Yamaha Lexi

Mengapa Tol Cipali Tidak Memiliki Pembatas Jalan?

  Rabu, 19 Juni 2019   Erika Lia
Ilustrasi pembatas jalan.

PALIMANAN, AYOBANDUNG.COM --  Kecelakaan maut yang menewaskan 12 orang di Tol Cipali KM 150, Kabupaten Majalengka, disebut sebagai insiden terbesar sepanjang keberadaan tol tersebut. Belum terpenuhinya v/c ratio pada Tol Cipali menjadi alasan ketiadaan concrete barrier.

Ketiadaan concrete barrier (pembatas jalan) sepanjang Cipali sempat disayangkan pihak kepolisian karena dinilai telah memperbesar resiko kecelakaan. PT Lintas Marga Sedaya (LMS) sebagai pemegang konsesi Tol Cipali tak menampik kondisi median jalan yang masih terbuka.

Namun, General Manager Operation PT LMS, Suyitno menjelaskan, kondisi itu berkaitan dengan belum terpenuhinya v/c ratio pada Tol Cipali. Secara umum, v/c ratio adalah rasio atau perbandingan antara volume dengan kapasitas suatu jalan raya.

"Saat ini v/c ratio Tol Cipali masih 0,4," katanya saat dihubungi Ayocirebon.com.

Sekedar diketahui, nilai v/c ratio ditentukan dalam desimal yang dimulai dari nol, semisal 0,8 atau 1,2. Bila nilai v/c ratio kurang dari satu (1), lalu lintas jalan tersebut lancar. Bila sama dengan satu berarti sesuai, sedangkan lebih dari satu berarti lalu lintas jalan dimaksud padat.

Menurut Suyitno, setidaknya pada v/c ratio 0,4, pengendara bisa memilih kecepatan. Lain halnya bila v/ratio bernilai di atas 0,8 atau bahkan satu, yang berarti laju kendaraan nyaris stagnan, seperti pada tol Cikampek.

"Sebenarnya, median jalan yang terbuka tanpa pembatas di Tol Cipali itu disiapkan untuk penambahan lajur. Saat ini, memang masih dua lajur, tapi ke depan akan kami tambah satu lajur," terangnya.

Dua lajur yang dimaksud berupa lajur A yakni arah Jakarta menuju Cirebon/Jawa Tengah dan lajur B yakni arah Cirebon/Jawa Tengah menuju Jakarta. Namun, kata Suyitno, penambahan lajur akan dilakukan bila memang lalu lintas Tol Cipali memenuhi v/c ratio yang termasuk padat.

Saat itulah, tegasnya, Tol Cipali akan dilengkapi concrete barrier. Dengan v/c ratio 0,4, penambahan lajur belum dimungkinkan.

Dia pun mewakili LMS mengungkapkan dukacita dan keprihatinan atas kecelakaan maut di KM 150 pada Senin (17/6/2019) dini hari. Kejadian itu disebutnya sebagai yang terbesar sepanjang keberadaan Tol Cipali, terutama dari segi korban jiwa.

Didasarkan data kecelakaan lalu lintas yang dilakukan pihaknya, human error atau kesalahan manusia menjadi penyebab dominan sekitar 80%. Sisanya, kondisi kendaraan yang tak laik maupun kondisi jalan.

Dia mengungkapkan, khususnya di jalur tol di semua lokasi, ada titik-titik rawan kecelakaan lalu lintas yang dikenal dengan sebutan black spot atau blank spot. Titik-titik ini dipetakan berdasarkan banyaknya kejadian kecelakaan maupun korban jiwa.

"Di Cipali ada dua black spot, masing-masing antara Subang-Cikedung dan Cikedung-Kertajati. Nah, lokasi kecelakaan kemarin (Senin) di KM 150 itu masuk black spot kedua di jakur Cikedung-Kertajati," akunya.

Dia mengatakan, kedua black spot tersebut secara geometris berupa jalan lurus yang secara psikis berpotensi memengaruhi pengendara, mulai dari mengantuk dan hal lain yang terkadang membuatnya lengah. Namun dia menegaskan, sejatinya kecelakaan bisa terjadi di mana saja.

Disinggung soal kondisi jalan bergelombang yang ditemukan petugas kepolisian di lokasi kejadian, Suyitno meyakinkan pihaknya rutin melakukan pemeliharaan jalan. Hanya, masih banyaknya kendaraan yang overload atau kelebihan muatan di Tol Cipali membuat pihaknya harus terus dihadapkan pada kondisi jalan rusak.

"Tapi kami terus perbaiki kerataan jalan. Terkait kejadian ini, kami juga sudah melakukan koordinasi teknis dengan pihak-pihak terkait, seperti Polda Jabar, KNKT, Dishub, dan lainnya, untuk pula mengevaluasi dengan harapan tak ada kejadian serupa terulang nanti," tandasnya.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar