Yamaha Mio S

200 Pendamping UMKM Juara Ikuti Bimtek

  Rabu, 12 Juni 2019   Dadi Haryadi
Bimbingan Teknis Pendampingan UMKM. (istimewa)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM--Sebanyak 200 pendamping UMKM Juara mengikuti Bimbingan Teknis Pendampingan UMKM Naik Kelas bagi pendamping yang terbagi dalam 2 (dua) gelombang. Masing-masing gelombang terdiri dari 100 pendamping dan mengikuti Bimtek pada 11-12 Juni 2019 dan 12-13 Juni 2019 bertempat di Hotel Haris Fox Lite Metro Bandung.

Menurut Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil (KUK) Provinsi Jawa Barat, Kusmana Hartadji, kegiatan bimtek ini untuk memberikan pemahaman dan penyiapan SDM para pendamping dalam mengembangkan dan membantu pelaku usaha untuk lebih meningkatkan kinerja usahanya.

“Terpenting melalui Bimtek ini adalah penyamaan persepsi dari para pendamping. Kalau dari pengalaman saya yakin yang terpilih menjadi pendamping adalah orang-orang yang kompeten dibidangnya. Mereka menjadi pendamping UMKM juara melalui proses seleksi yang cukup ketat oleh tim juri yang berlibatkan berbagai komponen seperti akademisi, Kadin, asosiasi dan stakeholder UMKM lainnya,” kata Kusmana.

Selain itu, melalui Bimtek ini untuk meningkatkan kemampuan para pendamping dalam melakukan pendampingan dan pelaporan hasil pendampingan kepada pelaku usaha. Narasumber pada Bimtek ini diantaranya Wawan Dhewanto (Akademisi SBM ITB), Meriza Hendri (Universitas Widyatama), Bambang Tris Biantoro (praktisi/Kadin), Sri Maftuhah (ABGCM Jabar), Edwar Fitri dan Mohamad Ridwan (lembaga pendampingan).

Pendampingan merupakan bagian dari Program UMKM Naik Kelas atau UMKM juara Dinas KUK Provinsi Jawa Barat. Para pendamping ini nantinya akan mendamping  UMKM Naik Kelas hasil seleksi. Seperti kita ketahui bersama Dinas KUK Jabar akan merekrut sebanyak 2.500 UMKM naik kelas.

Proses pendaftaran dilakukan melalui online dengan persyaratan salahnya UMKM harus memiliki omset Rp300 juta per tahun. Namun, hingga penutupan jumlah yang mendaftar sangat minim. Kebanyakan UMKM tidak memenuhi persyaratan dengan alasan omzet Rp300 juta terlalu berat.

Untuk menggenjot target jumlah peserta, program UMKM Naik Kelas mempermudah persyaratan. Jika sebelumnya calon peserta harus memiliki omzet minimal Rp300 juta per tahun, kini diturunkan menjadi Rp100 juta.

Kusmana Hartadji, mengatakan, berdasarkan data 2013 jumlah pelaku usaha kecil yang beromzet Rp300 juta ke atas sebetulnya berjumlah 150.000. Namun, menurut dia, minat mereka untuk mendapatkan pendampingan tidak seantusias pelaku usaha mikro yang omzetnya di bawah Rp300 juta.

AYO BACA : Dicari 2.500 Wirausahawan untuk Ikut UMKM Juara Jabar

Target Dinas KUK Jabar untuk program ini sebetulnya menyasar pelaku usaha kecil yang memiliki omzet di atas Rp300 juta per tahun. Namun, karena jumlah pendaftar dari pelaku usaha skala kecil dinilai kurang bagus, Dinas KUK Jabar menurunkan persyaratan minimal omzet menjadi Rp200 juta per tahun. Kemudian, persyaratannya kembali diturunkan menjadi Rp100 juta per tahun.

Setelah menjadi Rp100 juta per tahun responnya cukup baik. Pada batch I ini tercapai 1.247 peserta dari target 2.500 UKM sepanjang 2019. Paruh kedua tahun ini akan kembali dibuka batch II, ujarnya.

Sebagian besar peserta yang mendaftar program teersebut adalah UMKM  yang bergerak di bidang usaha makanan dan minuman. Sementara posisi kedua terbanyak ditempati UMKM fesyen.

Melalui program tersebut, menurut Kusmana, peserta akan dibimbing dan didampingi untuk bisa naik kelas. Indikator naik kelas yang ia maksud adalah mencapai kenaikan aset dan omzet usaha. Peserta program tersebut akan mendapatkan pendampingan selama enam bulan. Mereka juga akan mendapatkan fasilitas pelatihan, temu bisnis, benchmarking, dan promosi, baik di dalam maupun luar negeri, katanya.

Ia mengaku berharap, melalui program tersebut, UMKM peserta bisa menemukan solusi dari beragam persoalan yang selama ini mengganjal mereka untuk naik kelas. Menurut dia, berdasarkan identifikasi di lapangan, banyak faktor yang kerap menghambat UMKM untuk bisa meningkatkan kapasitas usahanya.

Banyak, ya, mulai dari permodalan, pemasaran. Ada juga teknologi, manajemen usaha, hingga digitalisasi. Melalui program ini mereka akan didampingi untuk mencari solusi dari persoalan tersebut, ujarnya.

Untuk pendamping, Dinas KUK merekrut 200 orang pendamping. Mereka mendapatkan bimbingan teknis sebelum resmi diterjunkan sebagai pendamping dalam program UMKM Juara.

Selain menjadi pendamping, menurut Kusmana, untuk batch II, mereka juga dituntut untuk bisa merekrut UKM menjadi peserta program. Ia menargetkan, batch II akan diikuti lebih dari 1.250 UMKM Jabar.

AYO BACA : UMKM Jabar Masih Terhambat Pemasaran

   Ayo Bagikan!
Ayo Respon

   Komentar