Yamaha NMax

Monyet Juga Ingin Bahagia

  Kamis, 11 Juli 2019   Andres Fatubun
Macaca Fascicularis atau monyet berekor panjang di tempat rehabilitasi hewan di kawasan Lembang. (Aulia Padlika Muslim)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Di balik atraksi topeng monyet yang mengundang tawa, tersimpan cerita kelam bagi hewan primata dengan nama latin Macaca Fascicularis ini. Demi bertingkah lucu dan menurut apa yang diperintahkan majikannya, dia harus menjalani berbagai siksaan.

Di kota Bandung atraksi topeng monyet ini kerap ditemukan di perempatan jalan raya atau di perkampungan.

Menurut pendiri Jakarta Animal Aid Network (JAAN), Femke Den Haas, ada beberapa alasan mengapa penggiat topeng monyet ini masih melakukan aksinya tersebut. Faktor utama adalah karena himpitan ekonomi dan profesi tersebut adalah pekerjaan yang turun-menurun. 

Ia menceritakan cerita tentang pengalamannya saat akan melakukan proses penangkapan kuda delman, dimana dia menemukan keluarga tersebut sudah melakukan usaha delman dari kakeknya yang sudah diturunkan ke anaknya. Hal yang sama berlaku juga dalam profesi atraksi topeng monyet.

Dari sejumlah wawancara dengan penggiat atraksi topeng monyet, mereka mengaku mendapat penghasilan rata-rata kurang dari Rp100 ribu perhari. Jumlah tersebut habis digunakan untuk kebutuhan manusia, sedangkan si monyet mendapatkan seadanya. Hal ini berdampak pada "kesejahteraan" monyet.

Selain alasan ekonomi, aspek penegakan hukum yang belum berjalan dengan semestinya membuat penggiat topeng monyet masih marak. Padahal menurut Pasal 302 KUHP konsekuensi atas segala bentuk kekerasan terhadap hewan seperti melukai, merugikan kesehatan, hingga tidak memberi makan diancam dengan pidana paling lama tiga bulan (denda Rp 4.500).

Koordinator PROFAUNA Indonesia wilayah Jawa Barat, Nadya Andriani, mengatakan monyet Macaca ini memang tidak termasuk ke dalam hewan yang dilindungi, sehingga hukumnya juga tidak kuat untuk melindungi mereka dari siksaan.

“Demi mendapatkan uang, pegiat topeng monyet sampai harus menyiksa monyetnya. Sebenernya memang nggak adil, kasihan. Monyetnya juga pengen hidup bebas,” kata Nadya.

Namun Pro Fauna Jabar tak tinggal diam. Mereka kerap melakukan edukasi dan meminta masyarakat untuk tidak memberikan uang pada atraksi topeng monyet. Sebagai gantinya berilah makanan atau buah-buahan, karena pemberian tersebut lebih bemanfaat bagi si monyet berekor panjang.

Rehabilitasi Monyet
Sebagai upaya untuk mengembalikan Macaca Fascicularis ke habitat aslinya, JAAN memiliki tempat rehabilitasi monyet di kawasan Lembang. Monyet tersebut merupakan "sitaan" dari sejumlah tempat, sebagian besar dari pelaku atraksi topeng monyet. 

“JAAN terbentuk juga karena kepedulian kita terhadap satwa domestik Indonesia yang banyak dan beragam yang ingin kita lindungi dan lestarikan agar tidak punah, maka dari itu kita dirikanlah JAAN ini bersama beberapa rekan saya,” kata Femke.

Macaca Fascicularis adalah monyet yang hidup berkelompok. Apabila mereka diburu dan dipisahkan dari kelompoknya, mereka akan sulit mencari kelompoknya kembali. Maka dari itu JAAN mendirikan sekolah rehabilitasi di beberapa daerah untuk merehabilitasi monyet-monyet tersebut sebelum dilepasliarkan ke alam bebas. (Aulia Padlika Muslim)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar