Yamaha Lexi

Paradoks Antara Kebijakan dan Pencitraan

  Senin, 01 Juli 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Ilustrasi. (PIXABAY/tuk tuk design)

Seringkali kita menyaksikan para pemimpin melakukan sidak, blusukan, atau turba untuk mengontrol dan mengawasi secara langsung kinerja bawahannya yang sedang melakukan tugas. Hal itu bisa dilakukan di perkantoran ataupun di luar ruangan yang bertugas di lapangan.

Ada banyak hal yang muncul setelah sidak atau inspeksi mendadak dilakukan. Ada yang marah-marah karena ada pegawai yang tidur saat ngantor, ada yang plunga-plungu melihat pimpinannya hadir tepat di hadapannya, dan beberapa tindakan lain yang ditimbulkan dengan adanya sidak tersebut.

Hal ini sangat menarik untuk dikaji sebab ada satu benang merah yang dapat kita jadikan landasan dalam rangka mengupas latar belakang dari sidak, blusukan, atau turba yang dilakukan oleh para pemimpin ini.

Pertama, sidak itu dilakukan dalam rangka untuk menjalankan kebijakan yang memang telah mereka gembar-gemborkan saat kampanye dulu. Wajar saat seseorang mencalonkan diri untuk mengisi jabatan politik harus memilki visi dan misi serta program yang jelas sehingga dapat menarik minat konstituante agar memilih dirinya.

Setelah terpilih maka apa yang telah dia janjikan atau kampanyekan kepada masyarakat harus benar-benar terwujud dan teralisasi agar tidak cap abang-abang lambe oleh para pendukungnya. Dan ini adalah fardu ain bagi seorang pemimpin sejati dalam menjalankan roda kepemimpinannya.

Dia akan berusaha untuk selalu menyamakan antara kata, perbuatan dan kenyataan dalam kehidupannya. Terutama dalam menjalankan kebijakan-kebijakannya.

Kedua, pemimpin yang melakukan blusukan sangat penting jika itu merupakan bagian dari kebijakannya. Dengan melakukan blusukan ke daerah-daerah atau tempat kerja bawahannya, akhirnya dia tahu keadaan sebenarnya di lapangan.

Sebab dia melihat secara langsung atas kinerja dari bawahannya itu. Namun, sangat disayangkan bilamana saat para pemimpin tersebut melakukan sidak tidak didasari oleh niat yang baik untuk menjalankan kebijakan. Akan tetapi didasari oleh niat agar dirinya dianggap baik atau hanya sekedar pencitraan belaka.

Hal inilah yang harus diwaspadai oleh para pemimpin bangsa ini mulai dari tingkat pusat sampai daerah. Jangan sampai sidak, blusukan, atau turba hanya polesan semata, agar viral di media sosial, memberikan pandangan positif bagi masyarakat padahal sejatinya kosong, tidak memiliki pengaruh apa-apa dalam kehidupan nyata.

Akhlak Seorang Pemimpin

Seorang pemimpin sejati akan senantiasa menjalankan roda kepemimpinannya dengan berdasarkan dua aspek. Pertama, dia akan selalu berusaha amanah dalam memimpin.

Maksudnya semua tugas yang telah menjadi tanggung jawabnya akan dilaksanakan dengan baik dan semaksimal mungkin, tanpa memandang apa yang akan dia dapatkan jika berbuat demikian. Dia akan selalu bekerja sesuai dengan wewenangnya tanpa mau berkompromi terhadap setiap penyelewengan yang terjadi. Sehingga setiap kebijakan yang dia keluarkan akan tetap berada di jalurnya.

Kedua,  dalam memimpin dia akan berbuat apa adanya tanpa didasari oleh kepentingan pribadi, kelompok maupun golongan tertentu. Dalam melihat setiap persoalan yang ada dia selalu objektif bukan subjektif.

Sehingga ketika memutuskan suatu perkara yang dia hadapi tidak bercampur dengan ego pribadi atau kepentingan tertentu. Alhasil, kebijakan atau keputusan yang diambil oleh pemimpin tersebut dapat diterima oleh semua pihak. Sebab semua aspirasi terakomodir di dalam keputusan itu.

Sebenarnya jika kita mau melihat realitas yang ada dengan bermodalkan wewenang yang mereka – para pemimpin – punya akan menaikkan citra mereka dihadapan publik secara otomatis atau bahkan viral di media massa lantaran banyak yang menyukai tindakan yang dilakukan oleh pemimpin tersebut. Karena masyarakat sekarang ini sudah bisa menilai setiap tindakan yang dilakukan seorang pemimpin.

Mana tindakan yang memang betul-betul murni menjalankan kebijakan atau tindakan yang hanya sekedar pencitraan agar dirinya viral dan dicitrakan positif di mata masyarakat. Sebab tindakan yang berasal dari hati seorang pemimpin sejati – bukan pencitraan – akan terus abadi sepanjang zaman. Ia tidak akan lenyap ditelan waktu dan akan senantiasa berada di relung hati masyarakat. Akhlak terpuji bukan untuk kepentingan pribadi tetapi mengabdi kepada negeri ibu pertiwi.

Ach. Fausen LH

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar