Yamaha Lexi

Bincang Bully, Rainbow Cake: Psycho-Thriller Novel

  Kamis, 11 Juli 2019   Dadi Haryadi
Undangan diskusi novel Rainbow Cake. (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Sejak beredar 27 Mei 2019, Rainbow Cake novel setebal 260 halaman yang ditulis berdua Rayni N. Massardi dan Christyan AS, beberapa pekan terakhir ini berada di deretan 10 buku terlaris di jaringan toko buku Gramedia dan Paper Clip.

Novel psycho-thriller Rainbow Cake yang diterbitkan PT Gramedia Pustaka Utama (GPU) Jakarta dan dijual @ Rp78.000, itu cukup menarik perhatian, karena berkisah tentang seorang perempuan korban bullying (perundungan) yang kemudian berhasil membalaskan dendamnya.

Untuk berbagi ihwal proses penulisan dan keprihatinan akan aksi perundungan fisik maupun verbal itulah, pada Sabtu 27 Juli 2019, Rayni N. Massardi akan hadir di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut Nomor 2, Bandung.

Dalam acara bertajuk Bincang Bully Novel Rainbow Cake itu Rayni akan hadir mulai pukul 13.00 WIB sampai selesai bersama komunitas pecinta sastra di Bandung.

Soft-launching dan meet & greet Rainbow Cake dilakukan di Emerald Gramedia Bintaro Senin, 27 Mei 2019, sebelum kemudian resmi dilucurkan di Lounge XXI Plaza Indonesia, Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, Kamis, 30 Mei 2019.

Selain Rayni N. Massardi, budayawan Radhar Panca Dahana dan Sujiwo Tejo juga tampil sebagai pembahas pada grand-launching bertajuk Ngabuburit & Buka Buku Novel Rainbow Cake.

“Khusus Sujiwo Tejo, saya sangat berterima kasih atas kehadirannya, karena dua lagu karyanya. Titi Kolo Mongso dan Ingsun telah mengilhami, menggerakkan, dan memberikan enerji luar biasa dalam proses dan penulisan novel Rainbow Cake ini. Tanpa kedua lagu itu, mungkin novel ini tidak akan pernah lahir,” kata Rayni N. Massardi, yang menulis dan merampungkan karya fiksi genre psycho-thriller itu bersama seniman muda multitalenta Christyan AS, yang kini bermukim di Bali.

Sujiwo Tejo mengatakan membaca novel Rainbow Cake karya Rayni N. Massardi dan Christyan A.S. seperti sedang belajar menerjemahkan diri sendiri untuk hidup di sini dan hari ini.

Terlalu banyak di antara kita yang kini pandai menerjemahkan orang-orang Prancis dan lain-lain namun jatuh bangun ketika menerjemahkan dirinya sendiri ke dalam hayatnya,” katanya.

Sementara Radhar Panca Dahana, pada kesempatan itu menyatakan genre novel Rainbow Cake ini memiliki ruang eksplorasi sangat luas. Namun sedikit sekali digunakan pengarang negeri ini. Karya fiksi yang ditulis dua pengarang dari dua generasi berbeda dan berlainan gender ini memang termasuk langka.

Tidak hanya di Indonesia tapi juga di dunia. Proses penulisannya pun cukup unik. Gagasan utama dituliskan Rayni pada 2018 hingga selesai, baru kemudian diserahkan kepada Christyan untuk ditambahkurangi dan dilengkapi sesuai imajinasi dan kreasinya sendiri. Setelah rampung mereka kemudian mendiskusikan, menyuntingulang dan saling melengkapi hingga mencapai bentuk final pada 2019.

Tugas Christyan tidak hanya menulis dan melengkapi teks, tapi juga membuat ilustrasi di setiap bab dan kemudian membuat rancangan sampulnya. Setelah disepakati mereka kemudian meminta Nanang Gani untuk membuat desain cover sebagaimana tampak hasilnya saat ini.

Kerjasama Rayni dengan Christyan tidak hanya baru kali ini. Sebelumnya, Rayni telah meminta Christyan untuk membuat ilustrasi dan gambar sampul kumpulan cerita pendek bergambar (graphics short stories) Daun Itu Mati (Prenada Media-2017). Dan kini mereka tengah menyiapkan cerita bergambar (graphic story) Pocong Ketakutan.

Bagi Rayni, buku Rainbow Cake ini adalah karya fiksinya yang kesembilan, dan merupakan pengalaman pertamanya menulis sebuah karya dalam genre thriller. Dan, tanpa terduga, karyanya ini seolah digerakkan serta dijiwai oleh enerji luar biasa dari dua lagu karya seniman Sudjiwo Tedjo: “Titi Kolo Mongso” dan “Ingsun. Rainbow Cake adalah novel Rayni yang kedua setelah “Langit Terbuka” (Prenada Media-2017).

Sebelumnya, Rayni dikenal sebagai fashion styliste, dan pengarang cerita pendek dan sudah menerbitkan sejumlah buku kumpulan cerpen, serta menulis beberapa buku nonfiksi.

SINOPSIS

Pengalaman di-bully pada masa remaja, membuat Hilda selalu tidak nyaman dengan dirinya hingga hatinya semakin mengeras.

Melanjutkan sekolah ke Paris, ia perlahan mengubah cara pandang terhadap diri dan gaya hidupnya. Di Kota Budaya itu Hilda belajar memasak dan bikin kue.

Kegemaran barunya mengunjungi galeri seni, membuatnya terpaku di hadapan sebuah lukisan yang menggetarkan dan perlahan membuka pengalaman aneh pada tubuhnya.

Hijrah ke Ubud Bali, ia mulai dihantui musik dan lagu yang tiba-tiba bersarang di kepala dan telinganya. Selain merasa ngeri dan membuatnya mual dan pening, ia juga menikmati gairah dan energi aneh dari apa yang didengarnya. Sampai ia bertemu dengan orang-orang dari masa lalu yang pernah melukai hati dan sangat dibencinya.

Balik ke Jakarta dan sukses sebagai pembuat dan pemilik toko kue, masalalunya semakin menghantui dan merusak jiwanya. Cinta, benci, rindu, dan dendam telah mengaduk-aduk emosi dan energinya yang luar biasa. Alunan musik dan lagu misterius yang terus menghantuinya telah mendorongnya untuk melakukan hal-hal tak terduga termasuk mewujudkan seni instalasi “Kue Terindah”. Sebuah “Rainbow Cake” yang berakhir dengan kengerian dan malapetaka.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar