah yang menarik di dalam kotanya. Baik itu sejarah manis ataupun sejarah pahit ada di Kota Kembang ini. Seperti salah satunya yakni Gedung De Majestic yang berlokasi di Jalan Braga No 1 Kota Bandung atau lebih tepatnya di samping Museum Konferensi Asia Afrika (KAA).

Gedung tersebut pada zaman dahulu merupakan sebuah bioskop pertama di Kota Bandung yang dibangun pada tahun 1925. Sebelum memiliki nama De Majestic, awalnya gedung tersebut memiliki nama yakni Concordia. Dalam sejarah manisnya De Majestic merupakan bioskop pertama di kota ini dan merupakan bioskop yang sukses memutarkan film pertama di Indonesia yakni "Loetoeng Kasaroeng" pada pemutaran perdanannya 31 Desember 1926.

Di balik balik secuil sejarah manis yang ada di gedung ini, terdapat sebuah sejarah pahit yang bagi beberapa kalangan anak muda atau para penggiat musik Kota Bandung tidak bisa terlupakan begitu saja dan banyak menyisakan pekerjaan rumah. Sejarah pahit tersebut yakni Tragedi Asia Afrika Culture Center (AACC) yang terjadi pada 9 Februari 2008.

Saat itu, De Majestic (eks gedung AACC) menggelar sebuah konser sekaligus perilisan  launching album pertama Band BESIDE yang bertajuk “Againts Oursleves”. Antusias para penonton yang hadir pada acara tersebut sangat besar dan diluar kapasitas gedung yang mampu menampung maksimal 500 orang. Namun, pada saat itu para penonton yang datang melampaui kapasitas yakni hampir 1000 lebih.

Berlebihnya kapasitas penonton yang hadir, kurangnya sirkulasi udara di dalam ruangan, asap rokok yang begitu tebal dan crowd audience yang tidak bisa dikendalikan, menyebabkan konser tersebut ricuh dan tercatat merenggut 11 orang meninggal dunia dalam tragedi ini.

Menurut Ilham Pratama yakni salah satu pengunjung dan satu dari sekian saksi hidup di konser AACC, dirinya mengungkapkan bahwa pada tragedi AACC satu dekade silam pada dirinya masih teringat begitu jelas. Mulai dari ramainya penonton yang hadir, sumpeknya sebuah ruangan karena minimnya sirkulasi dan  terlebih dirinya bersama temannya melihat sebuah korban yang merenggut nyawa tepat di hadapan matanya karena sesak.

“Masih ingat jelas AACC di bayangan saya, sumpek asep rokok dimana-mana, berdesakan orang yang mencoba masuk dan lebih parahnya saya melihat korban di tragedi tersebut tepat dihadapan saya, sampai nangis pas litany,” ujarnya kepada Ayobandung.com pada Minggu (15/7/2019) di kediamannya.

Adanya tragedi tersebut, tercatat bahwa gedung De Majestic pernah menorah sejarah pahit dan membuat De Majestic harus beralih fungsi sebagai gedung pertunjukan, pagelaran seni sunda, kegiatan lokakarya, hingga gedung pernikahan. Ditambah dengan berdirinya sebuah kafe di samping gedung ini, membuat gedung ini masih berfungsi dan banyak dikunjungi oleh para pengunjung yang datang ke kafe atau datang langsung ke dalam gedung tersebut. (Jaka Jamalludin Yusuf)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar