Yamaha NMax

Mengenal Sosok Atlet Silat Perempuan di Masa Lampau

  Sabtu, 15 Juni 2019   Andres Fatubun
Yanti sedang memegang medali SEA Games-nya di kediamannya Komplek Griya Permata Asri, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat ( Foto: Jaka Jamalludin Yusuf).

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sekilas jika dilihat dari perawakannya, wanita berkerudung  yang murah senyum dan ramah ini tampak anggun dan luguh penuh kelembutan. Namun siapa sangka dibalik kelembutan dan anggun murah senyumnya ia adalah juara dunia pencak silat.

Segudang kesibukan latihan terus menerus, membuahkan berbagai tumpukan prestasi yang diperolehnya. Sampai saat ini dia belum berhenti dalam dunia olahraga Silat, hanya saja sekarang beralih profesi, dari atlet pesilat kelas dunia menjadi pelatih.

Dia adalah Istiar Vidia Iriyanti nama lengkap dari wanita cantik berkerudung yang murah senyum dan tampak anggun itu. Dilahirkan di Kota Bandung pada tanggal 15 Desember 1973. Wanita berbadan mungil itu sangat akrab di sapa Yanti. Merupakan sosok atlet yang pernah mengharumkan nama bangsa Indonesia di kejuaraan paling bergengsi se-Aisa Tenggara yakni Sea Games pada tahun 1993, ia menjadi satu-satunya atlet silat yang menjuarai Sea Gamespada saat itu, dan merupakan awal mula puncak kejayaan wanita berusia 45 tahun itu.

Disaat penulis mewawancarai Yanti pada Rabu (12/6/2019) di kediamannya Komplek Griya Permata Asri, Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Dengan ruang tamu yang dipenuhi berbagai bingkai foto keluarga, foto saat ia masih menjadi atlet, dan berbagai piagam pengahargaan yang pernah ia raih semasa menjadi atlet Pencak Silat. Ruang tamu yang berbentuk persegi panjang dan berukuran kurang lebih 4-6 meter dengan penghujung sudutnya tangga dan dapur, menjadi saksi bisu berlangsungnya wawancara penulis dengan wanita cantik berkerudung ini, yang kini menjadi Ibu dari 3anak laki-lakinya. Ia sangat berantusias mengupas tentang pengalam hidupnya selama menjadi atlet Pencak Silat sampai sekarang ia bekerja sebagai Fungsional Kepelatihan di Kemenpora RI (Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia).

Sejak duduk di bangku kelas 1 Sekolah Dasar (SD), Yanti mulai iseng ingin mengikuti olahraga Silat.

“Awalnya saya iseng ikut silat karena kakak saya ikutan, jadi saya juga merasa ingin ikutan dan mencobanya,” ujar yanti sambil tertawa manis di kursi ruang tamu kediamannya. Baginya, dengan mengikuti Pencak Silat dapat menjadi sebuah pembekalan untuk jaga diri sendiri di luar rumah karena pada saat itu rawan dengan aksi kriminalitas.

Setelah ia iseng dengan mencoba mengikuti olahraga Pencak Silat pada kelas 1 SD, kemudian pada kelas 6 SD ia mulai mengikuti kejuaran-kejuaran silat di tingkat Nasional. Seperti kejuaraan Remaja IV yang berlangsung dari tanggal 17-24 September 1986 di Bali, ia berhasil meraih juara satu dan meraih medali emas sekaligus membawa nama Jawa Barat harum pada saat itu.

Selain itu, ia juga meraih juara satu Silat antar perguruan di Bandung pada 1985, juara satu tingkat Propinsi Jawa Barat untuk seleksi Kejurnas (Kejuaraan Nasional) pada tahun 1986, pemain terbaik tingkat Jawa Barat pada tahun 1990. Ia mengaku, mendapat pembelajaran ilmu bela diri Silat sebelum mengikuti kejuaran tersebut di perguruan Silat Tajimalela.

Mengenai suka-duka saat masih menjadi atlet, Yanti menjawab dengan sedikit tertawa manis “Dukanya harus nurunin berat badan, nahan makan, dan tambahan latihan seperti disaat orang lain tidur, saya latihan.” Kegiatan tersebut ia lakukan rutin semasa menjelang kejuaran-kejuaraan yang akan dihadapinya saat itu.

Nyatanya kerja keras diatas dan suka-duka yang dilalui Yanti, membuahkan hasil yang begitu maksimal dan ia banggakan.

Pada tahun 1993 ia dipanggil dan diberi kepercayaan untuk membawa nama cabang olahraga Pencak Silat Indonesia di kejuaraan paling berkelas dan bergengsi se-Asia Tenggara yakni Sea Games yang pada saat itu diselenggarakan pada tanggal 12-20 Juni di Singapura.

Kepercayaan tersebut tidak ia sia-siakan. Ia turut membawa Indonesia di peringkat 1 pada Sea Games saat itu dengan perolehan total medali emas sebanyak 88 buah.

Selang satu tahun setelah ia mengikuti kejuaran paling bergengsi se-Asia Tenggara tersebut. Pada tahun 1994, Yanti diberi kepercayaan dua sekaligus untuk mewakili nama Indonesia pada tahun ini, yakni kejuaraan World Championship di Thailand dengan perolehan juara 2 dan mendali perak, serta kejuaraanInternational Competition di Vietnam dengan perolehan juara 3 dan mendali perunggu. Meskipun hasil yang di dapat tidak begitu sempurna dan maksimal seperti kejuaaraan sebelumnya, akan tetapi Yanti telah berusaha membawa nama Indonesia untuk menjadi juara umum pada tahun 1994 ini.

Beralihnya Profesi menjadi Fungsional Kepelatihan di Kemenpora

Awal mula Vidia duduk sebagai Fungsional Kepelatihan di Kemenpora sekitar tahun 2011-2012 bermula mengikuti seleksi mantan atlet. Karena pada saat itu Kemenpora sedang membutuhkan bidang Fungsional Kepelatihan untuk unit bela diri Pencak Silat. Kepada penulis ia menjelaskan tentang motivasi ingin bekerja di Kemenpora

“Motivasi saya ingin membuat olahraga pencak silat lebih maju dan ingin mengembangkan silat dimanapun bahkan harus mendunia,” ujarnya sambil merapihkan kerudungnya.

Prestasi demi prestasi ditunjukan dan dibuktikan kepada negaranya Indonesia. Ini terbukti pada tahun 2015 setelah ia duduk dikursi kepelatihan, ia berhasil membawa timnya dan nama Indonesia harum pada kejuaraan ASG (Asean School Games) di Brunei Darussalam. Ia juga menuturkan apa saja yang di dapat pada kejuaraan ASG tersebut

“Saya bersama tim memperoleh 6 emas, 4 perak dan 3 Perunggu,” jelasnya sambil menunjuk ke belakang, ke arah berbagai foto dan piagam dan prestasi yang di dapatnya.

Menurut Danis, salah satu atlet silat yang pernah dilatih oleh Yanti, mengemukakan tentang sosok keseharian dari sang pelatih saat sedang melatihnya.

“Teteh merupakan sosok pelatih yang baik, pinter, selalu pengertian terkait kondisi atlitnya, dan yang paling enak adalah santai,” saat diwawancarai melalui jejaring media sosial Line pada sabtu (15/6).

Tentu dalam setiap pekerjaan yang dikerjakan pasti ada perbedaan yang dialami dalam segi materil misalnya. Dalam segi materil ia menjalaskan perbedaannya saat menjadi atlet dan sekarang menjadi fungsional kepelatihan.

“Jika untuk saat ini lebih enak menjadi atlet karena lebih banyak bonusnya, ketimbang zaman saya hanya piagam dan sertifikat saja,” ujarnya sambil tertawa.  

Di akhir perbincangan, ia memaparkan harapannya untuk tim Indonesia pada Sea Games yang akan datang yakni

“Saya harap tim Indonesia menjadi juara umum dan sukses selalu,” ujarnya sambil mengepalkan tangan dengan ekspresi wajah menyemangati. (Jaka Jamalludin Yusuf)

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar