Yamaha Aerox

Kampung Terlantar di Tengah Hutan Sawit

  Kamis, 27 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi kampung terpencil. (ANTARA FOTO/Muhammad Bagus Khoirunas)

Baru sekali kami masuk ke kampung itu. Saat itu tanggal 25 Mei 2019, hari Sabtu. Namanya Home Base Mina. Kampung yang sebenarnya adalah perumahan para pensiunan ABRI, yang diberikan pemerintah. Letaknya di daerah Bone Bone, kabupaten Luwu Utara, Sulawesi Selatan.

Pada awal kami bergerak memasuki jalan ke arah kampung tersebut, saya yakin kampung yang dimaksud salah satu kenalan saya itu adalah kampung sepanjang jalan tak beraspal yang sedang kami lewati dengan mobil saat itu. Tapi saya salah, satu jam perjalanan kami semakin masuk hutan sawit. Saya pikir sudah tidak mungkin ada rumah di sana, teman kami yang sedang menyetir yakin kita belum sampai.

Ya. Kampung yang kami tuju masih ada di depan sana. Di suatu tempat yang jauh terpisah dari penduduk di desa yang kami lewati tadi. Di lereng gunung. Dan jalanan ini,,  ya ampun. Batu batu besar tak beraturan, bercampur tanah liat yang becek dan licin sisa hujan, lubang lubang besar menganga bekas injakan truk pengangkut buah sawit.

Di jalan sempit dan rusak parah ini, di atas mobil kami serasa naik kuda. Kami nyaris ingin balik pulang. Tapi tidak bisa. Tidak ada posisi untuk putar balik. Bisa bisa mobil kami yang terbalik. Ah…

Akhirnya dengan perjuangan, kami hampir sampai. Petunjuknya adalah kami berjumpa seorang petani sawit di tengah hutan itu, dan dia salah satu penduduk di kampung yang sedang kami cari itu. Dan berdasarkan arahannya, kami sampai di desa.,.ya ampun. Apa bisa disebut desa?

Banyak rumah setengah gubuk yang sudah rusak tak berpenghuni. Saat kami parkir mobil dengan susah payah di area yg penuh batu dan semak belukar, di sekitarnya Cuma ada empat gubuk setengah hancur, satu rumah belum jadi, dan dua rumah lumayan layak huni. Tetapi yang ada penghuninya hanya satu rumah.

Sementara ke arah lainnya keadaan hampir sama saja. Rumah rumah papan terlantar, ada yang sudah rusak parah, di sela selanya ada rumah yang cukup bagus dan dihuni, ada tempat ibadat yang sudah kosong ditinggalkan di tengah dusun berpenghuni sisa 16 kepala keluarga itu.

Saya jumpa dengan penduduk di sana, ngobrol, berkenalan, membagikan harapan masa depan. Saat itu kami tau bahwa tidak ada listrik ataupun puskesmas ataupun pustu di sana. Warga yang tersisa hanya mengandalkan panel tenaga surya swadaya mereka.

Tidak ada jaringan telepon selular. Jangan coba coba sakit. Kalau ada yang sakit darurat, terpaksa harus ditandu dengan berjalan kaki sampai keluar hutan ke klinik terdekat.

Penjual sayur dan ikan masuk ke sana paling tidak sebulan sekali. Anak anak terpaksa dititipkan di keluarga yang rumahnya dekat jalan utama. Di sana baru ada sekolah. Hasil bumi mereka seperti buah durian, cuma dijual murah atau dimakan sendiri sampai bosan dan terbuang percuma.

Semua karena akses jalan. Yang kami pikirkan adalah, sampai kapan? “Perumahan” pensiunan ABRI ini usianya sudah puluhan tahun. Mereka para pensiunan sudah banyak yang meninggal. Sebagian lebih memilih pulang ke kampung halaman mereka daripada hidup terpencil di tempat itu. Mereka lansia.

Sekarang penghuni tersisa yang kami jumpai di sana adalah anak, kemenakan, cucu, atau malah orang lain dari para pensiunan yang berhak. Berkebun. Itu saja. Jadi sejak dulu, sejak perumahan ini diberikan ya keadaannya seperti ini??

Tulisan ini Cuma hasil reportase. Sepenggal kisah perjalanan kami.

 

Mariska Laurensia

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar