Yamaha Aerox

Tol Cisumdawu Tambah Ancaman Ekonomi Cirebon

  Rabu, 10 Juli 2019   Erika Lia
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon Abdul Majid Ikram (kiri). (Erika Lia/Ayocirebon.com)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Cirebon terancam diabaikan dengan aktifnya operasional Bandara Internasional Jawa Barat (BIJB) Kertajati. Ancaman bertambah kala Tol Cisumdawu rampung.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Cirebon Abdul Majid Ikram mengungkapkan, saat ini terjadi fenomena menarik di dunia perhotelan se-Wilayah Cirebon. Tepatnya pasca Tol Cipali dibuka, ditambah beroperasinya Bandara Kertajati di Kabupaten Majalengka, tingkat hunian hotel di Cirebon naik.

"Okupansi hotel rata-rata naik sampai 100%. Tapi, length of stay (lama menginap) para tamu saat ini justru lebih sebentar dibanding ketika Tol Cipali dan Bandara Kertajati belum ada," tuturnya, Rabu (10/7/2019).

Turunnya length of stay para tamu hotel dinilai menjadi salah satu efek samping dari kemudahan akses menuju Cirebon, baik dengan keberadaan tol, bandara, maupun pergerakan kereta api.

Hanya, diakuinya, secara ekonomi makro, kemudahan akses itu melahirkan efisiensi dari segi biaya transportasi dan mendorong ekonomi daerah. Menurut survei yang dilakukan pihaknya, permintaan makanan di Cirebon meningkat pesat.

Efek samping tersebut berpotensi menjadi negatif bagi Cirebon, kala otoritas di masing-masing daerah, yakni Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan, tak menangkap peluang untuk membuat 'tamu-tamunya' bertahan di Cirebon.

"Kepala daerah harus menangkap peluang agar bagaimana caranya turis berhenti di Cirebon. Nggak bablas terbang (dari bandara). Apalagi kalau Tol Cisumdawu jadi, bisa-bisa Cirebon ditinggalin," ucapnya.

Dalam hal ini, pihaknya terutama menekankan upaya peningkatan sektor pariwisata. Namun, upaya itu tak boleh hanya menarget wisatawan domestik, melainkan harus pula menyasar wisatawan asing sebagai persiapan ketika Bandara Kertajati dioperasikan secara internasional kelak.

Majid menyebut, dibutuhkan kreativitas pariwisata. Dia sendiri mengindikasi, fokus kepala daerah saat ini belum optimal menangkap peluang keberadaan Bandara Kertajati.

"Masih jauh panggang dari api, kalau bukan kepala daerah, nggak bisa (peningkatan pariwisata). BI sebenarnya bisa, tapi itu bukan tupoksi kami," tegasnya.

Dia mengingatkan, pemanfaatan peluang dengan adanya kemudahan akses transportasi di Wilayah Cirebon harus dimulai sejak sekarang, sebelum Tol Cisumdawu rampung. Ketika Tol Cisumdawu selesai dan mulai digunakan, pihaknya mencemaskan keengganan wisatawan singgah ke Cirebon akibat kurang memikatnya kawasan ini.

Meski telah menegaskan bukan tupoksi BI meningkatkan pariwisata, dia meyakinkan dukungan pihaknya terhadap upaya-upaya peningkatan itu oleh pemerintah daerah terkait.

Majid memandang, banyak potensi wisata Cirebon yang bisa dikembangkan. Namun, dari sekian banyak potensi itu, wisata kuliner dan belanja disarankannya sebagai prioritas pengembangan saat ini.

"Kuliner Cirebon kan sudah terkenal sekarang, mulai empal gentong, nasi jamblang, nasi lengko, docang, dan lainnya. Juga ada wisata belanja yang terkenal, seperti batik," bebernya.

Untuk wisata sejarah, yang selama ini pula menjadi kekuatan wisata Cirebon, Majid menilai daya jualnya masih lebih rendah ketimbang kuliner dan wisata belanja. Majid menunjuk Desa Trusmi di Kabupaten Cirebon sebagai salah satu area yang layak dikembangkan sebagai kawasan wisata, mengingat ekosistemnya sudah terbentuk dengan statusnya sebagai kawasan sentra batik.

Sementara itu, rendahnya length of stay hotel tak ditampik hotelier di Cirebon, salah satunya General Manager Aston Hotel Cirebon, Fajar Basuki. Saat ini, rata-rata lama menginap para tamu hanya 1,3 hari saja dan itu tak berdampak secara signifikan terhadap ekonomi.

"Seharusnya minimal dua hari, karena selama waktu itu uang yang berputar di Cirebon lebih banyak dibanding hanya 1,3 hari saja. Secara ekonomi, 1,3 hari nggak ngaruh, karena mereka (tamu) paling makan doang," bebernya kepada Ayocirebon.com.

Hotel di Wilayah Cirebon, lanjutnya, rata-rata belum benar-benar terdampak keberadaan akses transportasi tol maupun bandara. Menurutnya, ini menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah maupun stakeholder terkait, dalam hal ini PHRI.

"PHRI sendiri sejauh ini telah mengupayakan untuk membuat turis tertarik dengan mempercantik performa hotel di internet. Kami promosikan pula potensi-potensi Cirebon di sana," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar