Yamaha Lexi

PPDB SMA-SMK Hari Pertama Membludak, Orangtua Murid Dinilai Salah Persepsi

  Selasa, 18 Juni 2019   Nur Khansa Ranawati
Suasana PPDB hari pertama di SMAN 8 Bandung, Senin (17/6/2019)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM--Pendaftaran Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tingkat SMA dan SMK mulai dibuka pada Senin (17/6/2019). Di sejumlah sekolah di Kota Bandung, pendaftaran hari pertama ini diwarnai suasana ramai dan padat, termasuk adanya antrean orang tua dan calon peserta didik sejak subuh.

Hal tersebut setidaknya terpantau terjadi di sejumlah SMA dan SMK yang termasuk kategori sekolah favorit seperti SMAN 2, SMAN 8, SMAN 24, SMK 3 dan SMA 9. Di masing-masing sekolah tersebut, para orang tua calon peserta rata-rata sudah mulai mengantre sejakr sekitar pukul 4 hingga 5 pagi.

Di SMAN 2 dan SMK 3 Bandung, orang tua calon peserta telah datang membawa persyaratan sejak pukul 4. Ketua Panitia PPDB SMAN 2 Bandung, Fredi Trisianly mengatakan pihaknya harus membuka ruang informasi agar orang tua calon perserta didik dapat masuk terlebih dahulu di area sekolah sebelum masuk ke sesi pendaftaran. 

"Karena antrean dari jam 4 pagi, ruang informasi dari jam setengah tujuh sudah dibuka, jelasnya.

Hal serupa juga terjadi di SMAN 8 Bandung. Salah satu orang tua calon peserta datang sejak pukul 5 pagi, dan mendapati banyak orang tua lainnya telah mengantre lebih awal.

"Saya sudah datang ke sini dari jam 5 pagi. Saat itu juga sudah banyak orang tua siswa yang datang," ungkapnya.

Hal ini tak ayal membuat antrean pendaftar di seluruh sekolah tersebut membludak. Jalan Solontongan bahkan mengalami kemacetan panjang hingga ke area belakang Hotel Horison sejak pagi hingga siang.

Fredi mengatakan, antrean panjang yang juga terjadi di sekolahnya tersebut salah satunya dipicu oleh informasi  yang dinilai keliru, yang terlanjur dipahami oleh para orangtua peserta didik.

Hal tersebut adalah menganggap pendaftar yang datang paling awal adalah pendaftar yang akan diterima, akibat salah menerjemahkan petunjuk teknis (juknis) online PPDB 2019 terkait nomor urut. Menurut Fredi, nomor urut tidak terlalu berpengaruh terhadap peluang diterimanya calon peserta didik.

"Persepsi masyarakat di juknis online itu yang menyesatkan akhirnya, jadi disitu dikatakan nomor urut yang duluan itu yang duluan diterima, itu yang salah, Jadi masyarakat membacanya sekilas saja," jelasnya.

"Bahwa nomor urut itu menentukan diterima atau tidaknya (akan berlaku) jika nomor urut itu berada di batas limit. Misalkan zonasi murni diterimanya 200 orang, ternyata 200 orang itu ada yang sama jaraknya, baru dilihat nomor urutnya. Kalau ternyata nomor urutnya juga sama di hari Senin, kita lihat usia peserta didiknya, yang tua didahulukan," lanjutnya.

Hal serupa juga dialami Ketua pelaksana Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMA Negri 24 Bandung, Usman Danu. Dia mengatakan, hal yang mengakibatkan membludaknya pendaftar di sekolah yang terletak di bilangan Ujungberung tersebut adalah informasi bahwa calon peserta didik yang mendaftar lebih dahulu kemungkinan diterimanya lebih besar. Padahal, dia mengatakan, hal tersebut tidak benar.

"Tadi pagi saya sampai datang jam 05.00 subuh, dan (pendaftar) memang sudah membludak, itu gara-gara hoaks, para orang tua menganggap kalau berita yang soal daftar duluan itu yang diutamakan, itu yang ditermia, padahal enggak, jadi itu masalah utamanya makanya membludak," ungkapnya.

Hal ini dikonfirmasi oleh Ketua Harian PPDB Jawa Barat, Yesa Sarwedi. Dia mengatakan, tidak ada pengaruh signifikan antara pendaftar di hari pertama dan hari-hari selanjutnya terkait peluang diterima dan tidaknya siswa yang bersangkutan.

"Sebenarnya tidak perlu datang terlalu awal, justru di akhir bisa mengamati kondisi pendaftar yang sudah masuk. Memang ada pengaruhnya (daftar awal) tapi hanya berlaku bila ada dua pendaftar yang skor jaraknya sama, maka yang diambil yang duluan daftar. Tapi kan kemungkinan itu sangat kecil, kecuali kalau dua pendaftar itu tinggal serumah," jelasnya ketika ditemui di SMAN 8.

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar