Yamaha Aerox

19 Tahun Dihuni, Lahan Transmigrasi Lokal Legok Pal Tasikmalaya Belum Tersertifikasi

  Rabu, 10 Juli 2019   Nur Khansa Ranawati
Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Jawa Barat Muchamad Ade Afriandi (batik biru) saat meninjau kawasan transmigrasi Legok Pal Desa Campaka Sari Kecamatan Bojong Gambir, Kabupaten Tasikmalaya, Selasa (9/7/2019). (Istimewa)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM—Lahan transmigrasi Legok Pal Desa Campaka Sari Kecamatan Bojong Gambir, Kabupaten Tasikmalaya, hingga knii belum disertifikasi. Padahal, terhitung sudah 19 tahun lamanya penduduk transmigran menempati kawasan tersebut.

Selain itu, akses jalan dan infrastruktur yang terdapat di kawasan tersebut dinilai belum memadai. Sebagian kondisi warga pun masih berada dalam garis kemiskinan.

Hal tersebut diungkapkan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat Muchamad Ade Afriandi, saat membuka Pelatihan Peningkatan Keterampilan Kerja Mandiri Masyarakat Transmigrasi Lokal di Tasikmalaya, Selasa (9/7/2019). 

“Persoalan utama yang dihadapi masyarakat translok Legok Pal adalah belum ada sertifikasi lahan, akses jalan atau infrastruktur yang kurang memadai, dan kondisi masyarakat UPT yang berada dalam kondisi taraf TDK meningkatkan. Katakan lah masih berada di garis kemiskinan,” ungkapnya dalam keterangan resmi yang diterima Ayobandung.com. 

Adapun lahan transmigrasi lokal Legok Pal tersebut mulai dihuni transmigran pada 2000. Daerah transmigrasi ini dihuni warga asal Aceh yang saat itu tengah terjebak konflik. Semula, jumlah total penghuni kawasan tersebut tercatat sebanyak 200 KK. Namun, kini tinggal 128 KK yang masih bertahan. Area transmigran lokal sendiri berada di lahan seluas 200 ha. Satu kepala keluarga kini mengelola kurang lebih 2.500 meter tanah. 

Ade mengatakan, guna mengentaskan masalah sertifikasi, pihaknya masih akan mengumpulkan data-data dan mendorong untuk melakukan pensertifikatan. Berbagai data yang diperlukan akan dikumpulkan untuk keperluan sertifikasi tersebut. 

“Setelah adanya data-data, denah, atau pun pendukung lain, akan mudah melakukan pensertifikatan,” ungkapnya. 

Sementara itu, untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat transmigrasi lokal Legok Pal, dia mengatakan, Disnakertrans Jabar akan memberikan pelatihan keterampilan kepada kaum ibu. Keterampilan tersebut diarahkan pada penciptaan inovasi produk sehingga bernilai jual tinggi. 

“Diperlukan inovasi produk dalam memasarkan produk. Sampeu (singkong) jangan dibikin keripik lagi.  Harus ada inovasi lain,” katanya. 

Di samping masalah sertifikasi lahan dan peningkatan kesejahteraan warga, hal lain yang masih perlu mendapat perhatian di kawasan Legok Pal adalah akses jalan menuju tempat tersebut, karena masih berbentuk batu dan tanah dengan permukaan jalan yang rusak dan bergelombang.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar