Yamaha Lexi

Mahasiswa Farmasi UMB Formulasikan Daun Cincau Hijau sebagai Kapsul Antiinflamasi

  Selasa, 18 Juni 2019   Adi Ginanjar Maulana
Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung, Fitria Wulandari, Fitri Wahyu, dan Khusnul Rizaldi, lolos dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti. Mahasiswa Program Studi Farmasi ini mengajukan penelitian formulasi daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers) menjadi kapsul antiinflamasi. (Istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM—Tiga mahasiswa Universitas Muhammadiyah Bandung lolos dalam  Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang diselenggarakan oleh Kemenristekdikti.

Proposal penelitian mereka menarik perhatian tim juri PKM. Mahasiswa Program Studi Farmasi ini mengajukan penelitian formulasi daun cincau hijau (Cyclea barbata Miers) menjadi kapsul antiinflamasi.

AYO BACA : 10 Makanan Penyebab Mimpi Buruk

Latar belakang Fitria Wulandari, Fitri Wahyu, dan Khusnul Rizaldi dalam mengajukan penelitian ini karena ada banyak tumbuh-tumbuhan di Indonesia yang merupakan sumber obat-obatan, salah satunya cincau hijau. Cincau hijau banyak diyakini masyarakat untuk mengurangi pembengkakan dengan cara ditumbuk atau direbus.

Menurut mahasiswa Farmasi UM Bandung semester IV ini dalam daun cincau hijau mengandung zat flavonoid sebagai bahan dasar antiinflamasi. "Antiinflamasi ini berupa anti peradangan, anti-pembengkakan," jelas Khusnul.

AYO BACA : Terlalu Banyak Konsumsi Suplemen, Bahaya bagi Kesehatan?

Ada dua jenis daun cincau yang dikenal masyarakat di Indonesia, Cyclea barbata Miers dan Premna oblongifolia yang biasa dibuat es cincau. Daun yang pertama yang diajukan sebagai bahan penelitian.

Hambatan dalam penelitian ini, daun Cyclea barbata Miers ini sulit didapatkan di sekitar Kota Bandung.

"Daun yang banyak tumbuh di sekitar Bandung, cocoknya untuk es cincau." ujar Khusnul. Mereka mendatangkan daun cincau Cyclea barbata Miers dari Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan.

Menurut Fauziah Ningrum, dosen Farmasi Universitas Muhammadiyah Bandung, tim ini merupakan tim pertama dari UM Bandung yang lolos PKM sejak tiga tahun berdirinya. Sebuah kebanggaan bagi UM Bandung dapat sejajar dengan kampus PTN dan PTS lainnya lolos dalam PKM tingkat nasional. Walau laboratorium Farmasi di UM Bandung belum lengkap bukan menjadi hambatan. "Tim ini semangat melakukan penelitian dengan segala keterbatasannya," tegasnya.

Untuk mengetahui progres penelitian, tim ini akan dipantau dan evaluasi di Unpad oleh tim juri PKM dari Kemenristekdikti pada 25 Juni 2019. Dari hasil penelitian sekarang akan diikutkan seleksi dalam Pekan Ilmiah Mahasiswa tingkat nasional. "Penelitian tim ini akan dikembangkan untuk mengikuti seleksi Pimnas tingkat nasional," ungkap Fauziah Ningrum.

AYO BACA : Mengenal Berbagai Spesies Nyamuk di Museum Nyamuk Pangandaran

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar