Yamaha Lexi

Keselarasan Antaragama, Etnis, dan Budaya di Pulogeulis Bogor

  Minggu, 16 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Pulogeulis. (Dok. Djasepudin)

Jika hendak menyaksikan keunikan geografis-geologis kunjungilah Pulogeulis. Bila ingin merasakan kerukukan antarumat beragama Pulogeulis merupakan tempat yang tepat sebagai tujuan pelesiran.

Kalau embuh mengetahui nilai-nilai universal kehidupan Pulogeulis patut menjadi catatan terdepan. Di Kota Bogor, Pulogeulis adalah salah satu jejak langkah sejarah peradaban yang memeluk teguh kebersamaan di tengah kemajemukan.

Pulogeulis adalah nama yang digunakan hingga sekarang. Wilayah yang kini masuk pada Kelurahan Babakan Pasar, Kecamatan Bogor Tengah, itu dahulu bernama Parakan Baranangsiang. Parak atau marak adalah tradisi raja dan penduduk dengan cara membendung aliran sungai dan menangkapi ikan-ikan tanpa menggunakan peralatan.

Bagian selatan Pulogeulis pernah dikenal sebagai Rawa Bangké. Karena di ujung selatan Pulogeulis banyak sampah yang menimbulkan bau menyengat. Bahkan, dari kampung itu sering terendus bau bangkai binatang. 

Beberapa narasumber lain mengatakan, salah satu asal-mula nama pulogeulis adalah di dahulu Pulogeulis ada perempuan sangat cantik yang menjadi idola para remaja Bogor. Sedangkan nama kurang sedap itu makin parah terdengar karena Pulogeulis sempat dikenal sebagai wilayah perempuan simpanan. 

Hal itu agak sepaham dengan salah satu makna Bogor. Dalam Kamus Basa Sunda karya R. Sadtjadibrata, arti Bogor adalah Pogor atau Pugur; Kawung Bogor: enau yang sudah tidak bernira. Akan tetapi, kata Satjadibara pula, makna dari Pogor atau Mogor adalah cicing sawatara lilana di imah awéwé kécéran = tinggal beberapa lama di rumah perempuan murahan.

Terlepas dari tentang nama, Pulogeulis yang masuk pada satu Rukun Warga (RW 4) yang terdiri dari 5 Rukun Tetangga (RT)  dari baheula hingga ayeuna tetap memesona. Bukan hanya Pulogeulis dihuni beragam suku bangsa seperti Sunda, Tionghoa, Jawa, atau Minang.

Lebih dari itu di Pulogeulis agama dan beragam keyakinan bisa tumbuh-kembang tanpa saling meniadakan. Malah, dalam momen-momen tertentu mereka saling bekerja sama. Hal ini sejalan dengan suluk yang dikembangkan tokoh masyarakat Pulogeulis, Abraham Halim.

Kata Pak Bram, panggilan Abraham Halim Urang téh sasarengan dina pabéntenan alias kebersamaan dalam perbedaan. Inilah, saya pikir, yang menyebabkan Pulogeulis cantik dan menarik.

Kondisi fisik

Banyak jalan menuju Pulogeulis. Daratan di tengah-tengah sungai Ciliwung itu dapat dikunjungi dengan menyusuri lima titian. Jembatan kecil itu ada yang dari besi, coran, juga bambu. Bisa melalui Jalan Riau-Bangka, hanya beberapa meter dari belakang Terminal Baranangsiang; dapat ditempuh melewati Kampung Kebonkalapa di Jalan Otto Iskandar Dinata, dari Tugu Kujang turun ke arah barat; serta dari Jalan Roda di belakang Plaza Bogor menurun ke arah timur.

Tampilan Pulogeulis bila melihat ujung selatan dan ujung utara seperti bentuk jukung atau perahu kecil. Akan tetapi, bila melihat dari atas, Pulogeulis menyerupai cangkang kacang tanah. Sepanjang mata memandang Pulogeulis adalah kawasan rumah padat penduduk.

Di ujung selatan Pulogeulis, tepat sungai Ciliwung bercabang dua, adalah salah satu rumah penduduk berbahan batako tanpa plester berbentuk V menghadap utara. Tidak ada halaman, tiada pepohonan apalagi taman. Beberapa bagian dari rumah sederhana itu diselimuti lumut dan rerumputan. 

Memang, hampir 99% daratan Pulogeulis tak menyisakan halaman. Jengkal demi jengkal adalah rumah, kontrakan, lorong, pos keamanan, dan beberapa bangunan untuk keperluan umum. Hampir seluruh tepi sungai dijadikan, jamban, kamar tidur, dapur, atau pelbagai penunjang kebutuhan utama rumah tangga.

Sementara di ujung utara Pulogeulis meski tebing sungai sudah dilapisi batu dan beton, masih ada beberapa pepohonan. Dari jembatan Jalan Otto Iskandar Dinata (samping selatan Kebun Raya Bogor) pun dapat terlihat pohon kelapa gosong tanpa daun-sekilat seperti bekas sambaran petir, ada pula pohon mangga, nangka, jambu air, dan pisang.

Meski sesak rumah dan padat penduduk warga Pulogeulis merasa betah tinggal di kawasan seluas ± 3 hektare. Sebagai sarana penunjang di tengah kesesakan itu, di sekitar ujung selatan Pulogeulis berdiri Madrasah Ibtidaiyah Al-Amanah.

Terang saja, guru dan anak-anak yang sedang belajar mesti memfokuskan diri karena mesti bersaing dengan suara arus deras sungai Ciliwung, hentakan musik dari perumahan, atau menutup hidung karena lazim mencium bau ikan asin yang digoreng dari dapur yang mengitari bangunan madrasah. Musala bertebaran di tiap RT. Sedangkan di tengah-tengah Pulogeulis ada kelenténg Pan Kho Bio.

Kelenténg Pan Kho Bio

Vihara Maha Brahma. Begitu nama resmi di bangunan yang didominasi warna kuning, merah, dan hijau itu. Padahal di bangunan yang didirikan sekitar abad ke-17 itu tidak hanya tempat beribadat agama Budha.

Menurut Pak Bram, Vihara mah khusus tempat beribadat umat Budha. Sedangkan kelenténg digunakan warga keturunan yang menganut kepercayaan aliran tertentu. Bio adalah nama bangunan tempat ibadah, sedangkan Pan Kho adalah tuan rumah dari Bio. Jadi, Pan Kho Bio bangunan tempat beribadat suku bangsa Tionghoa dan Pan Kho sebagai pusat pemujaannya. Oleh kaum Khong Hucu atau Taoisme Pan Kho itu diyakini sebagai cikal bakal alam semesta. 

Juru pelihara sehari-hari kelenténg Pan Kho Bio adalah seorang tua bernama Wiwi dan dibantu anak muda bernama Badri. Sedangkan jika ada pengunjung yang ingin tahu seluk-beluk kelenténg Pan Kho Bio dan hal-ihwal Pulogeulis maka orang yang tepat adalah Abraham Halim atau Pak Bram.

Lazim sebuah kelenténg tentu penuh dengan simbol-simbol dewa. Di gerbang depan Kelenténg Pan Kho Bio ada Dewa Langit serta ukiran kepala naga. Lampion-lampion kecil bergantungan di seluruh penjuru. 

Altar Pan Kho, yang merupakan tuan rumah dari Kelenténg Pan Kho Bio Pulo Geulis ini. Pan Kho lahir pada bulan 1 tanggal 6 Imlek, dan ritual untuk memperingati malam Sie Jit Kongco Pan Kho dilakukan setiap tahun di Kelenténg ini. 

Patung-patung dewa berada di atas dudukan mendatar, berjajar merapat ke tembok berlapis keramik kotak kecil berwarna merah marun. Di bawah dudukan terdapat beberapa altar lagi dan sebuah gentong air besar lengkap dengan gayung batok kelapanya. Meja berisi bundaran-bundaran kecil lampu minyak diletakkan merapat ke tembok sebelah kiri.

Sebelah kanan ruangan ada batu besar. Batu itu petilasan Embah Raden Mangun Jaya, salah satu karuhun masyarakat tradisional Sunda. Oleh beberapa pengunjung diyakini sebagai keturunan dari keluarga Raja Sunda Pajajaran.

Di sekitar batu tersaji sepasang selop hitam yang sudah lusuh, kendi kecil, sepasang tombak yang ditutup kain putih, payung emas bersusun tiga, hio, kotak amal, dan beberapa benda lainnya. Sebagain dari batu besar peninggalan zaman prasejarah itu diselimuti sorban hijau. 

Tepat di bagian belakang altar Pan Kho adalah ruangan memanjang berlantai keramik merah dan berdinding setengah keramin putih-plesteran hijau. Terdapat dua buah batu besar. Batu itu petilasan Embah Sakee dan Eyang Jayaningrat.

Di atas batu sebelahnya diselampirkan sebuah sarung dan peci. Di dinding tergantung kaligrafi berhuruf Arab. Ada pula seperangkat alat salat seperti sajadah, mukena, kain sarung.

Area di sayap kanan bangunan Kelenténg Pan Kho Bio Pulo Geulis. Di sebelah kiri adalah petilasan Eyang Prabu Surya Kancana, dilengkapi patung dan lukisan harimau, dan sebuah kura-kura batu berukuran besar. 

Sedangkan di sebelah kanan merupakan petilasan Embah Imam, dengan beberapa nisan batu. Ada pula sebuah kendi dan hio. Embah Imam pun dipercaya keturunan Kerajaan Pajajaran.

Adapun di sayap kiri Kelenténg Pan Kho Bio adalah dapur. Dari dapur inilah para pengunjung lintas daerah dan lintas keyakinan bisa menikmati suguhan semcama minuman dan makanan.

Sayang, bangunan asli Kelenténg ini sudah dipugar. Selain aktivitas penuh toleransi, benda yang tersisa adalah patung para dewa dan batu besar zaman prasejarah. Batu-batu ini pula yang menjadi salah satu alasan Kelenténg Pan Kho Bio dijadikan benda cagar budaya.

Imlék Milik Semua dan Tawasulan di dalam Kelenténg

Dibandingkan dengan Kelenténg Dhanagun di Jalan Suryakancana (depan Kebun Raya Bogor, Hok Tek Bio di Kecamatan Cibinong Kab. Bogor atau kelenténg-kelenténg yang ada di Nusantara, Kelenténg Pan Kho Bio di Pulogeulis ini berukuran kecil.

Meski kecil, Kelenténg Pan Kho Bio di Pulogeulis Bogor diyakini sebagai kelenténg tertua di Kota/Kab. Bogor. Didirikan sekitar abad ke-17. Pernyataan itu hingga kini tidak ada yang membantah alias menyetujui Kelenténg Pan Kho Bio di Pulogeulis Bogor merupakan awal mula kelenténg di Kota dan Kabupaten Bogor.   

Malah, jika ada perayaan Imlek yang dipusatkan di Kelenténg Dhanagun, Kelenténg Pan Kho Bio kerap berpartisipasi. Nah, dalam perayaan Imlek itu kemeriahan dan semangat toleransi warga Pulogeulis sungguh berasa. 

Sebab, kemeriahan Imlek bukan hanya dominasi umat yang memiliki garis keturunan suku bangsa Tionghoa. Dari Pan Kho Bio menuju Dhanagun yang membawa patung dewa-dewa, makanan, minuman, sesajian, hio, dan hal-ihwal perayaan Imlek adalah urang Sunda, warga keturunan Tionghoa, dan keseluruhan penduduk Pulogeulis dari beragam latar agama dan budaya.

Semangat toleransi pula yang melatari di bagian belakang Kelenténg Pan Kho Bio ada ruang khusus untuk umat muslim yang hendak beribadah. Malah, kepengurusan Pan Kho Bio menyediakan seperangkat alat salat seperti sajadah, mukena, sarung, dan kopiah.

Adapun batu-batu besar peninggalan prasejarah yang dipercaya sebagai petilasan dan makam leluhur urang Sunda menyebabkan Pan Kho Bio sering didatangi para peziarah dari pelosok Nusantara. Tentu saja peziarah itu dari lintas agama. Termasuk penganut aliran kepercayaan dan umat Islam.

Mereka berupaya mendekatkan diri dengan Sang Pencipta Buana. Mereka meminta sesuatu melalui perantara orang yang dianggap suci dan dekat dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Dalam tradisi Islam di Indonesia ritus seperti dinamai tawasul. Maka, bukan hal yang aneh di dalam Kelenténg Pan Kho Bio kerap terdengar lantunan orang sedang membaca ayat suci Alquran. 

Tidak hanya berziarah, mereka pun kerap membawa aneka makanan dan minuman. Entah diniatkan untuk sesajian atau bekal untuk dimakan kala menginap bermalam-malam di kelenténg. Oleh pengurus Pan Kho Bio dan para peziarah, sesajian seperti bekakak ayam dibandingkan busuk kerap dibagikan kepada para penduduk Pulogeulis.

Tentu saja hidangan itu tidak langsung dikonsumsi. Sebelum acara makan-makan mereka terbiasa memanjatkan puja-puji kepada Sanga Maha Pencipta. Di antara ritus itu yaitu tradisi yasinan saban malam Jumat yang diikuti umat peziarah muslim dan penduduk sekitar.

Hal demikian salah satu asal mula di dalam Kelenténg Pan Kho Bio ada tradisi yasinan, tawasulan, dan peringatan maulid Nabi atau muludan. Itulah Pulogeulis. Semangat toleransi bukan sebatas manis dalam wacana, akan tetapi nyata terasa dilakukan seluruh warga. Kelenténg Pan Kho Bio sebagai pusat pusaran semangat pembauran anak semua bangsa.

Rumah Hijau dan Sumber Kesehatan Tertua di Bogor

Sama seperti Kampung Pulo di Jatinegara, Jakarta Timur penduduk Pulogeulis juga mengandalkan Bendungan Katulampa sebagai tanda peringatan jika Ciliwung mengeluarkan air bah. Meski sudah terbiasa, jika hujan kecil saja Pulogeulis berada dalam ancaman longsor dan banjir. Banjir besar pernah terjadi pada 1967, 1972, dan 1980. Sedangkan longsor cukup besar terjadi 2002 dan 2007. 

Selain memang berada di tengah-tengah sungai Ciliwung yang sangat mudah terendam, kondisi terkini Pulogeulis pun amat memprihatinkan. Semua tepi sungai sudah dibeton untuk perumahan, terutama untuk jamban dan dapur. Sungguh jarang penduduk kampung ini menanam pohon atau bunga dalam pot. Nyaris kering tiada dedaunan. Kondisi itu mengingatkan saya di permukiman sesak seperti di Kosambi dan Cicadas, Bandung.

Dari ± 3 hektare daratan dan ratusan rumah di Pulogeulis, hanya rumah milik Abraham Halim yang memiliki ruang terbuka hijau. Rumah sederhana yang hanya beberapa meter dari Kelenteng Pan Kho Bio itu amat mencolok karena areal rumah dikitari pagar berupa pepohonan. Halaman depan pun dijadikan apoték hidup dan taman beraneka tanaman.

Rumah tersebut adalah warisan orang tua Bram, Liem Kim Bow. Bagi generasi pra dan pascakemerdekaan Liem Kim Bow bukanlah nama yang asing. Beliau merupakan salah satu peletak dasar dunia kesehatan di Kota Bogor yang mengembangkan ilmu pengobatan khas ranah Cina dipadupadankan dengan kearifan lokal Nusantara.

Pak Liem meracik obat-obatan yang berasal dari keanekaragaman hayati. Akar-akaran, dedaunan, biji-bijian, kulit serta kekayuan yang tumbuh subur di halaman rumahnya diramu menjadi obat yang bermutu berupa serbuk jamu. 

Mengetahui Liem memiliki keahlian meramu obat, maka rumah asri yang berada di Pulogeulis itu kerap didatangi warga Bogor. Dalam menangani pasien Liem tidak menetapkan tarif. Jika pasien tersebut kebetulan tidak memiliki uang maka Liem secara sukarela menggratiskan pengobatan.

Tidak hanya memproduksi obat di rumahnya, pada 1920 Liem mebuka toko obat di Handelstraat No. 73 yang sekarang menjadi Jalan Roda No. 1. Produksi dan toko obat itu dipercaya termasuk praktik pengobatan tertua di Kota Bogor. 

Pada masa itu, toko tersebut diburu pelbagai pasien dari penjuru Bogor hingga Sukabumi. Lebih dari 30 jenis jamu dihasilkan Liem untuk mengobati sejumlah penyakit yang saat itu melanda. Jamu produksi Liem bisa menyembuhkan sejumlah penyakit seperti ambeien, asma, pegal linu, atau sekadar menjaga stamina agar tetap prima. 

Selain mahir meracik obat. Liem juga memproduksi peralatan pengobatan yang terbuat dari batu dan besi. Sebagai petualang sejati yang kaya pengalaman, Liem membuat selebaran yang berisi informasi penyakit, obat yang dibutuhkan, aturan makan, pantangan, dan alamat pabrik jamu.

Pada 1970, seiring Liem Kim Bow berpulang, maka produksi jamu bermerek Soember Sehat itu turut hilang dari peredaran. Meski demikian, peninggalan Liem berupa alat produksi jamu sebagian masih ada dan tersimpan.

Malah, sejumlah tanaman obat peninggalan dari petualang Tionghoa yang mengembangkan pengobatan tradisional di Bogor itu masih terus tumbuh di halaman rumah Abraham Halim. 

Sayang, rumah dan areal Pulogeulis itu dalam ancaman. Baik ancaman dari alam berupa terjangan banjir Ciliwung maupun dari sebagian manusia yang mengedepankan keuntungan materialis doang.

Rumah ini rumah warisan. Saya hanya menempati dan merawat peninggalan ayah saya. Keluarga besar yang belum punya rumah boleh tinggal di sini. Sekarang rumah ini ditempati tiga keluarga, Kata Bram.

Akan tetapi godaan dan tekanan selalu datang. Rumah Pak Bram dan rumah-rumah di Pulogeulis oleh para pengembang hendak dijadikan rumah susun. Beruntung, Pak Bram dan penduduk Pulogeulis hingga kini tidak tergoda oleh lembaran rupiah yang dijanjikan.

Rumah Luitenant Cina dan Hotel Pasar Baroe 

Kelaziman orang Cina bertualang ke pelbagai wilayah memanfaatkan jalur air. Mereka berhenti bahkan menetap dan berkembang biak dekat pasar dan aliran sungai. Tidak pelak sungai Ciliwung yang membelah Bogor pun menjadi tujuan perjalanan. Dahulu, sungai Ciliwung bisa dilalui kapal besar.

Para petualang yang kebetulan menjadi pedagang menyimpan barang-barang dagangan di sebuah tempat yang kini dinamai Kampung Gudang. Kampung Gudang, Pasar Bogor, dan Pulogeulis merupakan satu kesatuan dalam kawasan Pecinan. Semua itu berpusat di Pasar Bogor, sekarang Plaza Bogor.

Bila Pulogeulis di tengah-tengah sungai Ciliwung, maka Kampung Gudang dan Kelenténgweg (Jalan Kelenténg) berada di atas. Keramaian Pasar Bogor yang sudah ada sejak pemerintahan kolonial Hindia Belanda menyebabkan Bogor menjadi salah satu kota jasa dan peristirahatan untuk para pedagang besar dan para pejabat.

Salah satu jejak peninggalan Tionghoa yang memadukan arsitektur Eropa (Belanda) adalah rumah yang berada di ujung Jalan Kelenténg. Oleh penduduk Bogor rumah yang didominasi cat putih bersih itu dinamai Rumah Luitenant. 

Berdasarkan studi pustaka dan beberapa sumber berita di lapangan, rumah Luitenant  ini adalah milik Luitenant (Letnan) Lie Beng Hok yang menjabat dari 1912-1913 pada era Kapiten Tan Tjoen Tjiang. 

Letnan dalam komunitas Tionghoa bukan merujuk pangkat dan jabatan kemiliteran atau kepolisian yang diraih Lie Beng Hok. Letnan dalam komunitas Tionghoa berada dalam kendali Kapiten. Tugas letnan dan kapiten hampir sama, yaitu memimpin dan membina suku bangsa Tionghoa.

Jabatan itu didapat dari Pemerintah Hindia Belanda. Karena saat itu semua etnis yang tinggal di Hindia Belanda dilakukan pengelompokan atau pengastaan. Salah satu dari tujuan itu adalah agar Pemerintah Hindia Belanda mudah mengawasi dan mengendalikan gerak para penduduk di tanah jajahannya.

Kondisi Rumah Leuitenant masih terlihat kokoh dan cukup terawat. Tidak lebih dari 10 meter dari Rumah Luitenant ada jejak kolonial yang dahulu bernama Hotel Pasar Baroe. Kondisi rumah yang didominasi plesteran dan kayu itu amat memprihatinkan.

Di Bogor, hotel peninggalan masa Hindia Belanda yang masih terawat dan digunakan hingga sekarang hanya menyisakan Hotel Salak. Satu hotel lainnya sudah diruntuhkan dan berubah menjadi Bogor Trade Mall (BTM).

Hotel Pasar Baroe sudah ada sejak dibuka jalur kereta api Batavia-Buitenzorg 1873 hingga peralihan abad 20. Hotel ini menjadi tempat idaman bagi para pendatang yang hendak menginap di Bogor. Selain bangunan yang indah, lokasi Hotel Pasar Baroe juga amat strategis dan berada di ketinggian.

Jika kita berada di hotel tersebut maka akan nyata terlihat geografis Bogor. Dari hotel ini kita bisa memandang dengan jelas keindahan dan kekokohan Gunung Pancar, Gunung Gedé-Pangrango, dan Gunung Salak. Apalagi memandangi Pulogeulis dan aliran sungai Ciliwung yang hanya beberapa meter saja.

Konon, beberapa tokoh pergerakan nasional pernah singgah dan menginap di Hotel Pasar Baroe. Pendiri Sjarikat Dagang Islam sekaligus pendiri Soenda Berita (1903-1905), Medan Prijajji (1907) dan Putri Hindia (1908)  bernama Tirto Adhi Surjo pernah menjalankan aktivitas dan menginap di Hotel Pasar Baroe.

Kini, hotel penuh bersejarah itu terkunci dan tidak terawat. Beberapa plesteran dinding sudah terkelupas. Kaca-kaca jendela pecah. Halaman samping dan belakang penuh rumput dan ilalang. Teras depan ditempati beberapa kuli bangunan, pedagang pasar, dan salah satu organisasi massa tertentu.

Jika memaksakan berkunjung ke hotel di belakang Plaza Bogor maka disambut dengan pesing dan bau busuk sampah. Siapakah hendak peduli?


Djasepudin

Koordinator Jalinan Sahabat Publik (JSP) Bogor

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar