Yamaha Lexi

10 Tahun Isyur Menjadi Pelukis di Braga

  Senin, 17 Juni 2019   M. Naufal Hafizh
Isyur, salah satu pelukis di Braga, Kota Bandung. (Dok. Sita Pebriani)

SUMURBANDUNG, AYOBANDUNG.COM—Braga, sebagai salah satu pusat wisata di Bandung, dipenuhi deretan bangunan peninggalan Belanda. Selain itu, deretan lukisan yang menghiasi jalan tersebut seakan menjadi salah satu ciri khas tempat tersebut.

Salah satu pelukis di Braga, Isyur (71), lebih dikenal siswa SMA, SMK, sampai Mahasiswa sebagai Isyur si Pelukis. Sejak kecil, ia sudah mulai menggambar. Dulu, ia hanya menggunakan kertas dan arang. Selain kertas, medium yang dia gunakan adalah dinding dan ubin.

Isyur tidak bersekolah tinggi, namun berkat kegigihannya melukis, ia dikenal oleh berbagai kalangan.

Ia mengembangkan hobi menggambarnya sejak tahun 1973-an. Saat itu, ia menjual hasil karyanya di sekitar Bandung dan sekitar Alun-alun Bandung sebagai pedagang kaki lima.

AYO BACA : Berkenalan Dengan Warung Kopi Tertua di Bandung

“Daripada melamun, bapak mending menggambar pemandangan, orang, atau seingat bapak saja,” ujar Isyur.

Harga lukisan yang Isyur buat sangat terjangkau. Lukisan kecil dijual Rp100.000, sedangkan lukisan besar dibanderol Rp300.000. Harga tersebut dari Isyur sendiri. Jika lukisannya dijual di toko, harganya akan berbeda.

Setelah bertahun-tahun melukis, Isyur banyak menerima pesanan. Hal itu datang dari warga Kota Bandung, luar Kota Bandung, bahkan dari Brunei dan Malaysia. Terkait harga untuk warga negara asing, Isyur mematok nilai yang berbeda, minimal Rp2 Juta.

Isyur mengaku sudah 10 tahun menjadi pelukis di Braga. Siswa SMA, SMK, bahkam mahasiswa sering mendatanginya untuk bercengkerama dan mendengar kisahnya.

AYO BACA : #SusurBandung: Braga dan Apa yang Bisa Dilakukan di Sana?

Isyur sendiri sudah menciptakan banyak lukisan naturalisme. Kanvas, kuas, cat minyak, dan cat air menjadi media pilihannya. 

“Zaman sekarang mah sudah enak medianya dibanding dengan dahulu,” kata Isyur.

Mengenai karya yang paling berkesan, Isyur mengaku lukisan musibah di dunia yang menjadi pilihannya. Saat ini pun, ia sedang menggarap musibah angin puting beliung tetapi belum rampung dikerjakan. 

“Lukisan musibah itu sendiri tidak dijual, meskipun dijual orang tidak sanggup membelinya karena sudah memakai surat dan surat itu sudah diakui negara,” Ungkap Isyur.

Karenanya, lukisan itu akan diwariskan turun-temurun untuk anak dan cucunya jika Isyur sudah tidak ada.

Nanti, diakui Isyur, akan ada sanggar yang sudah diakui negara untuk memajang lukisan tersebut.

“Hasil karya tidak putus-putus. Tidak akan mati. Itulah yang bikin senang,” tutup Isyur. (Sita Pebriani)

AYO BACA : Wisata Malam di Jalan Braga Bandung

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar