Yamaha Aerox

Tito Karnavian: Masyarakat Kelas Bawah Masih Dominasi Indonesia

  Jumat, 12 Juli 2019   Fira Nursyabani
Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (kedua kanan) bersama istri Tri Suswati Karnavian (kanan) dan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto (kedua kiri) dan istri Nanik Istumawati (kiri) mengikuti olahraga bersama Polri, TNI, dan masyarakat di Jalan MH Thamrin, Jakarta, Minggu (7/7/2019). (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Tito Karnavian, mengatakan Indonesia saat ini masih didominasi oleh masyarakat kelas bawah. Menurutnya, negara yang didominasi masyarakat kelas bawah memiliki potensi besar terjadi perpecahan.

"Bangsa kita masih di dominasi oleh masyarakat kelas bawah, sehingga masih berpotensi perpecahan dari faktor internal. Selama 74 tahun dominasi low class yang masih banyak dan pengangguran masih tinggi," kata Tito saat memberikan pembekalan kepada 781 orang calon perwira (Capaja) TNI dan Polri Tahun 2019 di GOR Ahmad Yani, Mabes TNI Cilangkap, Jakarta Timur, Jumat (12/7/2019).

AYO BACA : Polri Enggan Komentari Penyelidikan Jenderal Bintang Tiga dalam Kasus Novel

Menurut dia, di negara-negara yang masih didominasi masyarakat kelas bawah rentan timbul ketidakpuasan kepada pemerintah, rentan terjadi kecemburuan sosial, rentan terhadap provokasi, serta rentan diadu domba antarmasyarakat di kelas itu atau antar kelas.

Dia mengingatkan, di tengah perjalanan bangsa sejak kemerdekaan selama 74 Tahun, harus diakui bahwa Indonesia belum mampu menciptakan negara yang masyarakatnya didominasi oleh kelas menengah.

AYO BACA : Tito Berharap Jokowi Beri Tunjangan Kinerja 100 Persen Polri dan TNI

"Kita harus jujur bahwa kita belum mampu membuat bangsa kita dalam demografinya didominasi masyarakat kelas menengah. Indikator negara kuat dan stabil adalah masyarakat kelas menengah yang besar," jelasnya.

Ia mencontohkan, seluruh negara besar dan kuat hampir dipastikan masyarakatnya didominasi oleh kelas menengah, sedangkan masyarakat kelas bawah keberadaannya hanya sebagian kecil seperti halnya, Amerika, Singapura, Selandia Baru, Denmark, Norwegia, Finlandia, dan lainnya.

"Negara kuat didominasi kelas menengah. Potensi konflik menjadi lebih rendah karena kecukupan. Bangsa yang memiliki kelas menengah yang lebih besar, akan meminimalkan konflik," ujar Tito.

Saat ini, menurut Tito, walaupun pemerataan kesejahteraan naik, namun relatif masih kurang. Semua ini menjadi potensi mentriger atau memicu munculnya isu-isu lain yang bersifat primordial.

"Isu ideologi, agama, perbedaan suku, ras, akan muncul ketika terjadi permasalahan di bidang kesejahteraan ekonomi," ujarnya.

Untuk faktor eksternal, dijelaskan Tito, Indonesia tidak berada di ruang vakum atau berdiri sendiri. Ada dinamika hubungan internasional yang tentunya melibatkan Indonesia. Perpecahan, tambah dia, juga bisa terjadi jika bangsa Indonesia tidak mampu mengikuti perkembangan global yang terjadi.

AYO BACA : Masuk Bursa Capres 2024, Ini Tanggapan Tito Karnavian

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar