Yamaha Lexi

Milisi Sudan Bantai dan Perkosa Demonstran Pro-Demokrasi

  Kamis, 13 Juni 2019   Fira Nursyabani
Para demonstran Sudan meneriakkan slogan-slogan ketika mereka berdiri di atas papan reklame yang robek dalam sebuah demonstrasi yang menuntut Presiden Sudan Omar Al-Bashir untuk mundur, di luar Kementerian Pertahanan di Khartoum, Sudan 9 April 2019. (REUTERS)

KHARTOUM -- Anggota milisi Sudan melakukan pembantaian dan pemerkosaan massal saat mereka menyerang kamp demonstran pro-demokrasi di ibu kota Khartoum, Rabu (12/6/2019). Petugas keamanan mendapatkan laporan 70 kasus pemerkosaan dalam aksi keji tersebut.

Serangan itu diduga dilakukan oleh anggota milisi Rapid Support Forces. Kelompok ini dikenal brutal dan pernah menjadi akar dalam konflik di wilayah barat Darfur, Sudan, yang dimulai pada 2003.

Di rumah sakit Royal Care, seorang dokter mengatakan ia tengah merawat lima perempuan dan tiga laki-laki korban perkosaan. Sementara di rumah sakit lainnya di selatan Khartoum, sebuah sumber medis mengatakan mereka telah menerima dua korban perkosaan.

AYO BACA : Iran Cap Semua Tentara AS di Timur Tengah Sebagai Teroris

Lebih dari 100 orang tewas ketika pasukan keamanan membubarkan demonstrasi pro-demokrasi pada 3 Juni lalu, dan sekitar 700 orang lainnya terluka. Sudan berada dalam kekacauan setelah Omar al-Bashir, presiden terkuat Sudan selama 30 tahun ini berhasil digulingkan dari jabatannya pada April lalu.

Al-Bashir telah menjadi target pengadilan kejahatan perang internasional karena kekejamannya saat perang saudara di Darfur. Dia merebut kekuasaan dalam kudeta pada 1989, dan entah bagaimana berhasil melewati krisis nasional yang tak terhitung jumlahnya.

Dewan HAM PBB telah mengeluarkan peringatan tentang situasi HAM di Sudan. PBB menyerukan penyelidikan independen terhadap pelanggaran HAM yang menyasar para demonstran.

AYO BACA : Pemimpin Arab Kutuk Sikap Amerika Terkait Wilayah Golan

Penyelidikan independen dilaporkan baru akan dibentuk oleh Dewan HAM PBB pada 24 Juni mendatang. Saat ini terdapat laporan bahwa ada 19 anak yang ikut tewas dalam kekacauan selama unjuk rasa.

"Kami telah menerima informasi bahwa anak-anak ditahan, direkrut untuk bergabung dalam pertempuran dan dilecehkan secara seksual," ujar Direktur Eksekutif Unicef, Henrietta Fore.

“Sekolah, rumah sakit, dan pusat kesehatan telah menjadi target, dijarah dan dihancurkan. Petugas kesehatan diserang hanya karena mereka melakukan pekerjaan mereka," tambah Fore.

Pasukan Forces for Declaration of Freedom and Change, yang mewakili para demonstran, telah meminta orang-orang untuk pulang ke rumah dan kembali bekerja. Sebelumnya mereka telah melakukan mogok kerja selama 3 hari.

Toko-toko sudah mulai dibuka dan lalu lintas turut kembali ke kesibukan normalnya di Khartoum. Keputusan untuk mengakhiri protes diumumkan guna menghindari ekskalasi lebih lanjut, setelah mereka menghadapi kekacauan selama sepekan.

Sudan mengalami perang saudara pada 2003 ketika pasukan pemerintah dituduh menindas populasi non-Arab di Darfur. Perang saudara yang terjadi kemudian mendapat perhatian dunia dan membuat ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal.

AYO BACA : Situasi Dunia Setelah ISIS Berakhir

  Tag Terkait

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar