Yamaha

Lika-liku Lebaran

  Rabu, 19 Juni 2019   Netizen
Sejumlah pengunjung memadati kawasan wisata Alun-alun Bandung di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Senin (10/6/2019). Alun-alun Bandung menjadi salah satu alternatif wisata untuk menghabiskan sisa waktu libur lebaran 2019. (Kavin Faza/ayobandung.com)

Perayaan Idulfitri di Indonesia selalu meriah dan penuh cerita. Idulfitri atau biasa disebut Lebaran merupakan hari raya umat Islam yang bahkan ikut dinikmati oleh umat beragama lain.

Jumlah penduduk beragama Islam mencapai 87,18 persen dari total penduduk di Indonesia menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) hasil Sensus Penduduk 2010. Sehingga tidak heran jika saat Lebaran tiba akan terasa pengaruhnya ke seluruh masyarakat di Indonesia.

Lebaran dan mudik

Tradisi mudik menjadi salah satu yang membedakan perayaan Lebaran dengan negara yang berpenduduk mayoritas beragama Islam lainnya. Walaupun ada juga pergerakan mudik di negara Islam lain, tapi tidak sebesar di Indonesia.

Menurut data Kementerian Perhubungan jumlah pemudik 2017 mencapai 20,3 juta orang, 2018 mencapai 21,6 juta orang. dan 2019 diprediksi mencapai 23 juta orang.

Dengan jumlah pergerakan pemudik sebanyak itu tentu saja menjadi target pasar yang sangat menarik bagi semua jasa angkutan. Semua usaha angkutan ramai-ramai menambah jumlah kapasitas angkutannya nya. Anehnya penambahan kapasitas angkutan ini berbanding lurus dengan kenaikan tarif. Permintaan tinggi, suplai meningkat tapi tarif semua moda angkutan tetap saja naik.

Walau tampaknya mudik tahun ini lebih memberatkan bagi banyak calon penumpang angkutan udara. Pasalnya tarif pesawat mengalami kenaikan signifikan sejak awal 2019.

Tak heran banyak bandara mencatat terjadi penurunan jumlah penumpang yang berangkat maupun yang datang. Bandara Soekarno-Hatta di Cengkareng yang merupakan bandara terpadat di Indonesia pun, terlihat menurun drastis. Hal ini dikeluhkan oleh banyak pelaku usaha di sekitar area bandara.

Kenaikan tiket pesawat ini tergambar dari angka inflasi yang dirilis oleh BPS awal tahun ini. Sebagai salah satu komoditi yang dipantau oleh BPS untuk penghitungan inflasi, tarif angkutan udara patut mendapat perhatian serius dari semua pihak.

Tarif angkutan udara ini masuk sebagai komoditi administered price atau komoditi yang harganya diatur oleh pemerintah. Pada awal Ramadan, pemerintah mengimbau agar maskapai mau menurunkan tiket pesawat.

Tapi respon dari maskapai lambat, sehingga pemerintah menurunkan batas tarif atas sebesar 16 persen. Penurunan batas tarif atas ini, tampaknya tidak signifikan dirasakan oleh masyarakat. Karena pada awal tahun 2019 tiket pesawat sudah mengalami kenaikan diatas 60 persen.

Faktor Inflasi Lebaran

Lebaran adalah waktu di mana kosumsi masyarakat meningkat drastis. Konsumsi masyarakat bukan hanya makanan tapi juga non makanan dan jasa. Badan Pusat Statistik sebagai lembaga pemerintah yang menghitung inflasi tentu saja tahu betul bagaimana permasalahan inflasi ini muncul setiap momen hari raya khususnya lebaran.

Inflasi adalah terjadinya kenaikan harga pada barang/jasa kebutuhan hidup. Kenaikan harga bisa dikarenakan faktor suplai dan permintan, atau bisa juga karena faktor psikologi. Faktor psikologi ini bisa karena faktor konsumen, pedagang, distributor dan juga produsen.

Seringkali sebanyak apapun suplai komoditi itu tercukupi, tetapi jika momen Lebaran maka tetap saja harga akan naik. Sikap konsumen yang merasa khawatir tidak terpenuhinya kebutuhan, berimbas kepada pembelian barang dalam jumlah banyak dalam satu waktu dan bersamaan.

Perilaku inilah yang kerap kali dimanfaatkan oleh pelaku usaha untuk mencari keuntungan lebih saat Lebaran. Akhirnya konsumen tidak berdaya terhadap kenaikan harga yang dipatok oleh pengusaha, dan tetap belanja dengan alasan momen lebaran cuma setahun sekali. Sehingga faktor ini menjadi salah satu pemicu inflasi tinggi saat Lebaran.

Tarif angkutan hanya sedikit saja dari beberapa komoditi yang seringkali mengalami inflasi tinggi saat Lebaran. Untuk tarif angkutan peran pemerintah sangat diperlukan agar bisa mengatur kenaikan yang wajar yang sama-sam menguntungkan pengusaha dan juga masyarakat. Sehingga inflasi tarif angkutan pun bisa terkendali.

Akan tetapi untuk komoditi hasil pertanian seperti beras, daging ayam ras, telur ayam ras, cabe merah, cabe rawit dan lain-lain, memang sulit terhindar dari melonjaknya harga menjelang Lebaran.

Sebanyak apapun pasokan untuk komoditi-omditi tersebut, jika menjelang Lebaran maka tetap saja akan mengalami kenaikan harga. Inilah yang disebut psikologi inflasi di mana seringkali teori ekonomi terbantahkan di sini.

Perlunya edukasi kepada masyarakat sebagai konsumen terkait pola konsumsi saat Ramadan dan Lebaran. Dan tak kalah penting adalah penegakan aturan kepada pelaku usaha agar jangan menaikkan harga seenaknya.

Pemerintah harus sering berada di tengah-tengah masyarakat. Sehingga ketika ada pergerakan spekulan yang berusaha memainkan harga, pemerintah bisa cepat mengambil tindakan.

Pengendalian Konsumsi

Lebaran memang sejatinya adalah sebuah ritual keagamaan yang  tidak ada hubungannya dengan urusan konsumsi ataupun kegiatan mudik. Lebaran merupakan pangkal dari ibadah Ramadan.

Lebaran bisa menjadi indikator berhasil atau tidaknya ibadah Ramadan seseorang. Konsumsi meningkat hal yang wajar tapi tentu harus tetap dalam batas yang terkendali. Karena Islam mengajarkan umatnya untuk tidak berlebih-lebihan dalam segala hal.

Untuk itu diperlukan kerja sama semua pihak mulai dari pemerintah bahkan para ulama. Ulama bisa berperan dalam memberikan pencerahan bahwa Ramadan dan Lebaran adalah saat memperbanyak amal ibadah.

Jikapun konsumsi meningkat itu lebih untuk bersedekah kepada sesama yang membutuhkan. Sehingga pada saat Ramadan dan Lebaran akan tercipta pemerataan ekonomi di semua lapisan masyarakat.

Dengan terkendalinya konsumsi maka harga pun akan terkendali. Kenaikan harga akan berada dalam tingkat yang wajar, sehingga inflasi pun dapat dikendalikan.

Semoga Ramadan dan Lebaran bukan lagi menjadi periode yang perlu dikhawatirkan oleh semua pihak terkait konsumsi masyarakat. Mari kita bersuka cita bergembira merayakan momen kemenangan di setiap Lebaran.

 

Muhamad Rikiansyah, S.Ikom

Humas di Badan Pusat Statistik Provinsi Jawa Barat

Netizen :

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar