Yamaha Mio S

Gempuran Sampah Plastik Ancam Kesehatan Manusia

  Jumat, 05 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Suasana bongkar muat sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Jalan Pangaritan, Kota Bandung, Jumat (28/6/2019). (Muhammad Dzikri/ayobandung.com)

Permasalahan sampah di tanah air sepertinya belum juga usai. Akhir 2018 seekor paus sperma ditemukan mati di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara. Setelah diidentifikasi lebih lanjut, ditemukan sampah plastik yang beratnya mencapai 5,9 kilogram di dalam perut paus tersebut yang diduga sebagai penyebab kematiannya.

Banyaknya sampah plastik yang terbuang di lautan menyebabkan paus tersebut sudah tidak mampu membedakan mana makanan dan bukan makanan. Tak hanya paus, biota laut lainnya juga diindikasi memakan sampah plastik yang terbuang ke lautan.

Indonesia sendiri tercatat sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut terbesar kedua di dunia setelah Cina. Dilansir dari kompas.com, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiatuti menyebutkan bahwa berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik, sampah plastik yang dihasilkan Indonesia mencapai 64 juta ton per tahun dan sebanyak 3,2 juta ton sampah plastik tersebut terbuang ke laut.

Tidak hanya di laut, sampah plastik juga mencemari daratan. Partikel sampah plastik dapat mencemari tanah, mengancam binatang pengurai seperti cacing, serta dapat mengganggu kesuburan tanah.

Tanah yang tercemar sampah plastik mengandung zat kimia berbahaya, sehingga jika digunakan untuk lahan pertanian, tanaman yang tumbuh di atasnya dapat tercemar oleh zat kimia dari sampah plastik tersebut. Bisa dibayangkan dampaknya terhadap kesehatan jika tanaman tersebut dikonsumsi oleh manusia.

Baru-baru ini isu sampah plastik kembali menghangat dengan adanya berita penyelundupan sampah plastik ke Indonesia akhir Juni 2019 lalu. Sampah plastik tersebut diselundupkan ke Indonesia bersama sampah kertas yang diimpor sebagai bahan baku pembuatan kertas. Hal ini memicu kecaman dari sejumlah pihak, mengingat sampah plastik merupakan sampah yang sulit terurai dan berbahaya jika tidak terkelola dengan baik.

Bahaya Sampah Plastik

Ketergantungan masyarakat akan produk plastik memang sangat besar. Mulai dari produk rumah tangga, alat tulis, alat kesehatan, bahan bangunan, dan sebagainya banyak yang berbahan dasar plastik. Tidak bisa dipungkiri memang banyak peralatan berbahan dasar plastik yang dijual dengan harga relatif murah sehingga terjangkau masyarakat.

Permintaan yang tinggi akan produk plastik membuat produksinya juga meningkat dari tahun ke tahun. Dilansir dari situs ourworldindata.org, pada 1950 dunia memproduksi plastik hanya 2 juta ton per tahun.

Namun pada 2010 produksinya jauh meningkat tajam menjadi 270 juta ton per tahun kemudian pada 2015 mencapai 381 juta ton per tahun. Sayangnya, dari jutaan ton plastik yang diproduksi tersebut tidak semuanya didaur ulang dan diestimasi sekitar 55 persen berujung menjadi sampah plastik.

Sampah plastik sendiri merupakan sampah yang sangat sulit terurai dan mampu bertahan sangat lama di bumi bahkan ada sampah plastik yang membutuhkan waktu sampai ratusan tahun untuk bisa terurai. Sebenarnya sampah plastik tidak dapat sepenuhnya terurai tetapi hanya hancur menjadi partikel-partikel kecil yang disebut mikroplastik.

Mikroplastik inilah yang kini banyak tersebar dan mencemari lingkungan, baik di daratan maupun perairan. Sejumlah penelitian menemukan kandungan mikroplastik yang cukup tinggi pada beberapa merek air mineral, garam, dan madu. Kandungan mikroplastik yang sangat tinggi juga ditemukan di lautan. Hal ini menyebabkan makanan laut berisiko tinggi tercemar mikroplastik.

Lalu apa akibatnya jika mikroplastik masuk ke dalam tubuh manusia?

Dilansir dari kompas.com, menurut ahli toksikologi kimia dari Universitas Indonesia, Dr. Rer. nat Budiawan, mikroplastik yang masuk ke dalam tubuh akan tertahan di dalam tubuh dan sulit sulit disekresikan (dikeluarkan). Akibatnya, organ tubuh bisa terganggu. Misalnya saja jika masuk kedalam organ hati dan ginjal, maka kinerja organ hati dan ginjal akan terganggu.

Selanjutnya, menurut ahli gizi dari Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Dr Rita Ramayulis, DCN, MKes, meskipun belum banyak penelitian tentang dampak mikroplastik pada manusia tetapi penelitian pada satwa liar ditemukan bahwa mikroplastik dapat melepaskan senyawa kimia yang berupa logam berat. Selain itu dikhawatirkan pula terdapat mikroorganisme patogen yang menempel pada mikroplastik tersebut.

Jika pada mikroplastik tersebut menempel mikroba yang bersifat patogen dan masuk di saat kondisi tubuh sedang lemah maka dapat menginfeksi tubuh. Mikroplastik yang terakumulasi dalam tubuh dapat berakibat keracunan, kerusakan jaringan bahkan kematian.

Dampak yang sangat serius akibat sampah plastik yang tidak dikelola dengan baik tentunya menimbulkan kekhawatiran di masyarakat.

Upaya pemerintah

Pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menangani permasalahan sampah, di antaranya yaitu dengan menerbitkan Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang pengelolaan sampah.

Undang-Undang tersebut mengubah paradigma lama tentang sampah. Dahulu sampah dianggap sebagai sesuatu yang tidak berguna dan harus dibuang. Namun kini berubah yaitu bagaimana sampah dapat dikelola dan bisa dimanfaatkan.

Selain itu, melalui Perpres No. 97 tahun 2017 pemerintah menargetkan pengurangan sampah rumah tangga dan sampah sejenis rumah tangga sebesar 30 persen dan penanganannya mencapai 70 persen pada tahun 2025.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) meluncurkan program bank sampah dalam rangka mengurangi jumlah sampah. KLHK menyatakan terdapat 5244 bank sampah pada tahun 2017 yang tersebar di 34 provinsi atau 219 kabupaten/kota. Program bank sampah mengajak masyarakat untuk melakukan pemilahan sampah yang selanjutnya dapat ditukarkan dengan uang pada bank-bank sampah.

Kesadaran mayarakat untuk memilah sampah sebelum dibuang masih relatif rendah. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasiona (SUSENAS) tahun 2014 baru 18,84 persen rumah tangga yang melakukan pemilahan sampah.

Dengan adanya program bank sampah diharapkan masyarakat terpicu semangatnya untuk melakukan pemilahan sampah. Selain turut menjaga kelestarian lingkungan, secara ekonomi juga untung karena tidak perlu memberi barang baru yang bisa didapat dari hasil daur ulang. Selain itu hasil pemilahan sampah juga bisa disetor ke bank sampah yang hasilnya menambah uang belanja rumah tangga.

Selain ditukar dengan uang, ada pula bank sampah yang menukar sampah dengan sembako, pembayaran listrik, pembayaran biaya kesehatan dan emas. Dengan peluncuran program bank sampah selain dapat mengurangi jumlah sampah secara nasional juga dapat membantu perekonomian di masyarakat.

Upaya lain dari pemerintah untuk mengurangi sampah yaitu dengan menyusun rancangan peraturan menteri KLHK tentang peta jalan pengurangan sampah oleh produsen. Peraturan ini ditujukan untuk para produsen agar ikut bertanggung jawab dalam mengurangi limbah yang berasal dari produk dan atau kemasan mereka.

Sasaran utama dari peraturan ini mengarah pada tiga pelaku usaha yaitu pemilik merek, pengecer dan sektor jasa makanan dan minuman misalnya hotel, kafe dan restoran.

Berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah diharapkan mampu mengurangi produksi sampah secara umum dan secara tidak langsung juga turut mengurangi jumlah produksi sampah plastik.

Kontribusi kita

Pemasalahan sampah sebenarnya bukan semata tanggung jawab pemerintah. Kita sebagai masyarakat harus turut serta berkontribusi dalam mengatasi permasalahan sampah, terutama sampah plastik.

Akar permasalahan dari sampah plastik yang mencemari lingkungan adalah dari kebiasaan membuang sampah sembarangan. Sampah yang dibuang tidak pada tempatnya sebagian akan hanyut ke saluran air, kemudian ke sungai dan akhirnya bermuara ke lautan. Itulah sebabnya lautan kita penuh dengan sampah.

Menumpuknya sampah plastik di lautan juga tidak terlepas dari kebiasaan buruk masyarakat yang membuang sampah ke sungai. Menurut hasil pendataan Potensi Desa (PODES) 2018 yang dilakukan oleh BPS, dari 83.931 desa di Indonesia, sebanyak 9.673 desa (11 persen) sebagian besar warganya membuang sampah ke sungai/ saluran irigasi/ danau/ laut.

Selain mencemari air, kebiasaan masyarakat membuang sampah ke sungai akan mengganggu ekosistem di perairan. Populasi binatang air berkurang akibat polusi sampah yang dibuang di sungai. Sampah yang tidak dapat terurai dan hanyut terbawa aliran sungai akhirnya mengalir ke laut dan dampaknya lautan di Indonesia menjadi tercemar.

Penanaman kebiasaan membuang sampah pada tempatnya harus dimulai dari diri sendiri dan lingkungan keluarga. Anak-anak sedari kecil diajarkan untuk terbiasa membuang sampah pada tempatnya. Jika sedang berada di luar dan sulit menemukan tempat sampah maka sampah tersebut dimasukan dahulu ke saku baju, di tas, atau dipegang hingga menemukan tempat sampah terdekat.

Hal mudah lainnya yang bisa dilakukan adalah membawa tas belanja sendiri. Tentunya tas belanja yang dapat dipakai berluang-ulang. Misalnya tas belanja yang terbuat dari kain. Tas plastik yang digunakan untuk membungkus barang belanja dapat dikurangi jika kita membawa tas belanja sendiri.

Sayangnya meskipun mudah dilakukan, kesadaran masyarakat untuk mengurangi sampah dengan membawa tas benjaan sendiri masih sangat rendah. Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional Modul Ketahanan Sosial 2017 menunjukkan hanya 8,7 persen rumah tangga yang selalu membawa tas belanja sendiri untuk mengurangi sampah.

Rajin membersihkan lingkungan juga bisa menjadi salah satu solusi. Masyarakat gotong royong membersihkan jalan dan saluran air yang tersumbat oleh sampah sehingga sampah tersebut tidak sampai hanyut ke sungai.

Cara lainnya adalah dengan mengurangi penggunaan sedotan plastik. Kita bisa memilih untuk tidak menggunakan sedotan saat membeli minuman. Atau bisa dengan membawa sedotan sendiri yang terbuat dari bahan stainless steel.

Meski ukurannya kecil ternyata sampah sedotan plastik menduduki peringkat ke-5 penyumbang sampah platik di dunia. Karena sampah sedotan plastik jarang sekali diminati oleh para pelaku daur ulang sehingga nilai ekonominya pun rendah. Akhirnya hanya sekali pakai dan dibuang.

Apabila setiap individu menyadari bahaya besar yang mengancam jika terus boros menggunakan plastik, harapannya gempuran sampah plastik dapat ditekan secara nyata. Tingkat pencemaran juga semakin berkurang.

Dengan lingkungan yang bersih maka kita dapat tinggal di bumi ini dengan nyaman. Kita juga akan mewariskan lingkungan yang bersih dan sehat untuk anak cucu kita.

 

Fenti Anggraeni, SST

Statistisi Ahli Pertama

Badan Pusat Statistik Kota Tasikmalaya

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar