Yamaha Lexi

Belajar Media Komunikasi Masa Lalu di Museum Pos Indonesia

  Jumat, 14 Juni 2019   Fira Nursyabani
Pengunjung sedang melihat-lihat koleksi sejarah yang ada di Museum Pos Indonesia Jalan Cilaki No.7 Kota Bandung, Kamis (13/5/2019). (Dok. Sheila Salsabila)

BANDUNG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Di zaman sekarang, komunikasi sudah menjadi hal yang mudah. Dengan menggunakan telepon genggam, kuta sudah bisa berkomunikasi jarak jauh.

Berbeda dengan zaman dahulu, orang-orang yang ingin berkomunikasi jarak jauh harus menulis surat dan mengirimnya melalui Pos. Untuk bisa mengenal lebih dekat metode komunikasi via pos di masa lalu, kita bisa mengunjungi Museum Pos Indonesia.

AYO BACA : Serunya Berburu Foto di Museum Geologi

Museum Pos Indonesia ini terletak di jalan Cilaki No.7 Kota Bandung. Museum ini sudah ada sejak lama, bahkan sejak zaman Hindia-Belanda pada 1931. Sampai 1980, museum ini hanya memiliki koleksi perangko saja, mulai dari perangko Hindia-Belanda sampai perangko pertama yang diakui dunia.

Sebelum bernama Museum Pos Indonesia, gedung ini bernama Pos Telegrap dan Telepon (PTT) yang didesain oleh dua orang arsitek bernama J.Berger dan Leutdsgebowdienst. Pada 1983, Perum Pos dan Giro resmi merubah namanya menjadi Museum Pos dan Giro.

AYO BACA : Keju dari Bakteri Ketiak Akan Dipamerkan di London

Lalu pada 1955, nama gedung ini berubah kembali menjadi Museum Pos Indonesia sampai sekarang.

Sejak itu, museum ini memiliki ribuan koleksi perangko, tidak hanya perangko dari dalam negeri, tetapi juga perangko dari luar negeri, seperti dari Eropa, Korea, dan Vietnam. Selain perangko, museum ini juga memiliki surat emas dari raja-raja Nusantara kepada komandan dan jendral Belanda.

Kini Museum Pos Indonesia memiliki 127 koleksi peralatan komunikasi, seperti timbangan paket yang digunakan pada 1938, gerobak angkut pos yang digunakan pada 1870 di kantor pos Maluku, sepeda ontel, sepeda motor, replika kuda, bis surat, mesin stensil, dan mesin hitung.

Museum ini juga memiliki koleksi sejarah seperti diorama, yang merupakan rekaman sejarah yang diambil dari Desa Sukawening No. 127, Kecamatan Ciwidey, Kabupaten Bandung. Pembuat melihat dari foto aslinya lalu divisualisasikan melalui diorama Pos Keliling Desa (PKD). (Sheila Salsabila)

AYO BACA : Menelusuri Koleksi ‘Tanah Pasundan’ di Museum Sri Baduga

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar