Yamaha NMax

Kisah Sate Maranggi yang Dipopulerkan Mak Ranggi

  Kamis, 13 Juni 2019   Dede Nurhasanudin
Heri Apandi, pemilik rumah makan Jawara Sate Maranggi Wa Heri di Purwakarta. (Dede Nurhasanudin/ayobandung.com)

PURWAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Banyak orang yang tertarik akan kelezatan makanan khas Purwakarta, yakni sate maranggi. Kuliner yang satu ini banyak dijajakan pedagang keliling, warung, dan rumah makan.

Cita rasa yang dihasilkan olahan daging ini membuat banyak orang ketagihan hingga rela kembali berkunjung ke kabupaten terkecil kedua di Jawa Barat (Jabar) ini hanya untuk menikmati kelezatan sate maranggi. Namun tidak banyak yang mengetahui asal usul atau sejarah mengapa sate maranggi bisa hadir di Kabupaten Purwakarta.

Banyak orang berpendapat jika sate maranggi sebenarnya berasal dari para pendatang dataran Tiongkok yang menetap di Indonesia, khususnya di Jawa Barat. Disebutkan pula bila awalnya sate maranggi sebenarnya bukan terbuat dari daging sapi atau kambing, melainkan dari daging babi. 

Boleh saja mereka berpendapat soal sejarah sate maranggi, namun lain halnya yang diceritakan salah satu pemilik rumah makan sate maranggi berlokasi di Jalan Raya Cianting-Plered, Kabupaten Purwakarta, Heri Apandi. Heri merupakan keturunan kelima dari si penemu Sate Maranggi, yaitu Mak Anggi atau yang akrab dipanggil Mak Ranggi pada waktu itu.

AYO BACA : Rumah Ilusi, Wisata Selfie Anyar di Purwakarta

Heri mengatakan bahwa sejarah daging ditusuk dinamai maranggi di Purwakarta berawal dari cerita daging kurban berupa daging domba yang diterima Mak Ranggi. Karena pada waktu itu belum ada lemari es, maka untuk mengawetkannya, daging domba tersebut didendeng menggunakan bumbu rempah agar dapat bertahan lama.

"Kemudian dicoba dimatangkan dengan cara dibakar dan ternyata rasanya cukup enak," kata Heri saat ditemui di rumah makan sate maranggi miliknya, Kamis (13/6/2019).

Karena cita rasanya cukup enak itu maka Mak Sarmasih, anak dari Mak Ranggi, menjajakannya di ruas Jalan Cianting yang pada waktu itu masuk ke wilayah Kecamatan Plered. Maka tak heran jika kini Kecamatan Plered dikenal dengan kuliner sate maranggi.

Ketika Mak Ranggi dan Mak Sarmasih menjual sate, kata Heri, ternyata laris manis karena banyak yang menyukai rasanya yang khas. Maka sate Mak Ranggi menjadi perbincangan dan semakin terkenal dengan sebutan Sate Maranggi.

AYO BACA : 3 Peninggalan Syekh Baim Yusuf, Penyebar Islam di Purwakarta

“Saya ini generasi kelima, di mana generasi pertama adalah Ma Ranggi dan Ma Sarmasih yang berjualan keliling," kata dia.

Heri berjualan sate maranggi berawal dari mengikuti duel maranggi yang diselenggarakan oleh Dedi Mulyadi yang pada waktu itu menjabat Bupati Purwakarta. Ia mengaku hanya iseng mengikuti duel itu. Namun modal resep asli Mak Ranggi dan ternyata keluar sebagai juara ketiga. 

"Dari situ semangat saya untuk berjualan Sate Maranggi timbul dan dibukalah rumah makan Jawara Sate Maranggi Wa Heri,” katanya.

Sejak pertama kali Heri berjualan sate maranggi, ia tidak menghilangkan resep turun temurun. Tak heran jika rasa sate maranggi Wa Heri memiliki rasa berbeda dan banyak diminati pelanggan. Apalagi jawara yang telah melekat dalam dirinya menambah namanya semakin dikenal orang banyak.

“Saya jamin rasa satenya identik dengan rasa sate yang pernah dibuat Mak Ranggi," kata Wa Heri.

AYO BACA : Festival Bedug Jadi Tontonan Gratis Warga di Purwakarta

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar