Yamaha

Quo Vadis Sensus Penduduk 2020?

  Kamis, 11 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Logo BPS. (Wikipedia)

Badan Pusat Statistik (BPS) akan melaksanakan Sensus Penduduk (SP) di tahun 2020. Sensus ini berbeda dari SP sebelum-sebelumnya. Apa bedanya? Bagaimana sebenarnya perjalanan SP di Indonesia dari zaman kolonial, sejauh mana persiapan dan perjalanan SP2020, dan akan dibawa ke mana hasil SP2020 itu, Quo Vadis SP2020?

Sensus Penduduk adalah keseluruhan proses pengumpulan, pengolahan, peyusunan, dan penerbitan data demografi, ekonomi, dan sosial yang menyangkut semua penduduk pada waktu tertentu di suatu negara/wilayah. UU No 16 tahun 1997 Pasal 11 menyatakan (BPS) wajib menyelenggarakan statistik dasar. Peraturan Pemerintah (PP) No. 51 tahun 1999 menjelaskan secara rinci penyelenggaraan statistik yang meliputi sensus dan survei. UU No.16 tahun 1997 Pasal 8 ayat 1 menghendaki agar SP di Indonesia diselenggarakan sekurang-kurangnya sekali dalam 10 tahun oleh BPS. SP di Indonesia dilaksanakan pada tahun yang berakhiran nol. Tujuan SP yakni mengumpulkan data dasar penduduk, komposisinya menurut jenis kelamin, sebaran geografis, dan karakteristik pokok sosial-ekonomi.

Sejarah Sensus Penduduk 

Di Indonesia telah dilakukan 8 kali sensus, dua kali dilaksanakan ketika zaman pemerintahan Hindia Belanda, yaitu SP di tahun 1920 (hanya di Pulau Jawa) dan 1930 (meliputi seluruh nusantara). Sedangkan enam SP berikutnya dilakukan setelah Indonesia merdeka, yaitu SP tahun 1961, 1971, 1980, 1990, 2000 dan tahun 2010. Hasil SP tahun 1961 (sekitar 97 juta jiwa), tahun 1971 (jumlah penduduk sekitar 119,2 juta jiwa), hingga tahun 2010 (sekitar 237,6 juta jiwa). Sensus Penduduk tahun 2020 merupakan sensus yang ke-7 di Indonesia setelah Indonesia merdeka.

Dari waktu ke waktu, variabel yang ditanyakan dalam SP semakin banyak dan kompleks. Jumlah variabel dalam SP2000 sebanyak 15 variabel, sedangkan dalam SP2010 menjadi 43 variabel. SP2010 menggunakan sekitar 700 ribu petugas, yang merupakan 2 kali lipat lebih petugas SP2000. Dalam SP2010, pencacahan lengkapnya tidak hanya mencakup karakteristik pokok penduduk yang lazim, seperti umur dan jenis kelamin, tetapi juga data kematian ibu, mobilitas penduduk, penduduk cacat, dan agama.

Selain itu, dikumpulkan data sosial ekonomi yang cukup rinci melalui kegiatan sensus sampel. Melalui sensus sampel ini dikumpulkan sejumlah data seperti kepemilikan rumah tangga, pendidikan anggota rumah tangga, serta kegiatan ekonomi penduduk.

Sensus Penduduk 2020 dengan Combined Method

Selama ini, BPS mengumpulkan data SP dengan cara manual (door to door). Berkaca dari pengalaman SP sebelum-sebelumnya, kondisi geografis Indonesia yang tersebar di 17.000 pulau (negara kepulauan) sehingga membutuhkan biaya SP yang besar terkait penyediaan instrumen pencacahan, perekrutan petugas, pelatihan petugas, honor petugas, biaya transport untuk menjangkau seluruh rumah penduduk, dll.

AYO BACA : Start Up Ini Bantu Rawat Citarum Lewat Aplikasi Pemantau Pohon

Dengan semakin banyaknya petugas dan wilayah tersebar itu, membuat non sampling error (kesalahan di luar metode sampling, terjadi akibat kesalahan manusia, kesalahan petugas atau responden, dan lain-lain) membesar, manajemen lapangan harus lebih ekstra, dan perapihan data membutuhkan waktu yang lama.

Selain itu, data jumlah penduduk yang dihasilkan akan berbeda dari data registrasi penduduk yang dikumpulkan Dinas Kependudukan dan Pencacatan Sipil (Disdukcapil), BKKBN, dan lembaga lainnya karena metode pengumpulan data, waktu, dan konsep penduduknya berbeda. Konsep penduduk dalam SP BPS adalah de jure (konsep “seseorang biasanya menetap/bertempat tinggal”) dan de facto (konsep “seseorang berada pada saat pencacahan”).

SP2020 diharapkan memiliki manajemen lapangan yang lebih baik, terkait koordinasi, pengawasan, dan pencacahannya. Penduduk dengan mobilitas yang tinggi akan tetap sulit ditemui bila menggunakan metode manual. Pergeseran kehidupan yang semakin melek teknologi, ledakan informasi di era Revolusi Industri 4.0, penduduk bergerak semakin cepat dan dinamis, infrastruktur telekomunikasi membaik, kemajuan teknologi informasi yang pesat, dan meningkatnya kualitas data registrasi dapat dimanfaatkan dalam SP2020.

SP2020 dilaksanakan untuk menyediakan data jumlah, komposisi, distribusi, dan karakteristik penduduk menuju Satu Data Kependudukan Indonesia. SP2020 harus diimplementasikan juga untuk mewujudkan Register Based Census (data registrasi penduduk yang berdasarkan sensus) sesuai rekomendasi PBB, sampling frame Survei Sosial Ekonomi BPS, data parameter demografi (fertilitas, mortalitas, dan migrasi), serta karakteristik penduduk lainnya untuk keperluan proyeksi penduduk, indikator SDGs, dan sebagai perencanaan dan evaluasi pembangunan.

SP2020 kali ini menggunakan Metode Kombinasi yang memadukan penggunaan data registrasi penduduk yang dikumpulkan Disdukcapil dan lapangan dengan tujuan mewujudkan Satu Data Kependudukan Indonesia. Pada tahap pertama, penduduk diberikan kesempatan untuk mengisi sendiri kuesioner sensus lewat alamat web: https//sensus.bps.go.id, teknik pengisian ini disebut Computer Aided Web Interviewing (CAWI). Metode ini menggunakan basis data registrasi Disdukcapil. Pengisian data secara mandiri ini disebut Sensus Mandiri. Di dalam web sensus, Anda akan diminta memasukkan NIK dan nomor KK, lalu muncul daftar anggota rumah tangga, perbarui data untuk seluruh anggota rumah tangga dan kondisi tempat tinggal Anda. Dari pendataan lewat CAWI tersebut, didapatkan Daftar Penduduk yang akan dicetak dan dikonfirmasi kebenarannya kepada ketua/pengurus SLS/RT/RW atau apartemen.

Untuk penduduk yang seluruh anggota rumah tangganya belum mengisi CAWI, ataupun yang baru terisi sebagian, maka akan dilakukan ground check oleh petugas sensus. Mereka akan didata secara door to door dengan menggunakan Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) atau Pen and Paper Interviewing (PAPI). Dalam metode CAPI, petugas akan menanyakan isian sensus dan mengisikannya pada aplikasi android di smartphone-nya. Untuk daerah yang sulit jaringan internet, akan dilakukan pencacahan dengan cara manual menggunakan kuesioner, metode ini disebut Pen and Paper Interviewing (PAPI).

Perjalanan Sensus Penduduk 2020

Tahapan kegiatan SP2020 sudah dilakukan sejak tahun 2018, mulai dari koordinasi dan konsolidasi dengan Disdukcapil, Bappenas, Kemendikbud, Kemendikti, Forum Rektor Indonesia, BKKBN, KPI, dan stakeholder lainnya. Selain itu, dilakukan pemetaan segmentasi dan potensi penduduk terkait pemanfaatan internet, menyusun pedoman sosialisasi dan publisitas, melakukan publisitas dan sosialisasi, menyusun daftar potensi untuk CAWI, membuat nota kesepahaman (MoU) dan Perjanjian Kerja Sama (PKS), dan lain-lain.

AYO BACA : BPS Akan Lakukan Sensus Penduduk 2020 dan Kisah-Kisah di Baliknya

Hal yang dilakukan dalam penyiapan basis data dasar antara lain penyiapan server dan jaringan, teknis replikasi data, transfer data kependudukan, bridging data wilayah, penyiapan platform self enumeration, dll. BPS menyusun peta dasar dan informasi muatan Wilayah Kerja Statistik (Wilkerstat) SP2020. Kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan wilkerstat dari SP2010 yang telah dimutakhirkan secara periodik. Salah satu bentuk pemutakhirannya adalah dengan melakukan pemutakhiran jumlah muatan ketika dilakukan kegiatan survei dan perubahan Wilayah Administrasi (WA) atau Blok Sensus (BS) ketika terjadi pemekaran atau penggabungan wilayah. Kegiatan ini dilaksanakan pada tahun 2018. Kegiatan pemetaan dan pemutakhiran muatan wilkerstat SP2020 secara menyeluruh dilaksanakan pada tahun 2019. 

Launching Markas Besar (Mabes) di BPS Pusat RI dan Markas Koordinasi (Mako) SP2020 di seluruh BPS Kabupaten/Kota di Indonesia telah dilakukan pada awal tahun 2019. Pada Juli 2019, BPS melakukan Pilot SP2020/Gladi Bersih SP2020 di 7 Provinsi di Indonesia, antara lain Sumatera Selatan, Sumatera Utara, DKI Jakarta, Kalimantan Selatan, Nusa Tenggara Timur, Jawa Barat dan Maluku Utara. Tujuan Pilot SP2020 untuk menyempurnakan instrumen dan proses bisnis SP2020 pada tahapan koordinasi, konsolidasi dan pencacahan lapangan dengan metode CAPI dan PAPI. Kegiatan pencacahan SP2020 antara lain pencacahan sensus lengkap-shortform di tahun 2020 dan pencacahan sensus sampel-fullform di tahun 2021.

Sensus Penduduk 2020 bagi Indonesia

Jika dilihat hasil SP dan SUPAS (Survei Antar Sensus) BPS, jumlah penduduk Indonesia terus mengalami peningkatan. Hasil SP2000 hingga SUPAS2015, jumlah penduduk Indonesia mengalami peningkatan sekitar 50,06 juta jiwa atau rata-rata 3,33 juta setiap tahun. Komposisi penduduk menurut umur dan jenis kelamin dapat dilihat dari piramida penduduk. Piramida penduduk hasil SP1971 hingga SP2000 menunjukkan bagian bawah yang melebar (angka kelahiran tinggi) dan lebih runcing dibagian atas (angka kematian tinggi). Semakin lama, piramida semakin cembung di bagian tengah yang menunjukkan jumlah penduduk usia muda semakin banyak dan tingkat kelahiran dan kematian yang menurun.

Piramida penduduk hasil SP2010 menunjukkan tipe ekspansif, sebagian besar penduduk berada pada kelompok usia muda. Bagaimana bentuk piramida penduduk dari hasil SP2020 nanti? Pada saat itu, kohor penduduk muda di tahun 2000 akan menjadi dewasa di tahun 2020. Laju Pertumbuhan Penduduk (LPP) hasil SP1971 hingga SUPAS2015 terus mengalami penurunan sejalan dengan berhasilnya program Keluarga Berencana (KB). LPP tahun 1971-1980 sebesar 2,33 persen, hingga LPP tahun 2010-2015 sebesar 1,43 persen.

Umur median digunakan untuk menggambarkan kondisi penduduk di suatu wilayah termasuk “muda”, “tua”, “terlalu tua” atau sebaliknya. Populasi penduduk dengan nilai median kurang dari 20 digambarkan sebagai “muda”, 20 sampai 29 sebagai “menengah”, dan lebih dari 30 sebagai “tua”. Hasil SP1971-SP1980 Indonesia termasuk kategori penduduk “muda”. Pada SP1990-SP2010 menjadi kategori penduduk “menengah”. Umur median penduduk Indonesia tahun 2010 sebesar 27,2 tahun. Artinya, pemusatan penduduk terjadi pada kelompok umur 25-29 tahun. Semakin lama, jumlah penduduk usia dewasa di Indonesia semakin meningkat. Selama tahun 1971-2010, proporsi penduduk lanjut usia (penduduk 65 tahun keatas) mempunyai tren yang meningkat. Hasil SP1971, penduduk lansia sebesar 4,5 persen dan pada SUPAS2015 meningkat menjadi 8,47 persen. Dengan demikian, beberapa tahun ke depan Indonesia akan memasuki ageing population (persentase penduduk usia 60 tahun keatas mencapai 10 persen).

Dari SP2020 juga dapat dilihat bagaimana bonus demografi di Indonesia masih terjadi atau tidak. Bonus demografi adalah keadaan dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk usia nonproduktif atau rasio ketergantungan di bawah 50. Rasio ketergantungan secara nasional cenderung menurun dari tahun 1971-2015. Pada tahun 2000 sebesar 53,76 menjadi 49,2 pada SUPAS 2015, yang berarti setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung beban sebanyak 49,2 penduduk usia nonproduktif (kurang dari 15 tahun dan 65 tahun keatas). Diharapkan tingkat kesejahteraan penduduk semakin meningkat dengan keadaan tersebut.

Pelaksanaan SP2020 dengan combined method diharapkan akan memberikan hasil yang berkualitas dan dapat memberikan gambaran berbagai indikator kependudukan secara akurat dan menyeluruh sehingga berbagai target/sasaran dan program pemerintah akan kena sasaran. Pastikan anda mengawal perjalanan SP2020, dimana rangkaian kegiatannya sudah berjalan sejak saat ini dan pencacahan puncaknya akan dilaksanakan di tahun 2020 hingga 2021 (SP2020 Lanjutan). Pastikan Anda mengetahui informasi, tahapan, dan pada waktunya, pastikan anda melakukan sensus mandiri untuk keluarga Anda. Bayangkan, dengan pengisian sensus mandiri untuk seluruh anggota rumah tangga kita, petugas sensus tidak perlu mendatangi kita. Kita tentu dapat menghemat biaya SP2020 negara kita. Quo Vadis SP2020? Semua kembali kepada Anda. Anda Tercatat Data Akurat!

Nurwenda Ratna Juwita, SST

Fungsional Ahli Statistisi Pertama BPS Kota Tasikmalaya

AYO BACA : Era Baru Sensus Penduduk 2020

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar