Yamaha

Massa Demonstran Terobos Gedung Parlemen Hongkong

  Selasa, 02 Juli 2019   Andres Fatubun
Massa demonstran memecahkan pintu kaca Gedung Parlemen Hongkong. (Reuters)

MACAU, AYOBANDUNG.COM -- Kerusuhan mewarnai aksi unjuk rasa di Hong Kong, Senin, 1 Juli 2019 malam waktu setempat. Demonstran menerobos masuk gedung Parlemen dan menguasai gedung sebelum dipukul keluar oleh polisi.

Para aktivis telah menduduki gedung Dewan Legislatif (LegCo) selama berjam-jam. Setelah tengah malam, ratusan polisi mengamankan gedung tersebut usai memperingatkan para pemrotes untuk keluar dari sana.

Mulanya, demonstrasi berjalan damai pada Senin pagi hari, yang merupakan hari peringatan 22 tahun penyerahan kedaulatan Inggris ke China.

Tetapi pada sekitar jam makan siang, puluhan demonstran berhenti dan menuju LegCo. Mereka mengepung bangunan itu dan berorasi di sana, sebelum akhirnya menggeruduk LegCo dan merusak gedung pada malam harinya.

Demonstran masuk dengan membobol pintu parlemen menggunakan berbagai benda, ratusan di antaranya kemudian mencoret simbol Hong Kong yang berada di dalam bangunan dengan cat semprot warna hitam.

Mereka juga melakukan vandalisme terhadap potret anggota dewan, perabotan, dan menulis pesan pro-demokrasi, serta memasang Bendera Kolonial Inggris.

Aksi ini berakhir setelah aparat menembakkan gas air mata dan memaksa demonstran keluar pada tengah malam, demikian seperti dikutip dari CNN, Selasa (2/7/2019).

Pemimpin Eksekutif Hong Kong, Carrie Lam, mengadakan konferensi pers pada pukul 04.00 waktu setempat di markas pemerintah, di mana ia mengutuk "penggunaan kekerasan ekstrem" dari mereka yang membobol badan legislatif.

"Saya berharap masyarakat luas bisa sejalan dengan kami, bahwa tindakan kekerasan yang kita saksikan ini adalah sesuatu yang terkutuk. Kami berharap masyarakat akan kembali normal sesegera mungkin," katanya kepada wartawan.

Lam juga menggambarkan aksi protes tersebut sebagai "dua adegan yang sangat berbeda: satu adalah parade damai dan rasional, sedangkan yang lain adalah sesuatu yang memilukan, mengejutkan, dan melanggar aturan negara."

Dia juga mengatakan mereka akan mengambil tindakan hukum yang diperlukan. Di satu sisi, dia menegaskan bahwa ia tidak berniat untuk terus memperdebatkan RUU ekstradisi dan menyebut RUU ini akan berakhir pada Juli 2020.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar