Yamaha Lexi

'Hidup Adalah Kesempatan', Kisah Penyintas Kanker Otak Bertahan Selama 11 Tahun

  Kamis, 13 Juni 2019   Redaksi AyoBandung.Com
Rosidah Avifah Nurjannah. (Dok. pribadi)

 

 

“Orang yang sedang merasakan sakit, lebih tepatnya secara jasmani dan memang benar adanya bahwa dia sakit, mereka cenderung sering mengingat kematian, banyak mengigau mengenai hari akhir, amanat, ketakutan, dan lainnya. Bukan! Bukan karena lebay dan ingin cari perhatian, tapi karena dia semakin sadar bahwa dirinya masih bertahan hanya karena kehendak-Nya, bahwa nafasnya sungguh hanya milik Allah. “  - Rosidah Avifah Nurjannah-

Usia 20 tahun adalah usia yang tepat untuk mencari jati diri, bermain dengan teman-teman se-perkuliahan atau se-pekerjaan, dan membingkai cita dan impian dengan perencanaan yang matang dan berjuang menggapainya dengan kelancaran. Namun berbeda dengan Rosidah Avifah Nurjannah atau yang sering dipanggil Avif.

Sebuah penyakit yang sudah sejak 2008 membersamai kehidupannya, yaitu Brain Cancer atau Kanker Otak. Semua kegiatan yang Avif inginkan di usianya itu sebenarnya mampu dia lakukan dengan baik, namun satu hal yang membuatnya terbatas, yaitu fisik yang lemah.

Berawal dari 2008, tepatnya saat Avif berada di bangku kelas IV Sekolah Dasar (SD). Saat itu fisik Avif sudah lemah. Ia sering mengalami kejang dan demam yang naik turun. Keluarganya sempat mengira Avif terkena Deman Berdarah (DBD).

Akhirnya Avif dilarikan ke rumah sakit dan diperiksa oleh dokter, tetapi keadaannya justru baik-baik saja. Namun, seminggu setelahnya Avif masih demam dan akhirnya dia harus dirawat di rumah sakit.

Saat dirawat, Avif kembali mengalami kejang. Keadaan Avif yang selalu kejang padahal demamnya tidak terlalu parah justru membuat dokter bertanya-tanya. Dokter kemudian mengira ada masalah dengan otaknya.

Untuk memastikan itu, Dokter melakukan tes dengan mengambil cairan sumsum tulang belakang Avif. Saat mengetahui hasil tesnya, dokter merasa aneh karena cairan sumsum tulang belakang Avif keruh. Hasil tersebut membuat Dokter semakin yakin bahwa ada masalah dengan otaknya.

Kemudian Avif melakukan tes CT Scan di Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Hasilnya, terdapat bayangan berupa gumpalan di otak Avif. Dokter Spesialis Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin menyarankan dia untuk melakukan tes Magnetic Resonance Imaging (MRI) di Rumah Sakit Santosa Bandung. Saat itulah dokter mendiagnosa Avif memiliki tumor otak.

Masa kecil Avif tidak seperti masa kecil anak-anak yang lainnya. Fisik yang lemah membuatnya sulit untuk bermain. Yang ia lakukan hanyalah duduk dan berbaring.

Namun, seorang psikolog yang menangani Avif waktu itu melihat matanya yang berbinar dan bercahaya justru meyakinkan keluarganya bahwa Avif adalah anak yang sangat aktif. Hanya, fisiknya saja yang lemah.

Setelah Avif didiagnosa mengalami tumor otak, dokter menyarankan dia untuk melakukan operasi. Pihak keluarga Avif sudah setuju dengan keputusan dokter. Sebelum melakukan operasi, ada beberapa pemeriksaan terlebih dahulu.

Ternyata saat itu dokter menemukan ada kanker otak juga di kepala Avif. Posisi tumor dan kanker berada di tengah-tengah kepala. Risiko terbesar adalah meninggal dunia di meja operasi.

Saat itu, keluarga memutuskan untuk membatalkan operasi tersebut dengan pertimbangan Avif masih kecil dan mereka pun sudah siap dengan kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi.

Keluarga memenuhi keinginan Avif yang ingin bertemu dengan teman-temannya. Avif sekolah seperti biasanya meski tidak intensif. Atas kehendak-Nya, Avif bertahan sampai kelas V SD, jauh dari prediksi dokter.  Dari sanalah keluarganya menyadari bahwa Allah ingin agar hamba-Nya berusaha, bukan hanya dengan obat.

Menginjak kelas V SD, Avif melakukan terapi juice di Jakarta, sehingga mengharuskannya bulak-balik Garut-Jakarta. Terapi ini memberikan hasil yang cukup signifikan, Avif mengalami peningkatan kondisi secara fisik. Avif mulai aktif kembali, bermain, berlari, bersepeda, dan lainnya. Namun, setiap enam bulan sekali Avif masih sering dirawat.

Saat itu, Avif masih belum mengetahui penyakit apa yang dideritanya. “Umii.. Adek sakit apa? Ko panasnya gak berhenti-berhenti?” ujar Avif kepada ibunya kala itu.

Umi Avif menjawab “Adek ada benjolan di kepala”. Jawaban Umi Avif tidak membuat puas dirinya. Akhirnya dia mencari tahu sendiri di Internet, sampai akhirnya dia menemukan kata kanker.

“Umi.. Adek tuh sakit kanker ya? Katanya hidupnya gak bakal lama lagi," ujar Avif yang kembali bertanya kepada ibunya. IbuAvif menangis. Hati seorang ibu sedih karena benar anaknya tak akan hidup lama. Sudah cukup ibu Avif menyembunyikan penyakitnya selama satu tahun.

Akhirnya beliau menjelaskan penyakitnya kepada Avif bahwa dia menderita tumor dan kanker otak. Seorang anak yang baru kelas V SD sudah menanggung pikiran seperti ini. Avif yang kritis dan polos kemudian bertanya kepada ayahnya. “Bi.. kalo udah mati tuh bakal kayak gimana?”

Ayahnya pun menjawab, “Kalau yang sholeh masuk syurga, kalau nggak yaa masuk neraka.” Avif bertanya lagi, “Kalau mau masuk syurga gimana caranya?” Ayahnyanya pun menjawab, “Salat yang rajin dek, dan ibadah lainnya”.

Setelah mendengar penjelasan ayahnya, saat itu Avif sangat rajin mendirikan salat. Pikirannya cukup sederhana, dia menyadari bahwa dia akan meninggal, dan dia ingin masuk syurga, sehingga dia harus rajin salat.

Anak seusianya yang lain mungkin hanya memikirkan bermain, namun seorang Avif mengharuskannya memikirkan tentang kematiannya dan apa saja yang ingin dilakukan dan dicapainya sebelum dia meninggal. Selama perjalanan pengobatannya, menginjak kelas VI SD, kaki kiri Avif susah digerakkan. Kedua orang tuanya sudah mengetahui bahwa jika Avif bertahan dan tidak operasi, maka dia akan kehilangan fungsi motoriknya satu persatu.

Masa SD sudah Avif lewati. Beranjak ke masa SMP yang tadinya keluarga hanya menitipkan Avif untuk sekadar bermain dan tidak dituntut untuk belajar dengan keras, ternyata justru Avif menemukan jati dirinya.

Dimulai dari masuk Organisasi Siswa Intra Sekolah (OSIS), Avif mempunyai banyak teman dan sangat suka berbicara di depan umum. Para Guru menilai Avif memang pintar secara akademik maupun non akademik.

Avif memiliki prestasi di bidang sastra seperti menjuarai lomba puisi. Para Guru justru sangat tidak setuju jika Avif didiamkan begitu saja. Mereka tahu bahwa Avif mampu untuk maju. Akhirnya keluarga dan psikolog mendukung.

Sebelumnya Avif hanya memikirkan tentang ibadah saja sebelum ajal menjemput dia. Namun saat SMP, Avif menemukan kenyamanan lain. Betapa senang saat berbicara di depan umum, diperhatikan orang banyak. Avif menyadari bahwa ada hal yang bisa dia lakukan untuk ditunjukkan kepada orang lain.

Dia juga menyadari bahwa semua orang pasti akan mati, kapanpun itu. Tinggal dia memanfaatkan waktu yang tersisa ini untuk berkarya. Saat SMP kelas VIII, Avif mulai menemukan karakternya. Dia sangat senang berpidato dan orasi. meski ia masih selalu dirawat di rumah sakit karena sering pingsan.

Saat menginjak kelas IX SMP, Avif sempat lumpuh kaki dan tangan kirinya. Selain lumpuh sebelah, Avif mengalami komplikasi penyakit. Selain tumor dan kanker, dia juga mengidap maag, penyakit jantung, serta kerusakan di telinga kiri yang mengharuskan dia memakai alat pendengar.

Masa SMP adalah masa di mana Avif sudah tidak memikirkan kematian dan berbagai persiapannya. Namun saat itu adalah masa di mana dia sudah menentukan ingin menjadi apa dia di masa depan nanti.

Kelumpuhan yang terjadi pada Avif mengakibatkan saraf-sarafnya terganggu. Dokter kembali menyarankan untuk operasi. Namun Avif menolaknya karena dia berpikir jika dia dioperasi kemungkinan besar akan meninggal dan impiannya cukup sampai di sana saja.

Jika menunda untuk dioperasi maka kesempatan untuk menggapai cita-citanya masih ada walaupun harus selalu pingsan, setidaknya Avif masih bisa berjalan. Karena Avif ingin memberikan manfaat bagi orang banyak, Avif ingin orang lain mengenang namanya dan tahu akan karya-karyanya jika dia sudah tiada nanti.

MAN 1 Garut, sekolah sekaligus tempat perjuangan Avif berikutnya. Avif sudah banyak mengikuti dan aktif berbagai organisasi dan komunitas, di antaranya Forum Silaturahmi OSIS Se-Garut Timur, Yayasan Kanker Indonesia, Komunitas Cinta Baca, dan Sastrawan Garut.

Avif merasa dia mendapatkan perlakuan yang berbeda dari orang lain yaitu dikasihani termasuk oleh keluarganya sendiri yang hanya menitipkannya ke sekolah untuk bermain, tak masalah jika tidak naik kelas dan di anak bawangkan. Avif tidak ingin mendapatkan perlakuan seperti itu.

Faktanya, Avif mampu bersaing di sekolahnya. Nilai akademiknya lagi-lagi bagus dan sangat layak untuk naik kelas. Avif tidak ingin teman-temannya menyayanginya hanya karena kasihan. Meskipun itu suatu kewajaran secara umum

Perasaan itu membawa Avif pada keputusan untuk melakukan operasi saja. Avif meminta kepada dokternya yang sudah dia anggap sebagai sahabat sendirinya itu untuk melakukan operasi. Dokter kembali menjelaskan resikonya bahwa hasilnya 50% dan 50%. Avif menegaskan kepada Dokter bahkan dia sudah siap dari SD jika Allah cabut nyawanya. Keluarganya tidak bisa menentang keinginannya karena Avif memang sudah dewasa, sudah bisa memutuskan perkara dengan sendiri.

Pada 11 Maret 2016 tepatnya kelas XI SMA, Avif melakukan operasi pertama dan kondisi Avif dalam keadaan sehat. Avif merasa keputusannya ini adalah tepat, inilah saatnya dia mencoba.

Tidak ada rasa takut sedikit pun dan siap untuk resiko terburuknya. Namun ada satu hal yang Avif merasa belum sempat dia lakukan yaitu membahagiakan kedua orang tuanya. Avif merasa berat meninggalkan kedua orang tuanya, khususnya ibunya.

Akhirnya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Avif atas apa yang belum sempat ia lakukan untuk orang tuanya itu. Operasi pertama berhasil dan nyawanya selamat.

Namun Avif mengalami trauma pasca operasi sehingga memorinya sulit mengingat nama orang dan kejadian. Kanker dan tumor yang ada dalam otak Avif tidak sepenuhnya diambil karena posisinya yang menempel pada batang otak dikhawatirkan jika diambil akan sangat berbahaya.

Hingga akhirnya Avif kini sudah mulai dewasa dan berkuliah di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Garut. Ranah perkuliahan sangat membentuk minat dan bakat dirinya. Hingga Avif banyak mengikuti kepanitiaan dalam acara-acara yang besar.

Terlebih Avif sudah memiliki sahabat yang ia jadikan tempat curhat selain dokternya. Semakin dewasa maka semakin banyak pula pikiran yang memadati otaknya. Dari mulai perkuliahan, Avif ingin pintar dan berprestasi di kampusnya, dan itu berhasil ia realisasikan dengan giat belajar dan berlatih.

Sempat ada konflik dalam persahabatannya yang membuat ia justru menjadi beban pikirannya dan menjadikannya selalu pingsan ditambah penyakit asma yang kini dideritanya. Rasa kesal dan amarah lah yang membuat kanker dan tumor di otaknya justru semakin membesar.

Hingga pada 20 Maret 2018 tepatnya saat Avif akan baranjak ke tingkat 2 perkuliahan, kondisi Avif justru semakin memburuk. Lagi-lagi Dokter menyarankan untuk operasi. Bedanya, saat operasi pertama Avif siap untuk meninggal.

Namun saat itu Avif tidak siap dengan operasi kedua, karena belum sepenuhnya membahagiakan kedua orang tuanya dan saat itu adalah puncak Avif untuk berprestasi dan memuaskan bakatnya. Avif merasa operasi kedua ini semakin mendekatkannya kepada kematian.

Sebelum Avif operasi, dia ingin bertemu dengan orang-orang yang saat itu sangat ingin dia temui. Avif juga sempat membuat beberapa tulisan berisi perpisahannya untuk orang-orang yang disayangi. Khususnya untuk ibunya, Avif sangat menyayangi dan dekat sekali dengan ibunya.

Avif banyak menitipkan ibunyake orang-orang terdekatnya. Setidaknya ada yang menggantikan dirinya walaupun hati tidak siap melepaskannya. Intinya Avif tidak siap untuk meninggalkan kedua orang tuanya.

Tuhan sangat menyayangi Avif, sangat.. Karenanya Tuhan masih memberikan kehidupan kepadanya. Operasi kedua berhasil. 90% kanker dan tumornya terangkat. Namun Avif harus menjalani rehab medis karena sebelum operasi kedua dia dalam kondisi tidak baik.

Avif harus menjalani sinar radiasi sebanyak 25 kali untuk mengatasi sisa dari tumor dan kankernya. Walaupun begitu efek dari sinar radiasi lebih membuatnya lemah karena memengaruhi sistem imunitas dirinya.

Saat ini Avif masih terbaring dan ke depannya jika Tuhan menghendaki, dia akan berusaha membahagiakan kedua orang tuanya semaksimal mungkin sebelum meninggal nanti. Dokter menyatakan kondisi pengidap kanker dan tumor jarang yang bertahan seperti Avif. Bisa menjalani dua kali operasi merupakan keajaiban dari Tuhan. Bagi Avif,  mungkin Tuhan masih memberikan kesempatan untuk menggapai segala impiannya.

Salah satu impian terbesarnya adalah ingin ibunyaada di panggung saat dia diwisuda nanti karena prestasinya. Banyak hal yang membuat Avif bertahan, pertama adalah semangat keluarga, kedua lebih mengetahui mana orang yang tulus padanya dan yang akan aku banggakan juga nanti, ketiga Avif ingin berbagi cerita dengan sahabat-sahabatnya hingga nanti sahabat-sahabatnya menceritakannya kepada anak-anaknya, dan keempat Avif berpikir Tuhan pasti mempunyai tujuan mengapa dia diberikan sakit.

“Denyutan dalam kepalaku aku anggap sebagai belaian dari Tuhan, salah satu caraku berkomunikasi dengan-Nya melalui dzikir, dan aku merasa sangat dekat dengan-Nya. Teruntuk orang yang sehat,  bukan bahagia yang membuatmu syukur, tapi syukur yang membuatmu bahagia. Hal sepele pun jika kita tidak bersyukur maka tidak akan istimewa. Namun jika bersyukur, maka itu sangat luar biasa. Dan teruntuk teman sesama penginap cancer, Tuhan memberika kekuatan yang berbeda untuk kita. Kita pasti menjadi kebanggaan bagi orang-orang tertentu. Dulu aku berpikir aku adalah beban, namun saat ini aku merasa mereka bangga dengan adanya kita,"  pesan Avif diakhir wawancara saat ditemui di kediamannya di Karangpawitan, Garut.

 

Mia Helmiyani

Mahasiswi Jurnalistik Unpad

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini.

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar