Yamaha Lexi

Layang-layang Masyarakat Cibeusi, Usaha Sampingan yang Menjajikan

  Selasa, 18 Juni 2019   Rizma Riyandi
Ujang Sahari, pengrajin layang-layang, saat ditemui di rumahnya, RW 2 Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor. (Foto: Muthyarana)

Buluh diraut, dirakit menjadi kerangka, ditempeli kertas hias, lalu diterbangkan menggunakan benang. Sudah terbayang apakah benda yang diterbangkan itu? Ya, itulah layang-layang.

Siapa yang tidak tau dengan benda dan permainan yang bernama layang-layang? Bermain layang-layang menjadi salah satu permainan yang mengasyikkan bagi beberapa orang. Tak memandang usia, permainan ini diminati dari anak kecil hingga orang dewasa. Bagi sebagian orang dewasa, bermain layang-layang bahkan menjadi kegemaran.

Desa Cibeusi, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, merupakan salah satu desa yang kegitan usahanya difokuskan pada produksi layang-layang. Membuat layang-layang sudah menjadi suatu pekerjaan yang diwariskan secara turun menurun dalam suatu keluarga di Desa Cibeusi. Walaupun tidak semua masyarakat Desa Cibeusi menganut prinsip tersebut, namun rata-rata masyarakat mengikuti tradisi ini.

Salah satunya adalah Pak Ujang Sahari, ia merupakan salah satu dari banyaknya pengrajin layang-layang di Desa Cibeusi. Selain kesibukanya menjadi ketua RW, dan buruh bangunan, untuk mengisi waktu luang, Pak Ujang biasanya menjalakan usaha merakit layang-layang miliknya. Ia sudah lama berkecimpung dalam menjalankan usaha membuat layang-layang miliknya. Usaha perakitan layang-layang yang dijalankannya saat ini juga merupakan warisan dari orang tuanya.

“Udah lama, lah. Turun temurun itu mah, udah jadi budaya. Yang diatasnya udah meninggal, nanti turun ke yang bawahnya. Saya dapat ilmunya dari orang tua,” Ujar Pak Ujang dengan logat Sundanya yang kental.

Ditemui di rumahnya, di kawasan RW 2 Desa Cibeusi, Ia berkata, dalam usahanya, Pak Ujang hanya sekadar merakit kerangka layang-layang saja. Tahap selanjutnya akan dilakukan oleh pekerjanya. Selain untuk mendapatkan uang tambahan, para pekerja biasanya datang untuk mengisi waktu luang. Kebanyakan dari pekerja yang datang adalah perempuan. Mereka bekerja merapikan lipatan kertas pada layang-layang, atau melukis dan menghias layang-layang.

Bahan baku yang diperlukan untuk merakit layang-layang di dapatkan Pak Ujang melalui banar. Banar ini juga akan menerina layang-layang jadi yang diproduksi oleh pengrajin. Tak semata-mata mengandalkan bahan baku dari banar, Pak Ujang juga sering membeli bahan baku langsung ketempat produksinya. Seperti bilah yang sering ia beli di daerah Tanjung Sari untuk mendapatkan harga yang lebih murah.

Jenis layang-layang yang di produksi oleh masyarakat Desa Cibeusi beragam. Mulai dari layang-layang kecil hingga yang besar. Layang-layang yang polos, ataupun layang-layang yang dihias dan dilukis sedemikan rupa untuk mengikuti kontes layang-layang.

Dalam sebulan, dan saat produksi dan pemasaran meningkat, usaha layang-layang milik Pak Ujang mampu memproduksi sebanyak delapan rim layang-layang. Namun, jika saat produksi menurun, Pak Ujang hanya membuat layang-layang semampu tenaganya saja, tidak ditargetkan berapa jumlanya, dan tidak menggunakan jasa para pekerja.

Produksi layang-layang milik Pak Ujang dan pengrajin Cibeusi lainnya sudah dipasarkan ke berbagai kota mulai dari Bandung, Surabaya, bahkan hingga ke Lampung.

Layang-layang yang diproduksi oleh masyarakat Cibeusi ini banyak dijual secara grosiran, terutama untuk penjualan ke luar kota. Disamping itu, layang-layang tersebut juga dijual eceran dengan harga Rp.1000,- per tiga layangan ke warung-warung sekitar.

Disamping usaha merakit layang-layang ini masih eksis ditengah perkembangan dan kecanggihan teknologi, Pak Ujang pun mengakui penurunan produksi dan penjualan layang-layang miliknya. Lebih cenderungnya minat anak-anak untuk bermain smartphone, membuat permainan layang-layang mengalami penurunan peminat.Selain itu, cuaca yang tak menentu dan pergantian musim sangat mempengaruhi penjualan dan produksi layang-layang.

Usaha merakit layang-layang ini kebanyakan menjadi usaha sampingan bagi masyarakat Desa Cibeusi. Walaupun begitu, Secara ekonomi pengrajin layang-layang di Desa Cibeusi mengakui dengan usaha ini, ekonomi mereka menjadi sangat terbantu. Tak bisa dipungkiri, walaupun usaha merakit layang-layang menjadi usaha sampingan bagi masyarakat Desa Cibeusi, tetapi memiliki penghasilan yang cukup menjanjikan.

Muthyarana Darosha
Mahasiswi Jurnalistik Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar