Yamaha Lexi

Mewawas Hutan Belantara Desa Mandalamekar dan Wisata di Dalamnya

  Rabu, 10 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Curug Sawer, Kampung Mekarjaya, Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya. (Dok. Nadila Taufana)

Kepakan sayap tongeret yang terkadang memekkan telinga semakin terdengar di Hutan Mata Air, Desa Mandalamekar, Kecamatan Jatiwaras, Kabupaten Tasikmalaya. Menempuh perjalanan selama 15 menit dari Kampung Cinunjang menuju Kampung Mekarjaya untuk melihat tiga destinasi wisata yang ‘tersembunyi’ di dalam Hutan Mata Air, motor matic ini dengan tangkas dan taktis melewati jalanan berlubang dalam yang sudah diaspal berkali-kali namun tetap rusak dan batu-batu besar tersebar di sekitarnya.

Jalan tanah yang ditapaki kian menyempit seiring kaki melintasi sawah dan jembatan kayu pendek tanpa pegangan. Sawah yang semula berdekatan dengan rumah warga Kampung Mekarjaya berganti dengan sawah yang semakin dekat dengan pepohonanan lebat. Suara air yang mengalir di sungai sekitaran sawah mulai terdengar walaupun di musim kemarau.

Di tiga per empat perjalanan, medan yang dihadapi mulai berbeda dari sebelumnya, bukan hanya jalan tanah sempit atau licin, tapi sekarang disertai batuan licin yang menyatu dengan tanah. Pijakan demi pijakan dilakukan secara perlahan, hati-hati, dan mantap. Curug yang akan dilewati pertama adalah Curug Patra dan Curug Amoh, tapi sebelum menghabiskan waktu di sana, saya memutuskan untuk menghampiri curug yang berada jauh di bawah dua curug tadi, yakni Curug Sawer.

Nama yang disematkan pada curug ini sama dengan kata sawer sebenarnya. Hanya saja, yang disebar atau disawer bukan uang, tapi air. Di musim hujan saat air yang mengalir sedang deras-derasnya, sebelum sampai ke titik curug, pengunjung akan disambut dengan ‘saweran’ air dari kejauhan, karena air terjunnya yang memanjang dan terus-menerus menghantam bebatuan di bawahnya dengan keras.

“Sebenarnya ada nama lain, yakni Curug Pengantin. Tapi yang lebih terkenal Curug Sawer,” kata Dodi Rosadi yang sewaktu itu jadi pemandu juga pemerhati lingkungan yang tergabung di kelompok swadaya masyarakat Mitra Alam Munggaran.

Setelah menyebrangi sungai dari Curug Patra, saya kembali berhadapan dengan jalanan tanah yang sempit, licin, penuh bebatuan, dan semakin terjal. Sekitar 20 menit berjalan dengan hati-hati dan diselipi berpegangan pada batang pohon setiap ingin melewati tanah licin yang lebih terjal, sampailah saya di Curug Sawer.

Karena sudah masuk musim kemarau, saya tidak disambut dengan ‘saweran’ air seperti di bulan-bulan musim penghujan. Sekilas mungkin curug ini akan terlihat sama saja di kedua musim, tapi sensasi cipratan airnya tetap lebih terasa di musim hujan.

Bongkah bersemayam di bagian bawah curug, sebagian ada yang dialiri air dari kolam utama, sebagiannya lagi kering. Biasanya curug terbentuk karena adanya struktur geologi dan adanya sesar naik, sehingga membentuk blok batuan yang membuat tebing curug terangkat.

Kemungkinan batuan ini berasal dari tebing curug, karena dengan ukuran dan massa yang besar, kecil kemungkinan jika sumber bongkah ini jauh dari tempat sekarang. Batuan ini jatuh bisa jadi karena adanya erosi yang terjadi akibat air di atasnya dan gaya gravitasi yang membawa bagian tebing jatuh atau karena sesar naik yang terjadi ketika pembentukan curug.

Curug Sawer jadi salah satu destinasi wisata yang ikonis dari Desa Mandalamekar, tapi katae Dodi, pengelolaannya belum begitu bagus, walaupun begitu, mereka sudah menyiapkan rencana untuk pengelolaan yang lebih baik, termasuk untuk aksesenya.

Setelah cukup memanjakan telinga dengan mendengar gemuruh air terjun, saya berpindah lagi ke atas, lewat jalan yang berbeda dari jalan pergi sebelumnya. Jalan yang berbeda ini mengantarkan ke curug yang tersembunyi di balik pepohonan. Sebelum ke Curug Amoh, saya disuguhkan pemandangan kolam dengan air berwarna biru sian dan ceruk di sebrangnya.

Berjalan melewati akar pohon yang menyembul di permukaan tanah dan menyebrangi air di dekat curug, akhirnya pemandangan berganti jadi Curug Amoh yang berada di atas Curug Patra. Di sini ada sebuah kolam kecil di sisi ujung yang masih dialiri air dari air terjunnya langsung, airnya berwarna seperti di kolam utama Curug Sawer. Air yang nampak segar di kolam bulat itu seakan mengajak untuk berendam, apalagi dengan kedalamannya yang kurang lebih hanya 1.5 meter.

 

Upaya Konservasi yang Serius

Pepohonan yang menemani eksistensi curug-curug ini adalah hasil dari penanaman yang dilakukan kelompok swadaya masyarakat Desa Mandalamekar yang bernama Mitra Alam Munggaran. Kelompok yang berdiri sejak tahun 2002 ini didasari keinginan anak-anak desa dan secara konsisten meneggakan kembali fungsi Hutan Mata Air sebagai daerah resapan dan sumber mata air.

Sebelum 2002, pohon-pohon ini banyak ditebang dan rusak sehingga banyak sumber air yang terganggu bahkan mati di beberapa titik. Di tahun 2005, mereka mulai menanami lahan kosong dan kritis dengan bermodalkan bibit yang dipungut dari tempat sampah. “Apa yang ada, kami tanam. Urusan tumbuh mah nanti Allah yang menghendaki,” ujar Tata, Manajer Pemeliharaan dan Pengawasatan Hutan.

‘Usaha tidak akan mengkhianati hasil’ terjadi pada Mitra Alam Munggaran dan Hutan Mata Air, tahun 2009 grand dari organisasi non-profit yang berlokasi di Berkeley, California, Amerika Serikat bernama Seacology.

Organisasi ini juga pernah memberi penghargaan individu tahunannya, Seacology Prize, kepada Direktur Utama PT Bumades Pancamandala yang juga anggota Mitra Alam Munggaran, Irman Meilandi, di tahun 2011 berkat upaya dan perjalanannya berkontribusi di lingkungan alam daerah timur Indonesia.

Sejak sekitar 2013 hingga kini, Irman dijadikan country representative Seacology untuk mendorong desa atau komunitas lain di Indonesia mendapat penghargaan kelompok dalam upaya perlindungan hutan, pesisir, maupun laut. Seacology juga memberikan bantuan biaya untuk desa ini dalam mendirikan gedung serbaguna, balai desa, dan workshop bambu yang sedang dalam pembangunan.

Setelah berkelana cukup lama di Indonesia bagian timur, akhirnya tahun 2008 Irman kembali ke kampung halamannya dan melanjutkan upaya konservasi bersama teman-teman Mitra Alam Munggaran. “Jadi saya melihat ini sebagai momentum untuk mulai cari potensi. Mandalamekar dan sekitarnya masih sangat mungkin untuk dikelola terutama dalam sumber dayanya, baik perkebunan, pertanian atau wisata seperti air terjun, kawasan hutan. Perikanan peternakan juga bagus,” jelas Irman.

Di sisi lain hutan belantara Desa Mandalamekar, ada sebuah kawasan bernama Karang Soak. Pepohonan di sini lebih lebat karena bagian ini benar-benar hutan, walaupun dulu sempat dijadikan akses untuk menuju ke Curug Cinunjang. Karena penanaman kembali di beberapa tahun ke belakang, jalan tanah yang mulanya masih terlihat jelas kini ditutupi rumput.

Langkah dan pandangan harus lebih diperhatikan daripada di jalan menuju Curug Sawer. Karena di dalam hutan yang jalannya mulai tertutup itu, daun dan ranting tanpa permisi tiba-tiba menghantam wajah. Belum lagi, batang pohon berduri yang tumbuh dimana-mana, membuat saya harus lebih hati-hati jika ingin berpegangan.

Seperti namanya yang berarti batu cerukan, Karang Soak jadi tempat persemayaman batu-batu gamping besar yang ‘bersembunyi’ di tengah-tengah pepohonan. Bahkan ada yang ‘merangkap’ jadi gua dan ceruk. Batu-batu ini tadinya mempunyai stalaktit yang aktif dibasahi air karena tumbuhan di atasnya, tapi sekarang stalaktit itu kering.

Jika curug bukan destinasi wisata yang cukup ‘efektif’ untuk musim kemarau, maka Mandalamekar punya alternatif lain, yakni gua. Ada empat gua yang tersebar di Mandalamekar, Gua Tasbih dan Gua Walet di kawasan Gandasholi, Gua Kahuripan di Karang Soak, dan Gua Lingga di Cilingga.

Saya sempat berniat mengunjungi Gua Tasbih, gua yang menurut Dodi sempat jadi tempat penyebaran agama Islam oleh Syekh Abdul Muhyi sebelum ia menetap di Gua Pamijahan. Sementara nama kawasannya, Gandasholi, berasal dari Bahasa Sunda yang artinya dua keyakinan, yakni keyakinan di syahadat.

Niat itu terpatahkan begitu selesai menyusuri sawah dan perkebunan, ternyata mulut gua tidak bisa ditemukan lantaran orang sudah jarang berkunjung ke Gua Tasbih. Hal ini juga terlihat dari jalan tanah yang disusuri sudah tertutup rumput-rumput liar.

Tahun ini pembuatan akses ke curug akan mulai direalisasi, tapi kata Irman, pembangunan jalan antar pemukiman lebih diprioritaskan. Pembangunan jalan belum selesai karena desa ini jalannya lebih panjang dibanding desa-desa tetangga, yakni sepanjang 20 km.

Sektor pariwisata akan dikerahkan mulai tahun 2020, karena Kepala Desa Mandalamekar mempunyai visi misi dengan tiga tujuan utama, 2015-2017 menjadi desa berkembang, 2020 desa wisata, dan 2025 desa mandiri. Sambil menunggu akses destinasi wisata yang memadai, aspek lain juga harus diperhatikan jika ingin serius menggerakan sektor pariwisata, mulai dari rumah makan hingga homestay.

“Homestay di rumah penduduk, tapi homestay untuk VIP belum ada. Kalau VIP karena mereka punya standar, jadi pilihannya selalu ke hotel di Tasik, sehingga berat. PT Bumades akan bekerja sama dengan yayasan untuk bikin homestay VIP. Tapi kalau masyarakat biasa atau peserta pelatihan, homestay-nya di rumah penduduk aja,” tutur Irman.

Pasir Bentang juga berpotensi untuk dijadikan homestay karena pemandangannya, sehingga memungkinkan untuk merencanakan pembuatan homestay di tanah atau di atas pohon.  Selain homestay, Pasir Bentang juga mempunyai peternakan yang baik, orang dapat mempelajari tumbuhan atau makanan alami yang dulu pernah dimakan.

Jika semua aspek yang menunjang pariwisata sudah siap, promosi tinggal dilakukan lewat situs desa, baik mandalamekar.desa.id, pancamandala, atau situs desa-desa tetangga.

 

Nadila Taufana

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar