Yamaha NMax

Teropong Islam dalam Layanan Air

  Minggu, 16 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Ilustrasi air.(Pixabay)

Bupati Bandung memuji PDAM Tirtaraharja yang telah mampu meraih laba serta dapat memberikan pelayanan air perpipaan secara maksimal kepada masyarakat Kabupaten Bandung dan sekitarnya. 

Meski demikian semestinya layanan air bersih ini  harus terus ditingkatkan. Faktanya belum semua masyarakat di Kabupaten Bandung mendapat layanan air bersih baik melalui perpipaan atau bukan.

Belum meratanya pelayanan air bersih ini disebabkan BUMD Tirtaraharja  masih berorientasi pada profit. Wajar jika yang mendapat layanan air perpipaan hanya yang sanggup untuk membayar. Sistem ekonomi kapitalis memang menjadikan privatisasi sebagai cara meningkatkan kinerja dan nilai perusahaan. Yang dimaksud dengan peningkatan kinerja tentu bukan kinerja pelayanan, tetapi bisnis/untung. 

Karena itulah tujuan utama BUMN/BUMD perusahaan persero, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 2, pasal 1 UU no 19 Tahun 2003 tentang BUMN, “Perusahaan Perseroan, yang selanjutnya disebut Persero, adalah BUMN yang tujuan utamanya mengejar keuntungan”. Pada konteks ini  penguasa bertindak sebagai pengusaha, bukan pelayan rakyat.

Karenanya perlu ada opsi lain untuk bisa melakukan pelayanan secara optimal. Opsi tersebut adalah panduan pelayanan pengelolaan air yang datang dari Dzat yang menciptakan air yaitu Allah SWT. Dengan kata lain mengambil panduan Islam dalam mengelola air.

Air merupakan kebutuhan vital bagi masyarakat. Ketiadaannya akan menyebabkan kesengsaraan di tengah masyarakat. Oleh karena itu Islam meletakkan air sebagai harta milik umum, sebagaimana ditegaskan Rasulullah SAW yang artinya “ Kaum Muslimin berserikat dalam tiga hal yaitu padang rumput/hutan, air dan api (HR. Abu Dawud dan Ahmad).

Status air (mata air, danau, sungai dan laut) sebagai harta miliki umum, menjadikan tidak dibenarkan dimiliki oleh individu. Akan tetapi tiap individu memiliki hak yang sama dalam pemanfaatan. Tidak dibenarkan harta milik umum ini  dikuasai negara untuk diperjualbelikan apalagi diprivatisasi.

Pemerintah wajib hadir secara benar. Yaitu sebagai pihak yang diamanahi Allah SWT, yakni bertanggungjawab langsung dalam pengelolaan harta milik umum termasuk pengelolaan air di dalamnya dengan tidak memprivatisasi atau menyerahkan pengelolaannya pada swasta.

Negara berkewajiban mendirikan industri air bersih perpipaan sedemikian rupa sehingga terpenuhi kebutuhan air bersih setiap individu masyarakat kapanpun dan dimanapun berada. Status kepemilikan industri ini adalah milik umum atau milik negara. Dikelola oleh pemerintah untuk kemaslahatan rakyat tanpa harus dipungut biaya. 

Pemerintah wajib memanfaat kemajuan sain dan teknologi, memberdayakan para pakar sehingga terjamin akses setiap orang terhadap air bersih gratis atau murah secara memadahi, kapanpun dan dimanapun mereka berada. Pendanaannya dibiayai dari dana milik umum seperti  dari hasil tambang minyak, tambang emas dll.

Fakta sejarah peradaban Islam menunjukkan bagaimana sistem kehidupan Islam sukses menjaga ketercukupan air berikut segala faktor lingkungan yang dibutuhkan. Hal ini tampak dari berlimpahnya air di kota-kota besar seluruh pemukiman penduduk hingga desa.

Kota-kota Islam abad pertengahan sudah memilki sistem manajemen dan pasokan air ke semua tujuan. Di Samara, air dibawa oleh hewan dan saluran pengumpan, yang mengalir sepanjang tahun. Jalan raya yang luas dan panjang hingga luar kota, dengan saluran pengumpan yang membawa air minum mengapit kedua sisi jalan.

Seluruh dunia Muslim ditandai dengan air yang mengalir di sungai, kana, atau qanat (saluran bawah tanah) ke kota. Air disimpan dalam tengki, untuk disalurkan melalui pipa-pipa di bawah tanah ke berbagai tempat, seperti tempat tinggal, bangunan umum dan kebun.

Kota Suriah dan Damaskus paling disukai karena memiliki sistem air yang luas dan lenkap. Sungai Barada, Qanawat, dan Banyas memasok kota melalui dua set kanal bawah tanah. Satu untuk air tawar yang membawa air ke masjid, sekolah, pemandian, air mancur umum, dan rumah pribadi. Dan saluran lainnya untuk drainase.

Muslim di Barat, di Marrakech, air dialirkan ke kota untuk minum dan irigasi melalui saluran bawah tanah, terutama dari pegunungan yang berjarak dua puluh mil ke selatan. Di Fes, ahli geografi Ibn Hawqal, pada abad ke-10, mencatat pasar dicuci setiap hari. Tiga abad kemudian, sebagian besar rumah disilangkan oleh ‘sungai’, dan di setiap rumah, terlepas dari ukurannya ada air mancur yang mengalir.

Tidak hanya di perkotaan, pemukiman penduduk dan pedesaan, lahan-lahan pertanianpun terairi dengan memadai. Semua ini mengindikasikan bagaimana di bawah naungan peradaban Islam daur air dan segala aspek yang menjaga keberlangsungannya senantiasa terjaga.

Mengelola air dengan aturan syariah Islam bukan saja membawa ketercukupan air untuk seluruh warga tapi juga menghantarkan keberkahan dan keselamatan para pemimimpin saat diminta pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Tidakkah kita rindu sistem Islam?

Irianti Aminatun 

Member Akademi Menulis Kreatif (AMK)

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar