Yamaha NMax

Mengunjungi Mesin Cetak Alquran Braille Tertua di Dunia

  Sabtu, 06 Juli 2019   Adi Ginanjar Maulana
Mesin cetak Alquran braille tertua di dunia milik Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM-Bandung terkenal dengan kota sejarah , tentunya terdapat beberapa bangunan kuno, hingga benda bernilai sejarah. Konon di Bandung terdapat mesin pembuatan Alquran braille untuk tuna netra yang hingga kini masih berfungsi dengan baik dan hanya tersebar di enam dunia.

Yayasan Penyantun Wyata Guna  (YPWG) yang berlokasi di Jalan Pajajaran Nomor 52, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung ini menjadi tempat menyimpan dan memproduksi  Alquran braille. Mesin cetak braille tersebut merupakan sumbangan seorang tokoh Hellen Keller seorang disabilitas asal Amerika yang mulanya dibantu oleh pembantunya untuk menginsyartkan dengan kode-kode.

Kepala Sekretariat Yayasan Penyantun Wyata Guna (YPWG), Ayi Ahmad Hidayat menuturkan mesin percetakan tersebut dibagikan keenam negara dengan jumlah tunanetra terbanyak di dunia dan di Asia terpilih yakni Indonesia dan India.

“Atas inisiatif Hellen Keller memesan mesin braille press ke pabrik Thomson. Hingga akhirnya berdirilah lembaga bernama Hellen Keller Internasional,” jelas Ayi saat ditemui Ayobandung.com, Sabtu (6/7/2019).

Pada tahun 1952, Indonesia menerima mesin percetakan tersebut pertama kali  langsung oleh presiden pertama Ir. Soekarno saat di Jakarta. Hingga saat itu mesin tersebut disimpan di Badan Grafika Nasional selama 10 tahun.

“Di tahun 1962, mesin percetakan tersebut dipindahkan ke Bandung karena orang orang Jakarta berpikir akan lebih tepat jika mesin ada di Bandung karena terdapat Blind Institute yang didirikan oleh C.H.A. Westhoff,” katanya.

Lebih lanjut, Ayi menambahkan, mesin percetakan tersebut pada mulanya hanya untuk membackup buku di Yayasan Penyantun Wyata Guna.  Ketika tahun 1972 mesin tersebut mulai membuat buku pelajaran yang nantinya disebar keseluruh sekolah luar biasa (SLB) ke berbagai daerah.

Seiring berjalannya waktu, kurikulum pelajaran terus berubah-ubah.  Percetakan tersebut sangat repot jika harus menganti  mesin pencetak master plit yang harus sesuai dengan cetakan buku yang baru. Hingga pada tahun 2005, percetakan tersebut mulai memfokuskan percetakan untuk mencetak Alquran braille saja.

Selain itu, mesin cetak semi konvensional tersebut pernah dikunjungi oleh Mr David yang merupakan generasi keempat dari Hellen Keller. Menurut Ayi, ketika tiba di percetakan tersebut, David mengutarakan “congratulation” karena begitu senang melihat mesin tersebut masih berfungsi.

“Begitu kaget dan senang  Mr David saat melihat mesin tersebut masih dipakai  hingga sekarang, yang menjadi masalahnya David berfikir ini mesin tua kerjanya masih banyak sama saja dengan menyuruh nenek-nenek lari cepat deg-degan juga saya,” ucapnya.

Mesin percetakan Alquran ini mampu memproduksi sebanyak 1.000 Alquran setiap tahunnya. Hingga kini 15.000 Alquran telah tersebar keseluruh Indonesia. Meski mesin ini terbilang tua, namun format Alquran braille dengan mesin cetak ini lebih bagus dibandingkan dengan hasil printer.

“ Untuk  Kelemahan mesin cetak ini jika telah terjadi kerusakan sulit untuk diperbaiki , selain itu ketika buat naskah terjadi kesalahan maka harus dihapus  dengan diketok menggunakan palu. Paling penting perawatannya tidak boleh telat diberi oli serta tentunya diiringi doa agar mesinnya panjang umur,” pungkasnya. (Ulfah Dalilah)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar