Yamaha

Bahasa Inggris Jokowi Medok, Ini Kata Akademisi

  Sabtu, 06 Juli 2019   Andres Fatubun
Presiden Joko Widodo saat diwawancarai jurnalis senior CNN Christiane Amanpour. (CNN)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Beberapa hari belakangan viral video Presiden Joko Widodo yang sedang diwawancarai jurnalis senior CNN Christiane Amanpour.

Dalam video tersebut Amanpour menanyakan soal perkembangan pembangunan infrastruktur. Sang Presiden pun menjawab jika saat ini ada peralihan perspektif, dari masyarakat konsumtif menjadi produktif. Presiden terpilih Indonesia yang akan dilantik pada Oktober ini pun menjelaskan perkembangan terakhir pembangunan Mass Rapid Trasportaion di Jakarta.

Namun dalam wawancara tersebut, justru yang menjadi viral adalah logat bahasa Inggris presiden yang medok. Akibat medoknnya itu, sebagian  netizen mempertanyakan kemampuan Jokowi berbahasa Inggris. Sebagian lainnya tak mempermasalahkannya, selama pesan yang disampaikan presiden ke-8 Indonesia ini bernas dan jelas.

Tiga mahasiswa UIN SGD yang sedang melakukan magang di ayobandung.com mewawancarai Kaprodi Bahasa dan Sastra Inggris UIN SGD, H Lili Awaludin M.A soal isi video viral tersebut  

Berikut adalah hasil wawancaranya.

Menurut bapak, aksen medok yang diributkan netizen itu penting nggak? karena setiap daerah punya logat masing-masing seperti Sunda, India, Yorkshire?
Nggak penting sebetulnya kalau dilihat dari komunikasi, karena kalau dilihat dari video CNN itu, intinya Pak Jokowi mengerti dengan pertanyaan wartawan itu dan wartawan mengerti dengan jawaban Pak Jokowi. 

Kalau misalkan unsur pragmatisnya terpenuhi, maksud pragmatis itu tujuan bahasa itu terpenuhi yang ditanya dan yang bertanya paham berarti sudah baik. Tujuannya tercapai dan prosesnya terjadi. 

Kalau logat itu nggak masalah karena semua orang punya dialek. Orang yang bahasa ibunya Sunda ketika berbicara bahasa Inggris maka akan terlihat bahasa Sundanya. Begitupun orang Jawa atau Malaysia. Ada dialek Singlish dan itu diakui. 

Logat dan dialek itu berbeda. Dialek itu nggak cuma logat, grammar-nya juga sedikit berbeda. Mungkin Pak Jokowi lebih ke logat karena dialek Inggris Indonesia itu nggak ada. 

Ada juga orang yang nggak keliatan dialeknya. Mau bahasa Inggris atau Indonesia akan memakai logat dan dialeknya masing-masing.  

Jadi pesan atau jawaban yang disampaikan Presiden Jokowi sudah jelas atau belum?
Kalau menurut saya sudah jelas. Dilihat dari reaksi wartawan itu, jawaban Pak Jokowi tidak membingungkan dan nyambung antara yang ditanya dengan penanya. 

AYO BACA : PAN Bergabung Kubu Jokowi, Amien Rais: Jangan Kita Rabun Ayam

Apa yang dibicarakan itu jelas menurut saya. Ya mungkin bagi orang yang mahir dalam bahasa Inggris ada salah ucap, tapi itukan tidak mengganggu jalannya komunikasi. Lagian Pak Jokowi kan bukan mahasiswa sastra Inggris. Dia mungkin nggak kursus lama dan dia bahasa Inggrisnya itu belajar dari pengalaman sehari-hari jadi sangat wajar jika ada satu dua kata yang salah pengucapannya. 

Mahasiswa sastra Inggris saja masih ada salahnya apalagi orang yang tidak secara khusus belajar bahasa Inggris. 

Jadi hakikatnya berkomunikasi itu apa ?
Hakikatnya berkomunikasi itu ya nyambung lah. Speaker dan listener, pembicara dengan pendengar kemudian pembicara menjadi pendengar dan pendengar menjadi pembicara itu nyambung. 

Dalam komunikasi bahasa itu ada proses encoding, code, dan decoding. Jadi, komunikasi itu prinsipnya adalah paham antara pendengar dengan pembicara saling memahami dan sebaliknya.

Seberapa penting seorang kepala negara menguasai bahasa Inggris? karena ada beberapa kepala negara yang tidak mau berbahasa Inggris dengan alasan nasionalisme.
Tidak penting sebetulnya. Cuma karena bahasa Inggris dianggap sebagai bahasa global tapi juga tidak ada hukum yang mengatur bahwa seorang kepala negara harus berbahasa Inggris.

Jadi nggak harus dan nggak penting. Artinya nggak penting maksudnya selama ada penerjemah berarti nggak harus. 

Di PBB banyak sidang yang kepala negaranya atau orang-orang yang berbicaranya itu nggak mesti ngomong pakai bahasa Inggris karena disediakan jasa penerjemah. 

Dulu Pak Soeharto juga jarang sekali pakai bahasa Inggris. Ada orang yang bilang karena dia ngga percaya diri, ada juga orang yang bilang karena dia bangga sama bahasa Indonesia. Nggak tahu alasannya mana yang akurat. Tapi singkat katanya ya tidak terlalu penting. 

Soal alasan nasionalisme atau lainnya itu banyak alasannya. Atau ada orang yang nggak mau berbahasa Inggris bukan karena nggak bisa. 

Tapi dalam kasus pak Jokowi, yang bikin rame itu bukan bahasanya, yang rame itu adalah konstelasi politiknya. Jadi, sekarang kan kita lagi kubu-kubuan nih. Saya kira itu yang bikin rame.

Saya tidak bicara tentang saya ada di kubu Jokowi atau Prabowo ya. Sekarang kalau Prabowo menang, terus dia ngomong bahasa Inggris kayanya akan ada saja orang yang ceriwis yang ngomongin mungkin bukan tentang bahasa nya tapi tentang pakaiannya atau apa. 

Demikian juga untuk pak Jokowi yang diributkan itu bukan karena bahasanya tapi memang yang mengomentari itu orang yang bersebrangan dengan kubu pak Jokowi. Di Indonesia sekarang ini apapun jadi heboh terutama yang terkait pemimpin nasional. Dan yang namanya netizen, itu keji dan kejam apapun akan dikomentari secara nyinyir jika tidak sependapat. (Nadia Syailana, Sofa Marwati, Nadiah Hamdan)

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar