Yamaha Lexi

Diskriminasi Pekerja Lansia, Cerminan Masa Depan Kita

  Senin, 17 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi lansia.(Pixabay)

Memasuki tahun baru 2019, berarti selangkah lebih dekat kita untuk menyambut era Bonus Demografi. Kesiapsiagaan dalam menyongsong windows of opportunity diejawantahkan melalui berbagai macam program yang berfokus pada pembangunan manusia.

Pada sembilan program prioritas Nawa Cita yang diusung pemerintahan Joko Widodo dan Jusuf Kalla, selain berfokus pada pembangunan infrastruktur juga memasukkan unsur pembangunan sumber daya manusia. Bentuk program yang mendukung pembangunan manusia tercermin pada program Nawa Cita ke-lima yang berbunyi “Meningkatkan Kualitas Hidup Manusia Indonesia”.

Program pembangunan manusia selayaknya menjadi program yang berkelanjutan. Pembangunan ini tidak hanya berhenti hingga akhir masa windows of opportunity, namun terus berjalan hingga sesudahnya.

Tingkat kelahiran dan kematian yang cenderung konstan, serta dengan seiring berjalannya waktu, penduduk yang pada era windows of opportunity berada pada usia keemasannya mengalami pergeseran memasuki masa non produktif memunculkan fenomena baru yaitu era population aging. Population aging atau penuaan penduduk sering diartikan sebagai meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia, dimana setidaknya satu dari sepuluh penduduk merupakan penduduk yang berusia 60 tahun ke atas.

Sejak memasuki abad 21, isu penuaan penduduk sudah menjadi topik hangat di dunia internasional. Badan Pusat Statistik (BPS) memproyeksikan, Indonesia akan memasuki masa penuaan penduduk pertama kali menjelang tahun 2020, satu dekade lebih lambat dibandingkan dunia yang sudah lebih dahulu memasuki masa penuaan penduduk di tahun 2010-an.

Lebih lanjut, UN (United Nation) memperkirakan bahwa pada tahun 2050 total penduduk lansia (usia 60 tahun keatas) di seluruh dunia akan melewati jumlah 2 miliar jiwa jumlah ini sekitar satu per lima dari total penduduk dunia. Di tahun yang sama, Indonesia diperkirakan akan menempati posisi lima besar sebagai negara dengan jumlah penduduk lansia terbanyak di dunia.

Di Indonesia, DI Yogyakarta merupakan provinsi yang pertama kali memasuki masa population aging. Diperkiraan sudah sejak tahun 1990-an banyaknya penduduk Yogyakarta yang berusia 60 tahun ke atas telah melampaui 10 persen.

Bahkan data hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) pada Maret 2018 silam menyebutkan bahwa Yogyakarta merupakan provinsi dengan persentase penduduk lansia tertinggi di Indonesia dengan persentase sebesar 12,37 persen. Derajat kesehatan yang berkualitas dimanifeskan dalam bentuk tingginya angka harapan hidup penduduk di Yogyakarta mengkatrol tingginya proporsi penduduk lansia.

Lebih lanjut, diketahui bahwa 58,04 persen penduduk lansia Yogyakarta masih berstatus sebagai kepala rumah tangga, yang artinya banyak penduduk lansia masih terbebani tanggung jawab untuk memenuhi kebutuhan ekonomi seluruh anggota rumah tangganya. Terbukti. secara kasat mata kita masih dengan mudah melihat para lansia yang aktif dalam kegiatan ekonomi.

Etos kerja masyarakat Yogyakarta yang tinggi turut mendorong semangat para lansia untuk tetap ikut serta dalam pasar tenaga kerja. Data Susenas Maret 2018 mencatat, ebih dari setengah lansia di Yogyakarta (59,82 persen) masih turut serta berusaha memperoleh pundi-pundi ekonomi. Sayangnya, dari 59,82 persen lansia yang bekerja, 48,25 persen diantaranya tergolong sebagai vulnerable employment. Vulnerable employment merupakan pekerja yang memiliki kecenderungan tidak aman dan mudah diberhentikan, sehingga lebih mudah jatuh miskin ketika terjadi penurunan permintaan.

Disadari, setiap penduduk yang memasuki usia lanjut mengalami penurunan kemampuan, baik kemampuan fisik maupun mental. Hal ini secara tidak langsung berakibat pada penurunan produktifitas. Seiring dengan penurunan produktifitas, pada umumnya pendapatan yang diterima pekerja lansia akan lebih rendah dibandingkan mereka yang masih dalam usia produktif.

Tercatat 39,45 persen pekerja lansia memperoleh pendapatan kurang dari satu juta per bulan. Meskipun demikian, tingginya antusias lansia di Yogyakarta untuk bekerja kiranya seirama dengan falsafah kehidupan yang masih dipegang kuat oleh masyarakat Yogyakarta, yaitu “Nrimo Ing Pandum”, sehingga lika liku kehidupan tetap dijalani dengan penuh keikhlasan.

Diskriminasi pekerjaan terhadap lansia merupakan tantangan yang harus dihadapi para pekerja lansia, mengingat keterbatasan aksesibilitas para lansia terhadap pasar tenaga kerja. Disisi lain dengan semakin meningkatnya proporsi lansia secara otomatis akan menarik turun proporsi penduduk usia produktif. Hal ini akan berakibat pada terjadi kekosongan lapangan pekerjaan.

Evaluasi kebijakan pemerintah dan implementasinya terhadap perlindungan lansia perlu terus dilakukan. Hal ini tidak hanya ditunjukkan bagi penduduk yang saat ini telah memasuki masa lansia, tetapi juga memperhatikan masa depan penduduk yang saat ini masih dalam masa aktif namun pada beberapa tahun kedepan memasuki masa lansia. Hal yang paling penting dan dirasa perlu dilakukan pemerintah untuk kaum lansia adalah penjaminan kualitas pelayanan kesehatan, agar mereka tetap dapat berkegiatan aktif di masa tuanya.

Nindya Purnama Sari, SST, M.Si

ASN Fungsional Statistisi Muda

BPS Kabupaten Bantul

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar