Yamaha NMax

Menara Loji, Saksi Bisu Sejarah yang Tak Lagi Berdentang

  Kamis, 13 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Kondiri Menara Loji saat ini yang miring beberapa derajat. Di sekitarnya diberikan pembatas rantai agar pengunjung atau kendaraan tidak terlalu dekat. (Foto: Lintang Amiluhur)

 “Kamu tahu nggak di Jatinangor ada yang namanya Menara Loji?”

“Pernah denger, tapi enggak tahu di mana. Emang di mana sih?” ujar Brenda Christie, Mahasiswa Universitas Padjajaran yang menjawab pertanyaan kami dengan pertanyaan.

Willem Abraham Baud mungkin tak pernah menyangka kawasan perkebunan yang dulu ia kuasai kini berubah menjadi institusi pendidikan. Namun, hal yang tersisa saat ini hanyalah menara yang kehilangan loncengnya.

“Teng… teng… teng!” Lonceng itu biasa berdentang sebagai tanda aktivitas para pekerja. Bunyi itu akrab terdengar pukul 05.00, saat mereka memulai pekerjaan, pukul 10.00 saat mengumpulkan hasil perkebunan, dan pukul 14.00 saat mereka dibolehkan pulang.

Menara itu dikenal dengan nama Menara Loji, bagian dari saksi bisu sejarah Indonesia. Berdiri kokoh dengan cat putih yang sudah pudar di kawasan Institut Teknologi Bandung (ITB) Jatinangor dan bersebelahan dengan Gedung Pusat Air dan Sanitasi Darurat Palang Merah Indonesia (PMI) Jatinangor. Seiring berjalannya waktu, Pemerintah Provinsi Jawa Barat bekerja sama dengan ITB membangun sebuah taman yang bernama Taman Loji di area tersebut.

Dikutip dari Tribun Jabar, Direktur Perencanaan dan Pengembangan ITB Jatinangor Dr. Ir. Woerjantari Kartidjo, MT mengungkapkan, Taman Loji yang diresmikan 24 Desember 2014 ini ditujukan agar masyarakat Jatinangor mengenang peninggalan sejarah sekaligus memiliki ruang terbuka publik. “Kami melihat di Jatinangor belum ada ruang terbuka publik. Karena itu dibangun ruang terbuka publik untuk masyarakat,” ujarnya.

Hal ini dimanfaatkan masyarakat untuk beristirahat sejenak, sesekali menyelenggarakan pentas seni, dan berkunjung ke Menara Loji saat Pasar Unpad (Paun) diadakan. Di antara masyarakat Jatinangor yang tidak mengetahui keberadaannya, ternyata masih ada beberapa orang yang memahami fakta bahwa Menara Loji merupakan salah satu situs bersejarah, salah satunya Nadita Pradiptara, seorang mahasiswa Universitas Pasundan.

“Kalau tidak salah peninggalan zaman Belanda, kan? Ada jam yang dipakai, sejenis alarm untuk para pekerja saat zaman itu,” ucap Nadita.

AYO BACA : Bandung Baheula: Pesta di Lapang Tegallega, Dulunya Tempat Pacuan Kuda

Ir. Soekarno dahulu berkata, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak pernah melupakan sejarah bangsanya sendiri. Itulah mengapa situs bersejarah merupakan bagian penting yang ada dan perlu untuk senantiasa dikelola dengan maksimal oleh semua pihak. Sayangnya, Menara Loji terlihat terbengkalai dengan ceceran sampah di beberapa titik. Pembersihan pun hanya dilakukan dua sampai tiga minggu sekali.

“Tapi ini sampai sekarang sih belum ada perawatan-perawatan lagi. Belum ada planning seperti apa-apa lagi. Kalau dari pemerintah sih, pernah ke sini untuk lihat-lihat, ada (rencana) untuk direnovasi kembali, cuma waktunya mungkin belum ada,” ujar Komandan Regu PMI Yono Mulyono yang ditemui saat bertugas.

Yono menyampaikan, Menara Loji sebelumnya telah direnovasi sebanyak dua kali oleh PMI sekira tahun 2008. Renovasi kedua dilakukan bersamaan dengan pembangunan Gelanggang Olah Raga ITB sekira tiga tahun lalu.

Minimnya informasi dan tidak adanya pengelola yang jelas menyebabkan Yono kerap menjadi “tour guide” bagi para pengunjung yang penasaran akan peninggalan bersejarah ini. Sulitnya mendapatkan rentetan sejarah secara mendalam tentang bangunan ini membuat Yono pun tak bisa banyak memberikan penjelasan.

Walau pengunjung tak selalu datang setiap hari, Yono mengaku cukup banyak pendatang yang antusias mengenali situs bersejarah ini. Pengunjung yang datang pun didominasi oleh kalangan pelajar.  “Banyak. Cuma biasanya yang jauh-jauh sih. Kalau yang dekat kan udah terbiasa, karena lalu lalang juga. Biasanya mahasiswa atau pelajar. Pernah juga waktu itu saya dapet dari pelajar SMA. Ya, saya menjelaskan, sepengetahuan saya,” ujarnya.

Menara Loji dalam Sejarah

Willem Abraham Baud, yang biasa dipanggil Baron Baud, adalah seorang Belanda di balik perusahaan perkebunan yang masyhur pada 1844 di Jatinangor. Perkebunan ini ditanami teh, kemudian merambat ke perkebunan karet.

Awalnya, Baron Baud datang ke Indonesia untuk menjadi pejabat pemerintah, tetapi ia menyadari menjadi pemilik perkebunan lebih mudah mendapatkan gelimang harta dibanding tujuan awal kedatangannya.

AYO BACA : Bandung Baheula: Kampung Kreatif Lokomotif Cicukang dan Kisah Lamanya

Perkebunan miliknya terbentang seluas 962 hektare. Menilik luasnya daerah perkebunan tersebut, Baron Baud pun membangun Menara Loji. Hal ini bertujuan untuk memudahkan para pekerja karena sulit bagi mereka memperhatikan waktu saat beraktivitas.

Pada 1990, wilayah perkebunan miliknya disulap menjadi kawasan pendidikan dengan dibangunnya Institut Pendidikan Dalam Negeri (IPDN), Institut Koperasi Indonesia (IKOPIN), Universitas Padjadjaran (Unpad), dan Universitas Winaya Mukti (Unwim) oleh Pemprov Jawa Barat.

Baron Baud dimakamkan tak jauh dari Menara Loji bersama dengan istrinya. Makamnya kini masih bisa dikunjungi di dalam kompleks ITB Jatinangor, meski keadaannya lebih tak terawat daripada menara itu sendiri.

Bagian bawah Menara Loji berbentuk segi empat, bagian atas menara berbentuk segi delapan dengan atap yang mengerucut ke atas. Terdapat sebuah rongga di bagian atas. Di bagian itu dipercaya tempat lonceng berada.

Menara Loji dilengkapi dengan trisula di atas atap. Diyakini, dahulu terdapat pintu di salah satu sisi bagian bawah menara, namun kini sudah ditutup dengan tembok untuk menghindari hal-hal negatif yang kemungkinan bisa terjadi.

Kondisi menara dikabarkan sedikit miring. Karenanya, ITB sebagai pengelola saat ini memberikan batas berupa rantai yang mengelilingi sekitar Menara Loji. Mengingat usianya yang tak lagi muda, dikhawatirkan akan terjadi apa-apa. Ini merupakan antisipasi dari pengelola untuk mencegah pengunjung atau kendaraan agar tidak terlalu dekat dengan menara.

Tak dipungkiri pembangunan pesat, keluar masuknya pendatang, dan hiruk-pikuk modernisasi di Jatinangor, kerap membuat kawasan pendidikan ini semakin dikenal. Namun sayangnya, segala kemajuan itu tak diiringi dengan penataan yang layak untuk situs bersejarah yang sesungguhnya amat berarti.

Lintang Amiluhur dan Ventriana Berlyanti

Mahasiswa Jurnalistik Universitas Padjadjaran

AYO BACA : Bandung Baheula: Masjid Mungsolkanas, Masjid Tertua di Bandung

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar