Yamaha Mio S

‘Kurma’ Ramadan

  Rabu, 19 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi. (Pixabay)

Ramadan 1440 H baru saja berlalu, bagaimana hasil tarbiyah atau pendidikan untuk membentuk manusia berkarakter taqwa? Dari sekian kali Ramadan selama hidup kita, selayaknya menjadi renungan kita sebagai pribadi, juga secara kolektif sebagai masyarakat, bangsa, dan negara.

Dalam masyarakat Sunda dikenal istilah “kirata” yang bermakna kira-kira tapi nyata, contohnya istilah “comro” = oncom di jero (makanan ringan yang digoreng terbuat dari parutan singkong, diisi sambal oncom). Selain itu, ada basreng, cilok, cireng dan sebagainya. Jika diterapkan pada kata “Kurma”, menurut penulis sebagai statistisi, bisa jadi salah satu maksudnya adalah Mengukur Makanan.

Sejatinya esensi dari puasa Ramadan adalah pengendalian diri-self control menahan dari berbagai tarikan syahwat (termasuk syahwat perut) yang sebagiannya karena bombardir iklan diberbagai media yang menyerang titik kesadaran masyarakat sehingga menjadi lengah, abai terhadap sistem nilai yang semestinya dianut dan diterapkan dalam bersikap dan bertindak.

Apabila fenomena berulang (siklus) ini tidak diurai secara tuntas dan menyeluruh dengan penyelesaian terstruktur, sistematis, dan masif maka masalah inflasi akan selalu menjadi momok yang menghantui masyarakat setiap menghadapi bulan suci Ramadan.

Seharusnya yang lebih dikhawatirkan adalah peningkatan dari sisi aspek ibadah secara individual, orang per orang, kita sendiri tidak mencapai target derajat “taqwa” seperti yang diharapkan Tuhan Yang Maha Kuasa dengan syariat puasa serta dampak sosialnya.

Salah satu makna taqwa adalah sikap dan tindakan yang penuh kehati-hatian, kecermatan, kewaspadaan terhadap apa-apa yang dapat merusak, menghilangkan, men-down grade penilaian Allah Subhanahu Wa Ta’ala terhadap kita selaku hamba-Nya.

Dengan mengukur makanan yang kita konsumsi sehari-hari bukan hanya halal-haramnya saja, tapi juga bagaimana kuantitas maupun kualitasnya. Semestinya ini merupakan praktik yang lajim dilakukan setiap orang, bukan hanya kalangan tertentu misalnya penderita diabetes, atau pasien lainnya yang harus mengikuti saran ahli gizi.

Salah satu ukuran yang bisa dipakai adalah banyaknya kalori dan protein yang dikonsumsi, merupakan hasil konversi dari beragam makanan yang dinikmati per hari sesuai kadarnya. Tabel kalori makanan, memuat aneka jenis makanan dengan jumlah tertentu memiliki kandungan kalori tertentu pula.

Setiap orang memiliki karakteristik jasmani yang berbeda-beda dan membutuhkan asupan nutrisi yang juga bervariasi. Namun, secara umum standar kecukupan jumlah kalori rata-rata sekitar 2.058,19 kilo kalori perkapita per hari, yang dihitung adalah yang benar-benar dikonsumsi. Ini dikenal sebagai standar minimum konsumsi pangan yang juga digunakan oleh BPS sebagai salah satu acuan kriteria kemiskinan.

Jika praktik mengukur makanan dengan memilah dan memilih hanya yang diperlukan, sesuai skala prioritas terbaik setiap kita (kebutuhan nutrisi, daya beli, selera, dan lain sebagainya), tentu akan berdampak luas pada seluruh tatanan bangsa dan negara, seperti bola salju yang bergulir (snow ball effect). Konsumen yang cerdas, melahirkan bangsa dan negara yang kuat dan kokoh.

BPS secara periodik melalui survei harga konsumen (SHK) ada yang harian, mingguan hingga bulanan di pasar-pasar. Serta pola konsumsi dan struktur biaya hidup secara menyeluruh melalui survei biaya hidup (SBH) dan survei sosial ekonomi nasional (SUSENAS) ke rumah tangga.

Dari sisi produsen sesuai teori ekonomi jika terjadi revolusi pola permintaan (konsumen) tentu juga akan ada perubahan signifikan. Barang-barang yang tidak laku, tidak disukai konsumen tentu akan menghilang, persaingan dan transaksi di pasar yang ada adalah pada kualitas, penyajian dan nilai manfaat bukan iming-iming diskon atau hadiah.

Dalam hal suplai dalam negeri tidak mencukupi, maka impor adalah salah satu solusi-bukan sebagai tulang punggung utama penyuplai kebutuhan. Semakin tinggi ketergantungan impor, akan semakin rentan kondisi sosial ekonomi bangsa dan negara.

Kurma dalam arti yang sebenarnya, belum mampu diproduksi di tanah air. Bahkan dalam survei pertanian antar sensus SUTAS yang dilaksanakan BPS tahun lalu, kurma belum menjadi komoditas tersendiri yang terdaftar.

Info terakhir, pemerintah telah memasukkan kurma sebagai komoditas yang berada di bawah pengawasan dan pembinaan Dirjen Perkebunan, bukan Tanaman Pangan ataupun Hortikultura.

Ketersediaan kurma ditanah air, sudah dapat dipastikan dari impor, volume impor kurma tahun 2017 mencapai 34,62 ribu ton atau senilai USD 53,63 juta. Jika setiap muslim mengkonsumsi 3 butir kurma untuk berbuka dan 3 butir saat makan sahur selama Ramadan dibutuhkan 180 butir per orang. Asumsi per kilo ada 100 butir, maka untuk 150 juta orang dibutuhkan sekitar 270 ribu ton.

Dengan tingkat konsumsi kurma terus meningkat, antisipasi kita jauh tertinggal dari Thailand yang 20 tahun lebih cepat belajar untuk mensuplai pasar dunia. Bahkan kini sudah mampu menjadi salah satu eksportir kurma, selain negara-negara Timur Tengah (Uni Emirat Arab, Tunisia, Mesir, Iran), Amerika Serikat serta Israel juga mampu mengekspor kurma ke berbagai negara.

Diperlukan kesadaran kolektif, kebangkitan umat, bangsa dan negara supaya tidak terus dicekoki impor, kita harus mampu membalikkan keadaan dengan cepat, bersatu padu berbagai elemen bangsa.

Akademisi, peneliti dan kampus-kampus, bergerak dibidang riset ilmiah dan teknologinya, birokrasi pusat maupun daerah dalam penataan aturan hukum yang kondusif bagi investasi, semua berkontribusi nyata, seperti pernah boomingnya budidaya cacing, atau usaha batu cincin. Tentu dengan semangat mengamalkan sunnah bagi yang muslim, sehingga dalam 5-10 kedepan, jutaan pohon kurma menghijaukan nusantara. Dapat dihasilkan swasembada kurma untuk kebutuhan Ramadhan dan dalam negeri, bahkan bukan tidak mungkin menjadi negara eksportir, sumber devisa negara. Ini adalah mimpi, yang akan menjadi nyata di hari esok.

Yan Yan Gustiana

Statistisi BPS Provinsi Jawa Barat

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar