Yamaha Aerox

Hari Lebaran, Memaknai Usia hingga Kartu Undangan

  Minggu, 16 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com   Netizen
Grafis lebaran.

Momen lebaran telah terlewati baru-baru ini. Momen lebaran adalah momen yang dinanti-nantikan sebagian besar orang. Setelah melewati puasa Ramadhan selama satu bulan dan akhirnya hari kemenangan itu pun tiba. Hari yang dijadikan sebagai waktu berkumpul keluarga, silahturahmi, bahkan berwisata. Tak hanya kalangan orang dewasa saja yang menantikan bahkan anak-anak menantikan hari tersebut.

Waktu berputar sangat cepat hingga tak terasa dulu yang pernah mengalami masa anak-anak kini mau tidak mau harus memasuki usia dewasa. Setelah usia tidak merasakan sebagai ‘anak-anak’ lagi, pastinya ada yang berbeda ketika lebaran tiba.

Masa anak-anak adalah masa di mana kala itu para orang tua, baik itu kakek, nenek, pakdhe, budhe, paman, bibi, maupun siapapun itu tak segan-segannya memberikan 'honor' lebaran kepada mereka yang masih berusia anak-anak. Oleh karena itu, tak jarang dari mereka ketika lebaran dapat memegang uang saku lebih sehingga dapat dibelikan mainan, makanan, bahkan ditabung. Sampai-sampai beberapa tahun kemudian celengan atau dompet  mereka terlihat penuh.

Berbeda dengan ketika memasuki usia dewasa. Terkadang uang itu pun tak mengalir deras seperti dulu. Atau mungkin tidak ada sama sekali. Akan tetapi, lebih baiknya lagi apabila yang memasuki masa dewasa dapat bergantian memberikankan ‘honor’ lebaran kepada mereka yang masih berusia anak-anak. Mungkin ini adalah saatnya untuk dapat melakukan kebaikan pasca Ramadhan. Jangan sampai semangat berbuat kebaikan itu luntur.

Tak hanya masalah honor lebaran, momen lebaran juga dapat menyadarkan tentang usia seseorang. Misalnya, setelah sekitar satu tahun lamanya tidak berjumpa, ketika berjumpa dengan sepupu tiba-tiba dirinya sudah beranjak remaja. Dulu yang masih terlihat imut-imut, kini mereka terlihat gagah bahkan ada juga yang tumbuh sebagai gadis remaja yang cantik. Begitulah suasana lebaran jika sesama sepupu jarang bertemu.

Selain itu, sepupu yang dulu berstatus jomblo, kini mereka telah memiliki pasangan hidup. Bahkan dikaruniai buah hati yang lucu-lucu. Oleh karena itu, suasana rumah menjadi ramai akibat tingkah laku anak-anak yang bukan main tingkahnya. Mungkin sama seperti kita di zaman dahulu.

Lain halnya ketika mengetahui undangan pernikahan yang tersebar di grup WhatsApp. Kurang lebihnya ada dua undangan yang telah tersebar. Dan keduanya berasal dari kakak-kakak tingkat yang berasal dari kampus yang sama dengan diri ini. Satu di antara mereka pernah satu kos dengan diri ini. Tidak menyangka awalnya, mungkin pernikahan tersebut terkesan cepat. Tapi mungkin tidak. Karena usia mereka pun telah cukup matang. 

Teringat dulu yang pernah satu kos bersama. Menjalani kehidupan bersama di tanah perantauan. Teringat ketika mengobrol bersama di dalam kamar, makan-makan bersama, bahkan dulu yang pernah heboh-hebohnya menjalani seminar maupun sidang skripsi hingga berakhir di acara wisuda. Ternyata tanpa disadari masa-masa itu telah berlalu sekitar dua tahun yang lalu. Dan kala itu diri ini masih menjalani perkuliahan di semester awal.

Pernikahan merupakan suatu momen yang dinanti-nantikan sebagian orang. Apalagi jika menikahnya dengan orang yang berasal dari satu kampus yang sama. Pastinya mereka telah merasakan perjuangan-perjuangan yang hampir sama. Bagaimana berjuang di tanah perantauan yang sama dan bagaimana berjuang untuk menyelesaikan studi. Melihat realita tersebut jadi teringat ucapan seorang pengajar yang pernah menginginkan anak didiknya menikah dengan orang yang berasal dari kampus yang sama. 

Selain itu, momen lebaran juga dapat dijadikan waktu berkumpul dengan teman-teman masa sekolah. Hal tersebut dilakukan untuk mengenang masa lalu bahkan mengenang masa-masa kenakalan yang pernah dilakukan. Duh, entahlah berapa banyak dosa yang kita lakukan kala itu.

Begitulah kurang lebihnya suasana lebaran. Momen kebahagiaan yang dapat dijadikan renungan bahwa usia telah tidak menjadi anak-anak lagi dan tiba saatnya untuk berbenah diri. Menunaikan tanggung jawab yang harus dilakukan, tepatnya sebagai Hamba Allah. 

Dyah Makutaning Dewi 
Mahasiswi Politeknik Statistika STIS

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar