Yamaha Aerox

Luas Pertanian Organik di Kabupaten Bandung Baru 100 Hektare

  Senin, 08 Juli 2019   Mildan Abdalloh
Petani memasang jaring untuk menutupi tanaman padi di area persawahan Desa Ujong Tanjong, Kecamatan Meureubo, Aceh Barat, Aceh, Jumat (5/7/2019). (ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas/aww.)

SOREANG, AYOBANDUNG.COM -- Pertanian organik masih sangat sedikit di Kabupaten Bandung. Ada pelbagai kendala yang menyebabkan pertanian yang berkonsep alami belum berkembang banyak.

Kepala Bidang Pangan pada Dinas Pertanian Kabupaten Bandung Ina Dewi Kania mengatakan, pihaknya terus berupaya meningkatkan luas pertanian organik di Kabupaten Bandung.
Berdasarkan data yang dimilikinya, saat ini pertanian organik di Kabupaten Bandung baru seluas 100 hektare. Rata-rata tiap hektare mampu memproduksi sembilan ton beras dari pelbagai jenis.

"Sebenarnya yang mengklaim menggunakan pertanian organik itu banyak, tapi yang telah mempunyai sertifikat hanya 100 hektare," katanya, Senin (8/7/2019).

Proses pembuatan sertifikat memang menjadi kendala di lapangan. Pasalnya, untuk bisa mengantongi sertifikat membutuhkan biaya tidak sedikit.

"Rata-rata untuk sertifikat butuh dana antara Rp30 juta sampai Rp60 juta, tergantung jenis sertifikatnya," katanya.

Dipaparkannya, anggaran bukan satu-satunya hambatan dalam pembuatan sertifikat pertanian organik. Komitmen petani menjadi salah satu faktor lain dalam sulitnya memperoleh sertifikat pertanian organik.

"Penyiapan dokumennya harus lengkap. Harus mempunyai gudang yang bersih juga. Sampai asal pupuk juga harus jelas," katanya.

Ina mencontohkan, terdapat kelompok petani organik di Kabupaten Bandung yang pernah gagal memperoleh sertifikat karena masalah sepele.

"Jadi pernah ada yang mengajukan sertifikat, saat tim penilai datang, melihat ada bungkus pertisida. Padahal itu bukan untuk pertanian organik, tapi bekas bungkus lama di lahan pertanian lain. Tapi tetap gagal," katanya

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar