Yamaha Mio S

Bisnis Sapu Ijuk Masih Menjanjikan

  Jumat, 05 Juli 2019   Dede Nurhasanudin
Mumuh pengrajin sapu ijuk asal Kampung Sumbersari, Desa Pawenang, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta. (Dede Nurhasanudin/Ayopurwakarta.com)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM --  Pohon aren tumbuh subur di dataran tinggi wilayah Purwakarta tidak disia-siakan sebagian masyarakat setempat.

Selain buahnya yang bisa dijual untuk bahan es campur yakni buah kolang-kaling. Pohon Aren juga menghasilkan ijuk yang bisa diolah dan mendatangkan sumber rezeki.

Mumuh, salah satu warga di Kampung Sumbersari RT/RW 10/03, Desa Pawenang, Kecamatan Bojong, Kabupaten Purwakarta, mengaku menggeluti usaha pembuatan sapu ijuk berbahan daun Pohon Aren ini cukup lama.

Pria berusia 37 tahun ini setiap hari memproduksi sapu ijuk dibantu sang istri dan seorang pegawai. Setiap hari Mumuh mampu memproduksi 50-70 sapu ijuk. Namun jumlah itu tergantung pesanan.

"Saya menggeluti kerajinan tangan ini sejak 2011," ujar Mumuh, Jumat (5/7/2019).

Hasil kerajinan buah tangan Mumuh sebagian besar dikirim ke pasar-pasar di Purwakarta maupun ke luar kota, misalnya ke Subang dan Majalengka. Ia pun mengaku, pesanan sapu ijuknya tengah meningkat hingga dirinya keteteran.

"Karena soal kualitas sapu ijuk saya ini bisa bersaing dengan sapu ijuk yang berasal dari daerah lain," ujarnya.

Untuk mendapatkan bahan dasar ijuk Mumuh tidak hanya mengandalkan dari pohon aren yang ia miliki tapi juga membeli dari petani sekitar dengan harga Rp3.000 per lembar.

Teknis pengolahannya pun tidak sesulit yang dibayangkan. Ijuk yang telah diperoleh disortir kemudian dipotong sesuai kebutuhan lalu masuk ke teknis penyisiran untuk merapihkan ijuk itu sendiri menggunakan besi runcing.

Setelah itu, ijuk ditumpuk beberapa lembar kemudian digulungkan ke batang sapu yang terbuat dari bambu atau rotan lalu diikat. Kemudian di bagian atas ijuk dianyam untuk memperkuat kerapatan terhadap batang sapu.

Mumuh menjelaskan sapu ijuk yang ia produksi memiliki dua dua pilihan. Yakni sapu ijuk batang rotan seharga Rp7.500 dan sapu ijuk menggunakan batang bambu seharga Rp3.500. Perbedaan dari dua produk itu hanya dari teknis penganyaman.

"Untuk produski sapu ijuk ini tidak semua orang biasa, harus memiliki ketelatetan dan keahlian khusus," ujarnya memungkasi.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar