Yamaha Aerox

Orang Tua Milenial, Terapkan Digital Parenting!

  Rabu, 10 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi orang tua mengasuh anaknya.(Pixabay)

Kehadiran teknologi komunikasi digital dewasa ini sudah banyak memengaruhi komunikasi dalam suatu keluarga. Fenomena yang terjadi sekarang sering dijumpai dimana masing-masing anggota keluarga asyik dengan dunia maya nya sendiri-sendiri melalui penggunaan telepon seluler mereka yang sudah serba canggih.

Telepon seluler yang semula hanya alat komunikasi jarak jauh dari tahun ke tahun mengalami kemajuan mulai dari telepon sederhana hingga era gadget seperti sekarang ini. Kebutuhan gadget memang sudah menjadi hal yang tidak bisa dilepaskan dari aktivitas kita.

Namun di balik keunggulannya dalam mempermudah komunikasi menuai problema yang bisa mengurangi arti silaturahmi hingga tercetus kalimat "mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat".

Dalam suatu keluarga seolah-olah mereka hanya berkumpul secara fisik tanpa adanya komunikasi satu sama lain, dengan kata lain interaksi diantara  mereka terbatas. Kemajuan teknologi komunikasi ternyata tidak hanya berdampak positif tetapi juga berdampak negatif jika tidak bijak menggunakan alat komunikasi digitalnya.

Para orang tua yang asyik dengan alat komunikasi digital terkadang sampai  mengesampingkan kepentingan anak/keluarga. Inilah kesalahan orang tua dalam mendidik anak, bahkan karena kesibukannya orang tua sampai tidak bisa mengontrol penggunaan komunikasi digital yang dilakukan anaknya. Kejadian seperti ini harus menjadi warning bagi para orang tua, karena sejatinya orang tua diharapkan menjadi model yang baik untuk diteladani anak-anaknya.

Dalam hal membesarkan anak tentunya yang terpenting adalah parenting (pola asuh) yang diterapkan terhadap anak. Tentunya dewasa ini seiring berkembangnya jaman di era digital, gaya parenting mendidik anak juga harus disesuaikan. Di era digital ini seiring membanjirnya arus informasi yang bisa didapatkan dengan mudah melalui internet, sudah seharusnya para orang tua mulai aware terhadap anak dalam hal parenting, karena parenting jaman sekarang berbeda dengan jaman dulu.

Para orang tua jaman dulu belum mengenal internet, sehingga dalam hal parenting dilakukan secara mandiri tanpa bantuan informasi dari internet. Sangat berbeda dengan para orang tua jaman sekarang yang akrab dengan sebutan generasi milenial, dimana perkembangan teknologi seperti gadget dan internet sudah sangat banyak digunakan dengan akses yang semakin mudah dan murah.

Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), konsep generasi milenial adalah penduduk Indonesia yang lahir antara tahun 1980-2000. Sebagian besar generasi milenial tersebut sudah menjadi orang tua. Sehingga anak-anak dari para orang tua milenial tentunya sejak kelahirannya sudah terpapar pesatnya perkembangan teknologi seperti komputer, internet, dan lain lain.

Proses perkembangan teknologi era digital ini mencatat bahwa Indonesia termasuk negara yang sangat banyak pengguna internetnya, dimana pengakses internet mayoritas menggunakan telepon seluler. Berdasarkan data Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS, secara nasional dalam kurun waktu 5 (lima) tahun terakhir persentase jumlah penduduk yang memiliki/menguasai internet terus meningkat. Pada tahun 2013, persentase penduduk usia 5 tahun ke atas yang menyatakan pernah mengakses internet dalam tiga bulan terakhir sekitar 19,49 persen dan meningkat menjadi 32,34 persen pada tahun 2017. Peningkatan penggunaan internet ini terjadi baik di daerah perkotaan maupun perdesaan.

Fasilitas telepon selular memiliki peran yang cukup signifikan sebagai media untuk mengakses internet. Dalam kurun waktu 2016-2017, telepon selular menjadi media yang paling banyak dipilih dalam mengakses internet. Telepon selular mendominasi pilihan masyarakat untuk mengakses internet dengan porsi sekitar 90,91 persen pada tahun 2016, dan meningkat menjadi 91,45 persen pada tahun 2017.

Menurut kelompok umur, pengguna internet terbanyak yaitu 49,86 persen adalah penduduk berumur dibawah 25 tahun dan 45,08 persen merupakan penduduk dengan umur 25-49 tahun dimana didalamnya termasuk generasi milenial. Sisanya hanya 5,06 persen pengguna internet merupakan penduduk berumur 50 tahun keatas. Hal tersebut mengindikasikan bahwa internet merupakan teknologi telekomunikasi yang tengah menjadi trend terutama bagi kalangan penduduk usia muda.

Pesatnya perkembangan era digital di Indonesia faktanya didukung juga oleh berkembangnya infrastruktur telekomunikasi, khususnya layanan data. Berdasarkan hasil pendataan Potensi Desa (PODES) 2018 yang dirilis BPS, saat ini hampir seluruh wilayah Indonesia baik di perkotaan maupun di pedesaan sudah terjangkau jaringan generasi ketiga (3G) maupun generasi keempat (4G). Tercatat 40,27 persen desa/kelurahan di Indonesia sudah terjangkau 3G/H/H+, dan 31,81 persen desa/kelurahan sudah terjangkau 4G/LTE.

Mengingat tingginya jumlah penduduk pengakses internet yang berumur 5 tahun keatas (dimana didalamnya termasuk anak-anak) dan didukung dengan peningkatan pembangunan infrastruktur jaringan, hal ini sangat mempermudah setiap pengakses internet mencoba berbagai aplikasi dan konten digital baru yang tersedia.

Aplikasi yang paling banyak digunakan adalah media sosial (medsos) seperti Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, Whatsapp, dll. Berdasarkan hasil pendataan SUSENAS BPS, tujuan penggunaan internet mayoritas untuk penggunaan medsos dengan persentase 79,13 persen. Hal ini mengindikasikan pengawasan orang tua terhadap anak-anak harus lebih di tingkatkan.

Kemudahan dalam mengakses internet harus diwaspadai, karena ibarat 2 sisi mata uang, di satu sisi internet sangat menguntungkan dan di sisi lain sangat membahayakan perkembangan anak jika tidak bijak menggunakannya. Faktanya banyak terjadi kasus kriminal yang dilakukan anak-anak akibat penggunaan internet yang kurang terkontrol orang tuanya.

Kasus Anak Terkait Penggunaan Internet

Menurut Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Dr. Susanto, MA, di Indonesia telah terjadi peningkatan kasus kriminal anak sebagai akibat penggunaan internet yang tidak terkontrol, diantaranya kasus bullying, pornografi dan cyber crime lainnya. Dalam catatan KPAI rentang waktu Januari hingga September 2018 terjadi 525 kasus pornografi dan cyber. Kasus kekerasan pada anak tersebut diantaranya dipicu dari medsos. Berawal dari saling mem-bully (cyber bullying) antara korban dan pelaku melalui status serta komentar yang menyebabkan kebencian dan permusuhan hingga terjadi kekerasan fisik.

Awal tahun 2019 sempat dihebohkan dengan kasus pengeroyokan oleh 12 anak terhadap seorang remaja berusia 14 tahun bernama Audrey di Pontianak yang mendadak viral dengan tagar "Justice for Audrey.

Bermula dari saling ejek di medsos hingga akhirnya terjadi kasus bullying. Bahkan menurut Psikolog Sosial dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Prof Drs Koentjoro, MBSc, PhD, media sosial (medsos) bisa memengaruhi perilaku sosial seseorang, termasuk aksi bullying.

Kasus kekerasan lainnya di awal tahun 2019 yang melibatkan anak terjadi di Gresik Jawa Timur. Viral sebuah video yang mempertontonkan siswa mem-bully seorang guru. Dalam video tersebut, seorang siswa sesekali mendorong bahkan mengarahkan tangannya yang terkepal ke arah sang guru dan tampak merokok di hadapan guru tersebut serta mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Sementara itu para siswa yang lain asyik merekam dan menertawakan. Kejadian ini sangat memprihatinkan karena mencerminkan sikap yang tidak santun dan tidak pantas dilakukan oleh seorang siswa.

Terkait kejadian tersebut, kemungkinan prilaku anak seperti itu karena ada pengaruh kuat dari pola asuhnya di rumah. Selain itu bisa juga karena siswa tersebut sudah kecanduan gadget dimana konten yang ditontonnya mengandung unsur kekerasan, sehingga anak jadi tidak bisa membedakan antara perilaku di dunia maya dengan dunia nyata. 

Apa itu Digital Parenting?

Kasus cyber crime yang melibatkan anak-anak (baik sebagai pelaku ataupun korban) sudah sangat mengkhawatirkan. Bully secara verbal apalagi secara fisik, memberikan dampak yang luar biasa bagi korban. Tidak hanya terluka secara fisik, bahkan berdampak luka batin secara psikologis. Melihat efek samping dari penggunaan internet yang tidak terkontrol, sebagai orang tua sangat penting menerapkan gaya parenting  terhadap anak yang disesuaikan dengan era digital sekarang ini.

Psikiater dan praktisi pendidikan anak terkemuka di Korea Yee-Jin Shin membuat istilah digital parenting atau pola asuh anak ketika berhadapan dengan perangkat digital. Secara garis besar digital parenting adalah memberikan batasan yang jelas kepada anak tentang hal-hal yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan saat menggunakan perangkat digital. Terlebih untuk anak-anak yang baru pertama kali mengenal gadget. Orang tua harus memberi bimbingan dan petunjuk kepada anak

Dalam digital parenting menurut Yee-Jin Shin, hal utama adalah orang tua harus memahami kapan waktu yang tepat untuk memberikan gadget pada anak. Tidak hanya berupa peraturan-peraturan, digital parenting juga bisa diterapkan dengan cara pendekatan yang dilakukan orang tua untuk menjelaskan seputar pengalaman menggunakan gadget dengan anak. Bisa juga dengan memberi pengertian pada anak mengapa ditetapkan peraturan penggunaan gadget. Tujuannya tidak hanya agar anak menjadi patuh, tetapi anak juga paham dan bisa bekerjasama dengan orang tuanya.

Kontrol Yang Bisa Dilakukan Orang Tua

Di era teknologi canggih seperti sekarang ini, cukup sulit jika mengisolasi atau tidak memperbolehkan anak sama sekali bermain gadget. Untuk itu sebagai orang tua jika telah membelikan gadget untuk anak, harus segera menerapkan digital parenting begitu diberikan. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh orang tua.

Pertama, bangun bonding (kedekatan) bersama anak dengan cara meluangkan waktu meskipun hanya sebentar. Misalnya, saat akhir pekan melakukan jalan-jalan atau sekedar berbincang-bincang dirumah. Waktu tersebut, dapat digunakan untuk mebicarakan apa yang sedang dialami oleh anak dan mengungakapkan uneg-uneg masing masing. Atau jika orang tua tidak sempat di waktu weekend maka, disetiap akan berangkat bekerja selalu ada komunikasi antara anak dan orang tua walaupun hanya beberapa menit. Jika anak dekat dengan orang tua akan timbul rasa percaya dari anak kepada orang tua, sehingga anak dengan terbuka akan menceritakan hal-hal yang dialami tanpa perlu diminta oleh orang tua.

Kedua, hal yang sangat penting diperhatikan oleh orang tua yaitu menanamkan fondasi agama yang kuat terhadap anak di lingkungan keluarga. Wajib hukumnya orang tua mengajarkan anak-anak tentang agama sejak dini. Mengajarkan anak tentang ilmu agama bukan semata-mata hanya belajar mengaji tetapi juga dengan belajar mengkaji ilmunya. Jika fondasi agamanya kuat, diharapkan anak generasi milenial akan tetap santun.

Ketiga, orang tua harus lebih pintar dari anak dalam hal internet dan media sosial. Dalam hal medsos, orang tua dapat menjadi teman di akun medsos anak, sehingga anak menyadari tentang apa saja yang akan dipost dalam akunnya akan di awasi oleh orang tuanya. Selain itu, orang tua juga harus ada kesepakatan dengan anak dalam hal keterbukaan password baik telepon seluler maupun akun medsos. Terkait posting status, foto, video, share informasi, dll, orang tua juga harus memberikan contoh misalnya dengan cara posting hal-hal yang memberikan informasi bermanfaat.

Keempat, memasang aplikasi pemblokir konten negatif di gadget anak. Ini bertujuan agar konten yang diakses oleh anak sesuai batasan usianya. Sehingga anak tidak terpengaruh terhadap hal-hal buruk dalam dunia internet maupun medsos.

Kelima, diberlakukan pembatasan pengguanaan gadget pada waktu tertentu. Misalnya ketika sedang berkumpul bersama keluarga, setiap anggota keluarga dilarang memainkan gadget. Hal ini dilakukan agar suasana keluarga semakin harmonis, dengan begitu anak jadi merasa diperhatikan oleh orang tuanya.

Kelima cara tersebut diharapkan dapat mengedukasi anak dalam memenfaatkan perangkat digital. Tidak dapat dipungkiri perangkat digital yang canggih saat ini memang mempermudah kebutuhan kita. Dengan menerapkan digital parenting diharapkan mampu menjadi orang tua milenial yang cerdas di era digital, yaitu mampu melindungi anak-anak dari dampak negatif digital tanpa  menghalangi potensi manfaat (dampak positif) yang didapat dari penggunaannya.

Amalia Lestari, SST

Statistisi Ahli Pertama Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar