Yamaha Lexi

Jejak Mahasiswa di Kawasan Pendidikan Tinggi Jatinangor

  Jumat, 12 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi mahasiswa bermain gawai. (Dok. Ridha Achmad)

Generasi muda, khususnya para mahasiswa, saban masa punya andil cukup besar dalam menentukan perjalanan bangsa. Daya intelektual dan semangat yang masih membara menjadi salah satu alasan warga negara menaruh asa kepada para mahasiswa. Tak salah jika ada yang mengatakan keseharian mahasiswa sekarang menentukan Indonesia masa depan.

Tapi, harapan berlebih tidak elok jika 100% dibebankan pada mahasiswa. Sebab, tidak semua mahasiswa memeluk teguh idealisme yang diharapkan awam. Mahasiswa juga memendam angan yang, mungkin, bertolak belakang dengan harapan warga kebanyakan. 

Ada banyak cara membaca pikiran, niatan, ucapan, dan lakuan generasi muda zaman ayeuna. Ada banyak kesempatan melihat interaksi mahasiswa dengan mahasiswa dan warga lainnya. Salah satu di antaranya mengamati ruang pribadi yang mereka tempati. Ruang itu bernama pemondokan.

Pemondokan, penginapan, asrama, atau kosan pada dasarnya adalah ruang tinggal sementara mahasiswa selama menempuh pendidikan di perguruan tinggi. Tentu saja, ruang itu hasil sewa-menyewa dengan pemilik tanah dan bangunan secara bulanan atau tahunan.

Bila di Bandung menjamur kawasanan pendidikan (tinggi) di kawasan Dipatiukur, Lédeng, Tamansari, Suci, dan Cimahi. Jatinangor yang berada di Kabupaten Sumedang adalah ‘kota meteor’ yang tumbuh subur seiring berdirinya empat perguruan tinggi: IPDN, Ikopin, Unwim (kini beralih menjadi ITB), dan Unpad.

Empat perguruan tinggi (PT) itu berdiri sejajar di sebelah kiri jalan jika kita menyusuri jalan peninggalan Gubernur Jenderal Daendels dari arah Bandung menuju Sumedang. Masih di jajaran yang sama, di sekitar empat PT itu juga berdiri satu SD swasta, satu SD negeri, satu SMK swasta, satu SMP negeri, satu SMP swasta, satu SMA negeri, satu SMA swasta, dan satu TK.

Maka, ketika pagi menjelang, kelengangan adalah kemustahilan. Hiruk-pikuk manusia dan seliwer kendaraan pada pagi dan sore hari di Jatinangor nyaris serupa dengan suasana pagi di Pondok Cina, Kelapa Dua, Jagakarsa, atau Salemba.

Tapi para pelajar, mahasiswa, dan penduduk setempat seolah pasrah dengan keadaan. Meskipun saban pagi dan sore tak bisa berkelit dari macet mereka tetap bertahan di kawasan yang dihiasi Gunung Geulis dan Gunung Manglayang. Meski sepanjang hari berselimut dengan aneka jenis polusi, mereka seperti tidak peduli.

Kekurangpedulian perguruan tinggi (mahasiswa) pada warga sekitar dan lingkunganlah sedikit banyak memengaruhi kawasan Jatinangor makin awut-awutan. Trotoar dijadikan tempat parkir dan jualan. Sawah, kebun, dan taman berubah wujud dengan bahan utama semen dan bebatuan. Sungai, selokan, dan kolam kian kotor dan berkurang. Jalan-jalan dan pepohonan disesaki beragam jenis iklan. Pun dengan sampah, masih saja tetap menumpuk dan berserakan.

Keruwetan masalah itu seolah dibiarkan. Kalangan perguruan tinggi, pemerintah setempat, dan para pengusaha dalam mengisi Jatinangor tampak jalan sendiri-sendiri. Bila pun ada nota kesepakatan tampak tidak dijalankan sepenuh hati.

Dan hal itu bisa dibaca sejak mula di pemondokan mahasiswa. Kesemrawutan tata letak pemondokan di Jatinangor tak kalah acak-acakan dengan Tamansari atau Sékéloa di Kota Bandung.

Lihatlah hamparan pemondokan di lelewek alias kampung di Jatinangor seperti Kampung Bojongeureun, Caringin, Warungkaldé, Ciawi, Ciséké, Sukamanah, Sukawening, Cikuda, Jatimulya, Jatiroké, Narongtong, dan Cinenggang. Pemondokan mahasiswa di kampung-kampung yang berada di Desa Hégarmanah, Cikeruh, Sayang, Jatiroke, Cibeusi, dan Cilélés itu bertumpuk dan menyebar tak beraturan.

Malah, di sekitar pemondokan yang berada di depan gerbang Unpad ada gang yang lebarnya kurang dari setengah meter. Jalan sempit makin mengerikan dengan kegelapan di waktu siang apalagi malam. Sebab, gang-gang mini itu dinaungi oleh genteng, seng, atau coran bangunan kosan yang saling bersinggungan.

Sudah barang tentu binatang seperti kelabang, titinggi (kaki seribu), leunyay, juga ular dan kalajengking betah berdiam di dinding pemondokan karena gelap dan lembab.

Beruntung, gang sempit nan gelap itu tidak digunakan tempat mesum. Tapi, praktik seks bebas di kalangan mahasiswa lumrah dilakukan di pemondokan. Sudah menjadi menu keseharian pada siang atau malam jika para pengantar makanan atau minuman salah satu warung bubur kacang ijo, mi instan, atau nasi goreng kerap memergoki mahasiswa memadu asmara di kamar kosannya.

Karena hampir setiap hari menemui laku tersebut, para pengantar makanan-minuman itu tidak merasa rikuh. Pun demikian dengan pasangan mahasiswa, jika kepergok mereka tidak tampak kaget, praktik itu dianggap biasa dan bisa dilakukan para mahasiswa lainnya.

Maka tidak heran, selokan di Jatinangor selain kotor, hitam, dan bau, juga disesaki beragam jenis sampah, termasuk kondom dan cangkang obat-obatan. 

Dengan membayar Rp20.000-an per bulan kepada pengelola kebersihan, warung, toko, atau pemondokan di Jatinangor seolah tidak lagi memiliki kewajiban dalam menyikapi sampah. Di area pemondokan kerap terlihat sampah berserakan. Puntung dan bungkus rokok, bekas bungkus permen, bekas nasi bungkus,  atau botol minuman cukup dibuang dari balik jendela. Setelah itu, habis perkara.

Sebentuk kemalasan mahasiswa dalam menghadapi sampah berbanding lurus dengan masih banyak mahasiswa yang lebih akrab dengan games online, pesta, atau sekadar kongkow di depan pusat perbelanjaan ketimbang menekuni bidang ilmu yang dipilihnya.

Malah, saking nyandu dengan games online, tidak hanya semalaman bergadang, para mahasiswa itu kerap bolos dan tidak mengumpulkan tugas-tugas kuliah. Maka, di kamar kosan mahasiswa seperti itu tidak terlihat jajaran buku atau tumpukan koran, majalah, dan makalah.

Bila pun kuliah, kampus tak ubahnya dijadikan sarana ajang pamer pamor. Pamer busana, pamer mobil, pamer motor. Kendaraan mentereng berseliweran. Area parkir di tiap fakultas serupa dengan ruang pamer sebuah dealer. Padahal, jarak pemondokan dan gedung tempat mencari dan memperdalam ilmu bila berjalan kaki pun tidak akan memakan waktu lebih dari setengah jam.

Akibat yang langsung dirasakan adalah asap hitam kendaraan bertebangan. Bau dan hawa Jatinangor makin kotor. Keadaan itu diperparah di lingkungan kampus pun ruang terbuka hijau makin berkurang.  Terang saja, panas, gerah, dan cucuran keringat saban hari menyiksa badan.

Karena ingin serba cepat atau mungkin sangkan terlihat gagah, untuk menghindari panas dan gerah jalan keluar yang dilakukan adalah membeli mesin pendingin (AC). Padahal, mungkin, mereka juga tahu, AC menyumbang peran besar yang menyebabkan pemanasan global. Tapi karena ingin instan téa, para pengusaha dan pengisi rumah sewa, pemegang kebijakan dan mahasiswa, lebih membeli dan menyalakan AC ketimbang memperbanyak pepohonan, bebungaan, atau rerumputan.

Bila pemerintah tampak menyerah, lantas pergeruan tinggi pun malah menyumbang masalah, Jatinangor tidak hanya acak-acakan, tapi pun menuju kehancuran. Lantas di mana peran mahasiswa yang, konon, mengaku sebagai agen perubahan? Akankah mereka tetap anteng dengan gaya hidup konsumtif atau terlena dengan permainan poker dan mobile legend?

Djasepudin

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar