Yamaha Lexi

Bila Psikolog dan Wartawati Menilai Donald Trump

  Selasa, 18 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump. (Istimewa)

Bukan main! Presiden Donald Trump yang mengusung slogan America First berlaku seperti pemain gelandang. Punya urusan dengan Korea Utara. Perang dagang dengan Cina. Mau mengganti Presiden Venezuela Nicolas Maduro Moros. Melanggengkan ketegangan dengan Iran. Menekan Jepang dan Uni Eropa. Mengucilkan Kanada. Serta Menarik diri dari Kemitraan Trans-Pasifik.

Belakangan, melalui akun Twitter pribadinya pada 4 Juni lalu, Trump menilai Sadiq Khan, adalah bencana. Aib nasional yang menghancurkan London.

Komentar terhadap wali kota London itu berkaitan dengan aksi teror yang menewaskan tujuh orang dan melukai 48 lainnya. Peristiwa itu terjadi sebelum Trump bertolak ke ibu kota Inggris untuk mengadakan lawatan kenegaraan.

Para komentator politik termasuk Fareed Zakaria menyebut Trump sebagai nasionalis, proteksionis dan populis, yang bertekad membuat America First. Atas dasar itu, Trump melakukan manuver-manuver yang membuat tak sedikit rakyat AS ingin memakzulkannya karena seperti tidak ada toleransi dan merugikan negaranya sendiri. 

 

Bagaimana pandangan psikolog?

Ronald E. Riggio Ph.D , dalam Psychology Today, menegaskan Donald Trump dalam mencapai posisinya sebagai presiden tertolong sikapnya yang blak-blakan dan nampak sangat kuat. Tetapi dia tidak mempunyai ciri-ciri yang memadai sebagai pemimpin yang ideal seperti  cerdas, pekerja keras, jujur, dan memiliki rasa belas kasihan.

Trump lebih bernuansa sebagai orang kuat dan tirani. Pada mulanya tipe pemimpin seperti ini sukses, tetapi seiring dengan berjalannya waktu, jumlah pendukungnya mungkin menyusut karena melakukan perundungan dan bertindak, bersikap, atau berkata yang melampaui batas. Meskipun begitu, pendukung setianya tetap ada.

Kunci kepemimpinan yang efektif adalah mendelegasikan tanggung jawab kepada bawahan. Pendelegasian ini memungkinkan pemimpin untuk menangani pekerjaan-pekerjaan yang penting saja dan membantu mengembangkan kemampuan kepemimpinan bawahannya serta mendukung sekalian upayanya.

Presiden Trump punya pola kepemimpinan yang berbeda. Dia mengizinkan bawahannya untuk mengambil tanggung jawab tetapi jika bawahannya melampaui batas atau tidak sepakat dengan kebijaksanaan atau keputusannya, dia dengan mudah menyatakan: Anda dipecat.

Trump menggunakan berbagai strategi psikologis untuk menarik pengikut dan membuatnya setia. Dia menggunakan kata ‘musuh’ untuk mempersatukan dukungan dalam grup. Musuh-musuhnya itu adalah teroris, imigran, muslim, dan partai dan orang-orang Demokrat, serta menjuluki media-media utama sebagai ‘musuh rakyat’.

Riggio menyebut Trump menempatkan dirinya sebagai pusat kepemimpinan nasional. Kepemimpinan yang serupa ini umumnya tidak efektif dalam jangka panjang mengingat sangat rumit memimpin sebuah bangsa. Dalam mana pemimpin harus mengendalikan lingkaran dalam dan luar sekaligus. Jadi yang tepat dalam jangka panjang adalah kepemimpinan yang saling berbagi bukan top-down.

Kesimpulannya, Trump mungkin mampu meraih target-target jangka pendek, namun dalam jangka panjang kepemimimpinan top–down tidak efektif.

 

Perspektif Wartawati

Sally Percy, wartawati lepas bidang bisnis dan keuangan di AS, menggunakan lima patokan untuk menilai kepemimpinan  Donald Trump.

1. Prestasi

Majalah Forbes menempatkan Trump pada peringkat ke-766 manusia terkaya di dunia dengan nilai asetnya US$3,1 milyar. Sukses berkarir dalam dalam serial TV The Apprentice dan mengagetkan dunia karena memenangi pemilihan presiden tahun 2016.  Sebagian keberhasilannya itu juga disebabkan karena ia dilahirkan dalam keluarga sejahtera, yang memudahkannya untuk mencapai prestasi seperti saat ini.

2.  Apa adanya

Trump adalah pemimpin yang berkata apa adanya, sekalipun pahit bagi yang mendengarnya. Dia tak poles sana poles ini sekalipun mampu menyewa konsultan atau perusahaan PR. Dia juga menggunakan Twitter-nya untuk mengatakan apa yang difikirkan, tak peduli orang lain suka atau tidak tidak.

3. Kolaborasi

Trump bertindak sepihak demi slogannya America First. Ketidaksepakatannya dengan Kanselir Jerman Angela Merkel dan PM Kanada Justin Trudeau sudah diketahui khalayak dunia. AS memberlakukan bea masuk terhadap produk-produk China dan Uni Eropa.

Dia mencaci maki secara terang-terangan anggota NATO karena tidak memberi kontribusi lebih besar dalam anggaran belanja pertahanan. Dia menarik diri dari persetujuan pengurangan emisi dan Pakta Perdagangan Bebas Amerika Utara (NAFTA).

Donald Trump miskin kolaborasi. Menhan James Norman Mattis dipecat karena setuju penarikan pasukan AS dari Suriah. Banyak lagi pejabat yang dipecat, tetapi segera pula dia mendapatkan pengganti.

Trump bersahabat dengan PM Prancis Emmanuel Macron dan berusaha membujuk Kim Jong Un untuk menghentikan program nuklir, tetapi rekor kolaborasinya tetap jelek. Tampaknya kolaborasi bukan merupakan prioritasnya.

4. Total menguasai

Pernah mengeritik Barrack Obama karena kerap menggunakan perintah eksekutif. Tetapi dia sendiri dalam 100 hari pertama paling banyak menandatangani perintah eksekutif dibanding pendahulunya sejak Perang Dunia II.

Dia menjaga jarak dari para penasehat yang tidak memiliki pandangan yang sama. Bekas kepala penasehat ekonomi Gary Cohn mundur karena gagal meyakinan Trump supaya membatalkan rencana mengenakan bea masuk atas baja dan alumunium.

Kendati berasal dari partai Republik, Trump memiliki hubungan yang tidak mulus dengan partainya itu. .Dari pandangan pihak luar, tampak ada kekurangan dalam distribusi kepemimpinan dan berbagi kewenangan dalam pemerintahan Trump.

5. Visi

Visinya tentang America First dalam praktek berarti lapangan pekerjaan bagi lapangan orang Amerika, nilai defisit perdagangan AS yang lebih kecil, menindak tegas imigran ilegal dan mengakhiri kebiasaan negara-negara Eropa yang mengandalkan keamanan negaranya kepada anggaran belanja pertahanan AS.

Pandangan yang dikemukakan Percy dan Riggilio itu ada benarnya. Secara ringkas kepemimpinan Trump dapat dilihat dari gayanya dalam serial TV The Apprentice.

Dia menetapkan target yang tinggi kepada anggota timnya disertai imbalan yang memadai. Tetapi begitu target tak tercapai, langsung dikatakan...anda dipecat. Sekalipun yang dipecat tak menerima dan bersungut-sungut, Trump tak peduli.

Pemberlakuan tarif atas produk impor tanpa dikehendaki mempengaruhi industri domestik AS. Dunia mengecam pula kebijaksanaan terhadap imigran ilegal

Indonesia-pun mulai terkena dampak dengan tersendatnya penyerahan sebelas pesawat tempur multiguna Sukhoi-35 buat Rusia yng berharga US$1,14 milyar. Pesawat ini ditakuti karena dapat mencapai 2.500 km per jam dengan daya jangkau 3.400km dan radius pertempuran hingga 1.600 km. Ia juga memiliki senjata 12 mm dan bisa diperlengkapi 12 bom atau rudal.

Trump merupakan pemimpin yang berkarakter dan sulit dipengaruhi lingkungan.  

 

Farid Khalidi 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar