Yamaha Mio S

Mencari Pemimpin Nyastra

  Kamis, 04 Juli 2019   Dadi Haryadi
Ilustrasi Sastra. (istimewa)

SASTRA sesungguhnya bisa menjadi sarana bagi kita untuk mempertebal rasa kemanusiaan. Para pemimpin dan calon pemimpin kita sebaiknya adalah mereka yang nyastra. Ini bukan berarti mereka harus pandai menulis puisi, mengarang cerpen, menyusun naskah drama ataupun menulis novel, melainkan mereka rajin membaca karya-karya sastra serta mau memberi perhatian lebih serius bagi bidang sastra, baik itu sastra daerah maupun sastra nasional.

Di negeri ini, boleh dibilang sastra masih ditempatkan sebagai “anak tiri” sehingga kurang mendapat perhatian dari para penentu dan pembuat kebijakan. Kita tentu saja bakal sangat iri dengan kondisi di negara-negara lain di mana sektor sastra sangat diperhatikan oleh pemerintah. Sastra dikenalkan dan diajarkan kepada anak-anak sekolah sejak dini secara sungguh-sungguh. Pusat-pusat dokumentasi dan kegiatan sastra didirikan dengan sokongan dana sangat memadai dari pemerintah. Para sastrawan mendapat tempat yang sama terhormatnya dengan profesi-profesi lainnya.

Mengingat sangat pentingnya sastra bagi kehidupan berbangsa dan bernegara, di beberapa gedung parlemen sejumlah negara bahkan didirikan pula pusat-pusat dokumentasi sastra.

Sebaliknya, sastra mungkin saja bukan bidang yang dianggap penting oleh sebagian besar bangsa ini. Padahal, lewat sastra inilah individu dididik untuk menjadi manusia seutuhnya, yang memiliki hati, perasaan dan pikiran. Dalam hal ini, sastra menjadi wahana untuk mengolah dan memperhalus hati, perasaan serta pikiran sehingga, meminjam istilah Putu Wijaya, mampu mempertebal rasa kemanusiaan.

Dalam konteks pembangunan dan kemajuan, entah kenapa sebagian besar pengelola negeri ini melihat pembangunan dan kemajuan bangsa itu cenderung selalu sebatas hal-hal fisik-material belaka. Bisa jadi bagi sebagian besar pengambil kebijakan di negeri ini, sastra sama sekali tidak ada kaitannya dengan pembangunan dan kemajuan bangsa. Boleh jadi pula dalam kacamata mereka, sastra itu hanya untuk mereka para pengkhayal. Padahal, ilmuwan mashur Albert Einstein pernah dengan tegas menyatakan, “Daya khayal itu jauh lebih penting ketimbang ilmu pengetahuan.”

Kita harus akui, sampai tahapan tertentu, tidak sedikit kemajuan yang telah bangsa ini capai. Di sisi lain, semakin banyak pula pemimpin pintar di negeri ini. Namun, realitanya, kepintaran mereka itu kerap malah menjadi faktor yang ikut merusak sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara kita. Kenapa ini bisa terjadi? 

Salah satu akar penyebabnya boleh jadi karena pendidikan di negeri ini sejauh ini hanya diarahkan untuk melahirkan orang-orang pintar serta kompetitif, namun justru kehilangan rasa kemanusiaannya, sehingga akhirnya malah membahayakan kemanusiaan itu sendiri.

Sayangnya, sastra yang -- sebagaimana disebutkan di muka -- sesungguhnya bisa menjadi sarana untuk mempertebal rasa kemanusiaan justru masih terus dianggap sebelah mata serta dinilai kurang penting bagi pembangunan bangsa dan kemajuan negara ini. Apa mau dikata.

Djoko Subinarto

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar