Yamaha Lexi

Protes KK Dominasi Pengaduan PPDB SMA-SMK di Jabar

  Selasa, 25 Juni 2019   Nur Khansa Ranawati
Calon siswa didampingi orang tua mengikuti hari pertama Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) di SMA Negeri 8 Bandung, Jalan Selontongan, Kota Bandung, Senin (17/6/2019). (Kavin Faza/ayobandung.com)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Protes terkait keabsahan kartu keluarga (KK) menjadi jenis aduan paling dominan dalam proses seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) tingkat SMA-SMK sederajat di Jawa Barat. Proses ini telah selesai digelar pada 17-22 Juni 2019. 

Ketua Harian PPDB SMA-SMK Jabar, Yesa Sarwedi menjelaskan banyak warga yang mengadukan dugaan kecurangan penggunaan KK hanya karena telah mendengar dugaan kecurangan dari pihak lain tanpa memiliki bukti tudingan.

AYO BACA : Timbulkan Pro Kontra, Mendikbud Jelaskan Zonasi PPDB ke Komisi X DPR

"Jadi mereka kan suka mengadukan yang lain. Maksudnya hanya denger dari orang terus mengadukan lagi. Ya udah kalau memang ada bukti, bawa sini," kata Yesa di Gedung DPRD Jabar, Senin (24/6/2019).

Terkait jumlah komplain yang diterima, pihaknya menerima sekitar 427 aduan hingga hari terakhir pelaksanaan PPDB. Pengaduan tersebut diterima secara online via sejumlah platform daring seperti Instagram, Facebook dan situs Disdik Jabar.

AYO BACA : Banyak Salah Paham, Sosialisasi PPDB Dinilai Belum Efektif

Pengaduan tersebut, katanaya, didominasi oleh warga di kota-kota besar dari 27 kota dan kabupaten di Jabar. "Itu SMA di Bandung, Depok, Bogor, Bekasi," jelasnya.

Yesa juga mengomentari pandangan KPAI yang menilai pelaksanaan PPDB dengan sistem zonasi untuk para siswa dianggap membingungkan sebagian orang tua. Menurutnya, pemerintah telah melakukan sosialisasi kepada para orang tua calon siswa SMA di berbagai daerah.

"Sebenarnya dari data laporan dari semua cabang dinas itu hampir semua SMP sudah mengundang orang tua untuk sosialisasi dan saya berani menjami itu 95% sudah tersosialisasi semua. Numpuknya memang di hari hari terakhir sebelum pendaftaran itu sosialisasi," ujarnya.

Terkait adanya penumpukan pendaftaran di hari pertama, Yesa menilai hal tersebut bisa terjadi sebagai akibat dari PPDB SMP yang juga membludak di hari pertama. Komdisi itu juga ditengarai terjadi karena ketakpahaman orang tua siswa terkait sistem PPDB.

"Itu (waktu pendaftaran) jadi dasar pemeriksaan juga sih. Dasar evaluasi, seleksi, cuma itu tahap kedua. Kalau tahap satu enggak. Cuma tahap satu kemungkinannya kecil karena kan jaraknya harus betul betul sama baru jarak dilihat dan itu pun harus dibatas kuota," urainya.

AYO BACA : Jelang Penutupan, Sekda Jabar Terima 497 Aduan PPDB SMA-SMK

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar